DATARIAU.COM - Warga Perumahan Taman Bona Indah Lebak Bulus Cilandak Jakarta Selatan tiba-tiba digegerkan oleh kejadian pembunuhan yang diduga dilakukan oleh seorang remaja berusia 14 tahun berinisial MAS terhadap ayah dan neneknya, APW (40 tahun) dan RM (69 tahun). Selain itu, ibu pelaku juga menjadi sasaran dan mengalami kritis seusai ditusuk oleh korban dengan pisau. [Republika.co.id, (30/11)]
Untuk kesekiankalinya, kasus anak membunuh orang tua ini menjadi rentetan kasus fenomenal yang insane, dimana anak jadi berhadapan dengan hukum (ABH). Hal ini memberikan konsekuensi yang krusial bagi interpretasi kita tentang dinamika psikologis pada hubungan entitas terkecil dalam suatu masyarakat yaitu keluarga.
Publik kemudian jadi bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang melatarbelakangi terjadinya tindakan ekstrem ini?
• Apakah akumulasi dari tekanan psikologis, emosional dan lingkungan membuat kekerasan telah menjadi habit dalam masyarakat kontemporer?
• Apakah negara telah gagal dalam menjalankan fungsinya untuk menyelenggarakan sistem edukasi dengan visi membina kepribadian dan menjaga kesehatan mental generasi?
• Atau apakah memang sistem hari ini yang nyata telah merusak fitrah manusia sehingga mengubah karakter masyarakat menjadi masyarakat yang brutal?
Sungguh publik butuh diyakinkan dengan mengetahui semua jawaban dari pertanyaan-pertanyan tersebut.
Peranan Agama dalam Kehidupan
"Agama itu seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa semakin baik akhlaknya maka semakin baik pula agamanya" (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)
Pernahkah sesaat terimajinasikan di dalam pikiran jika kita sebagai manusia hidup di dunia ini tanpa agama. Apakah yang akan terjadi? Ya, chaos. Manusia akan hidup sesuka hatinya, mengikuti gharizahnya (hawa nafsu) tanpa ada yang mengaturnya.
Contohnya, tidak ada lagi yang akan mengatur tentang perkawinan karena manusia akan hidup seperti binatang. Siapa yang dia suka akan dia kawini, tak perduli itu anak, abang, kakak, adik bahkan ayah atau ibu sekalipun karena cuma agama yang mengatur secara detil bagaimana hukum pernikahan.
Jika meninggal dunia, tidak akan ada lagi yang akan mengatur bagaimana layaknya seorang manusia harus menjalani prosesi pemakaman, cukup gali lubang lalu masukkan dan timbun persis seperti binatang karena cuma agama yang mengatur secara detil bagaimana hukum pemakaman jenazah.
Lalu adab dan akhlak, jika hanya hidup berlandaskan etika apa yang baik dan buruk menurut persepsi seorang manusia maka standar baik dan buruk itu pasti tidak akan konsisten dalam implementasinya karena akan selalu ada gharizah dan conflict of interest yang ikut campur di dalam prosesnya.
Demikianlah pentingnya agama mengatur kehidupan seorang manusia, dari sejak manusia itu lahir, atau bahkan sejak dari bangun tidur sampai cara membangun sebuah negara.
Sistem Sekuler dalam Masyarakat Kontemporer
Sistem sekuler kapitalis yang konsentrasi primernya terletak pada logika berfikir secara rasionalitas dan materialisme semata, sering kali mengabaikan nilai-nilai spiritual dan etika yang sangat urgensi dalam kehidupan manusia.
Bahkan sistem sekuler semakin mendominasi banyak aspek kehidupan di era 5.0 atau Society 5.0 saat ini, baik itu pendidikan, politik atau bahkan budaya. Sekularisme yang bertujuan untuk memisahkan agama dari urusan publik dan pemerintahan, dampaknya sering kali berujung pada pembentukan generasi yang mengalami distorsi moralitas dan iman dan bahkan mendesain karakter generasi yang cenderung sadis.
Hal ini menciptakan ruang bagi perilaku antisosial di dalam kehidupan masyarakat kontemporer dimana individu tidak lagi merasa terikat pada nilai-nilai moral yang inklusif dan komprehensif yang seharusnya menjadi panduan pada setiap tindakan mereka.
Generasi Sadis, Minim Akhlak dan Mandul Akidah
"Apabila kamu melihat perkara yang tidak kamu sukai pada anakmu, memohonlah kepada Rabb-mu untuk mencabut hukuman-Nya darimu, dan bertaubatlah kepada-Nya atas dosa-dosamu karena keburukan anakmu adalah teguran untukmu" (Hasan Al-Basri Rahimahullah)
Dekadensi moral pada generasi sering kali teraktualisasi pada perilaku remaja yang terpengaruh oleh platform digital dan environment yang mengedepankan kekerasan dan entertainment yang menistakan.
Ketika kemudian nilai-nilai kemanusiaan menjadi terabaikan, generasi muda akan dengan mudah menjadi kehilangan empati dan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain, yang kemudian menyebabkan munculnya perilaku sadis yang minim akhlak, mandul akidah, apatis dan amoral.
Tanpa akidah, peran krusial sebagai benteng pertahanan yang kokoh dalam menghadapi derasnya arus informasi dan imbas invasi westernisasi hanyalah utopis. Akidah yang ringkih akan membuat generasi muda kehilangan kapabilitas untuk memfilter mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang relevan dengan ajaran agama dan mana yang kontradiksi.
Jika pendidikan agama ambigu, maka akan terjadi disintegrasi nilai-nilai moral dan spiritual ke dalam pendidikan dan kehidupan. Dimana generasi berikutnya akan memiliki persepsi bahwa pengajaran tentang ibadah hanyalah ritual semata dan bukan merupakan landasan yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan.
Oleh karena itu menjadi urgensi agar akidah yang benar tidak hanya sebatas menjadi dogma yang abstrak, tetapi juga harus terinternalisasi dalam setiap rutinitas aktivitas.
Solusi Islam
“Imam itu pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus" (HR Bukhari dan Ahmad)
Dalam kehidupan, Islam selayaknya dapat diimplementasikan secara universal karena Islam secara perspektif memandang penguasa sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi rakyat, dimana rakyat adalah amanah.
Dalam sistem pendidikan Islam, kurikulumnya selalu berbasis pada akidah Islam yang ditujukan untuk membentuk generasi terbaik yang berkepribadian islami. Sementara strategi pendidikannya adalah untuk membentuk aqliyah dan nafsiyah Islam. Aqliyah dan nafsiyah merupakan dua aspek yang krusial dalam membentuk kepribadian seseorang dalam Islam.
Adapun pengertian aqliyah dan nafsiyah itu sendiri adalah sebagai berikut:
• Aqliyah Islamiyah merupakan pola pikir yang menjadikan Islam sebagai tolak ukur umum dan mengembalikan realitas yang dihadapi kepada aqidah Islam.
• Nafsiyah Islamiyah merupakan pola sikap yang menjadikan Islam sebagai tolak ukur umum dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri berdasarkan kaidah Islam.
Jika seseorang menjadikan akidah Islam sebagai asas bagi aqliyah dan nafsiyah-nya, maka kepribadiannya disebut syakhshiyah Islamiyah.
Terakhir, generasi muda yang memiliki kecerdasan intelektual dan berakidah kuat akan selalu merasa terkoneksi dengan Rabb-nya yakni Allah Subhanahu Wata’ala dimanapun dan kapanpun, sehingga segala tindakannya akan selalu diarahkan untuk mencari ridho-Nya.
Bahkan ketika mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit, akidah akan menjadi kompas moral yang membantu mereka menemukan solusi.
Akidah harus diedukasikan dengan cara yang relevan dengan kehidupan antar lintas generasi saat ini, sehingga mereka tidak hanya sekadar hafal konsep, tetapi juga mampu menginternalisasi dan merealisasikannya dalam tindakan yang real.
Penutup
"Bukan tentang apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu, melainkan apa yang kamu tinggalkan dalam diri anak-anakmu" (Anonim). Wallaahu'alam bissawab.***
*) Penulis merupakan Pegiat Literasi, Dumai - Riau