Kecurangan UTBK: Ada yang Salah dengan Sistem Pendidikan Kita

Oleh : Khairul Bariah
datariau.com
577 view
Kecurangan UTBK: Ada yang Salah dengan Sistem Pendidikan Kita
Ilustrasi. (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Saat ini dunia pendidikan tanah air sangat memprihatinkan. Pasalnya, publik tengah dihebohkan dengan dugaan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2025. Dalam dua hari pertama ujian, panitia menemukan total 14 kasus kecurangan yang melibatkan para peserta.

Pada Rabu (23/4/2025), hari pertama UTBK berlangsung, Tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mencatat sembilan kasus kecurangan. Lalu, pada hari Kamis (24/4/2025), tercatat ada lima kasus.

Ketua Umum Penanggung Jawab SNPMB, Prof Eduart Wook, mengatakan jika dilihat dari total peserta yang hadir sebanyak 196.328 ada temuan kecurangan sebanyak 0,0071% kasus. Memang sangat kecil, tetapi sekecil apapun kecurangan, kami tidak akan mentolerir. (kompas.com, 25/4/2025).

Dalam hal ini Panitia SNPMB menyatakan kekecewaannya dan mengecam kecurangan tersebut karena dianggap mencederai nilai keadilan dan kejujuran dalam integritas pada seleksi nasional.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis laporan Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024. Dalam survey tersebut, KPK menelusuri tingkat kejujuran akademik siswa di sekolah dan mahasiswa di kampus. KPK menemukan banyak kasus menyontek dan ketidakjujuran akademik lainnya yang dilakukan pelajar.

Menurut Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Dadan Wardana, dalam kejujuran akademik, kasus menyontek masih ditemukan pada 78% sekolah dan 98% kampus. Dengan kata lain menyontek masih terjadi pada mayoritas sekolah maupun kampus. (detik.edu, 25/4/25)

Kalau ditelusuri lebih jauh, problem dunia pendidikan di lapangan lebih banyak lagi dan beragam. Kasus yang terjadi di dunia pendidikan mulai dari bullying, pelecehan seksual, kurangnya fasilitas yang memadai, korupsi yang dilakukan oleh oknum-oknum di dunia pendidikan serta masih banyak kasus lagi.

Hal ini terjadi karena Negara yang menganut sistem kapitalis abai dalam menjalankan perannya sebagai pengayom rakyat. Padahal negaralah yang seharusnya paling bertanggung jawab dalam mewujudkan generasi emas.

Ironisnya, sistem kapitalis sekuler yang diterapkan saat ini justru menjauhkan anak-anak dari nilai-nilai agama. Bahkan menganggap bahwa agama akan mengekang mereka. Dalam sistem kapitalis, kehadiran dan tanggung jawab Negara sangat minim.

Terbukti dari minimnya anggaran pendidikan. Hal ini tentu mengakibatkan Negara tidak mampu membangun sarana prasarana pendidikan yang memadai sesuai kebutuhan, sehingga sulit mencari sekolah maupun kampus yang bagus. Kalaupun ada, biayanya tak terjangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Jadilah anak-anak sekolah di tempat yang minim fasilitas dan kualitas, baik dari sisi pengajar maupun pola pengajaran di sekolah. Kondisi ini memicu para siswa berbuat curang demi mendapatkan nilai bagus sebagai kunci untuk memasuki jejang pendidikan berikutnya.

Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler


Dalam sistem kapitalis, pendidikan diterapkan dengan berbasis sistem pendidikan sekuler. Akibatnya Negara terbukti gagal melahirkan generasi emas serta generasi yang beriman dan bertakwa. Tindakan menyontek, bullying, serta tindakan kriminal lainnya seolah menjadi menu keseharian.

Hal ini mengkonfirmasi pemerintah terbukti gagal menjalankan misi mencerdaskan bangsa. Apalagi misi mewujudkan generasi yang beradab. Pemerintah juga telah gagal melindungi pelajar dari berbagai ancaman tindakan kekerasan.

Dalam sistem pendidikan sekuler, fungsi agama diabaikan. Serta menihilkan peran agama dan mengabaikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, akibatnya pelajar tidak lagi merasa bersalah apabila melakukan tindak kecurangan dalam hal mendapatkan nilai yang bagus serta bisa masuk ke sekolah yang mereka inginkan.

Dominasi sistem pendidikan sekuler di negeri ini jelas merupakan malapetaka. Malapetaka yang menonjol adalah lahirnya generasi-generasi sekularistik (yang jauh dari agama). Karena jauh dari agama mereka sangat rentan menjadi generasi amoral, bahkan pelaku kriminal.

Pendidikan dalam Islam


Pendidikan adalah pilar penting sebuah peradaban. Untuk menilai baik buruknya sebuah peradaban suatu bangsa maka lihatlah bagaimana generasinya. Jika generasinya rusak, maka peradaban tersebut tidak layak untuk dijadikan contoh. Peradaban kapitalisme melahirkan banyak generasi “sampah” contohnya di Amerika, Jepang, Korea dan Eropa.

Sekalipun disebut sebagai Negara maju dengan kecanggihan teknologinya, hal itu tidak diimbangi dengan kualitas karakter generasi. Tindakan bullying, kekerasan seksual, pergaulan bebas merajalela, perzinaan membudaya, serta angka bunuh diri sangat tinggi. Inikah yang disebut negara maju dan beradab? Jelas tidak.

Sistem pendidikan Islam memiliki karakteristik yang didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Tujuan utamanya adalah membentuk kepribadian Islam pada peserta didik. Kepribadian Islam sebagai hasil dari pendidikan Islam memiliki dua karakter yaitu pola pikir Islam dan pola sikap Islam.

Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan. Tatapi lebih ke pemahaman bahwa ilmu yang didapatkan akan diterapkan dalam kehidupan dan menjadikan pelajar memahami dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Alhasil mereka mampu mengontrol perbuatan mereka sesuai dengan hukum syariat Islam, bisa membedakan perbuatan halal dan haram serta perbuatan terpuji dan tercela dalam tingkah lakunya. Sehingga pelajar tidak perlu resah atau galau untuk mendapatkan pendidikan terbaik.

Disamping pendidikan berdasarkan akidah Islam, negara juga harus hadir secara penuh melaksanakan tanggung jawabnya. Menjadikan Negara sebagai poros utama pelaksana pendidikan serta pelayan umat. Sejarah telah membuktikan bahwa Islam pernah menjadi mercusuar peradaban seantero dunia.

Pada masa kekhilafahan Abbasiyah, para guru digaji besar perbulan dan sarana pendidikan menjadi yang terdepan pada masanya. Hingga melahirkan banyak ilmuan muslim yang menerbitkan banyak karya. Maka telah menjadi bukti nyata bahwa sistem Islam mampu menghasilkan kualitas pendidikan nomor satu dengan makanisme pendidikan sesuai dengan syari’at Islam. Wallahu a’lam. ***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)