Darurat KDRT dan Kekerasan Remaja: Buah Penerapan Sistem Kapitalisme

Oleh: Alfiah, S.Si
datariau.com
1.284 view
Darurat KDRT dan Kekerasan Remaja: Buah Penerapan Sistem Kapitalisme
Ilustrasi. (Foto: int)

DATARIAU.COM - Kekerasan dalam rumah tangga kian marak terjadi. Hampir setiap hari kita disuguhi oleh beragam berita kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan suami terhadap istri atau sebaliknya, kekerasan ayah pada anaknya, kekerasan istri pada anaknya, kekerasan anak pada orangtuanya, atau kekerasan cucu pada neneknya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman dan terlindung, justru bak neraka yang menakutkan. Suami atau istri yang seharusnya menjadi sahabat, justru menjadi musuh yang tak boleh selamat, anak seolah beban, dan orang tua dianggap ancaman. Apa lagi yang diharapkan oleh keluarga seperti ini?

Baru-baru ini kita dibuat merinding dengan kasus penemuan jasad seorang wanita yang hangus terbakar di wilayah Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang. Polisi memastikan bahwa pelaku pembunuhan adalah FA (54), suami siri korban bernama Ponimah (42). Remaja 16 tahun di Pacitan, Jawa Timur tega membacok nenek angkatnya karena sakit hati disebut sebagai cucu pungut. Akibatnya, korban mengalami luka serius dan harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD dr Darsono Pacitan.(beritasatu.com, 16/10/2025).

Masih banyak kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menguras emosi dan akal sehat kita. Belum lagi kita disuguhi oleh kasus-kasus kekerasan yang melibatkan remaja. Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Jakarta misalnya. Seorang remaja berusia 16 tahun di Kelurahan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, tega membunuh anak perempuan berusia 11 tahun yang sebelumnya ia cabuli. Hanya alasan sakit hati karena ibu korban menagih utangnya. Sementara di Grobogan, seorang pelajar SMP meninggal karena dikeroyok teman sekolah. Pihak sekolah mengaku tidak tahu karena pengeroyokan terjadi saat jam istirahat.(beritasatu.com, 15/10/2025)

Luar biasanya, kasus KDRT di Indonesia mencapai 10.240 perkara per 4 September 2025. Ini berarti lebih dari 1.000 kasus yang dilaporkan ke polisi setiap bulannya. (goodstats.id, 14/9/2025). Keretakan dan kekerasan dalam keluarga jelas berdampak langsung pada perilaku remaja yang kian tidak terkendali hingga memicu meningkatnya kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja.

Sederet potret buram KDRT dan kekerasan pada remaja menjadi bukti kegagalan sistem Kapitalisme yang diterapkan, sistem yang menyingkirkan nilai agama dari kehidupan. Keluarga-keluarga kehilangan arah dan landasan takwa serta tanggung jawab moral. Tepuk sakinah yang dikampanyekan agar rumah tangga harmonis, relevansinya jelas dipertanyakan untuk mengatasi problem ekonomi da sosial dampak dari sistem sekuler yang kapitalistik. Sistem pendidikan sekuler-liberal melahirkan generasi-generasi yang bebas nilai dan jauh dari norma agama sosial.

Keluarga yang merupakan benteng terakhir dirusak oleh pemikiran yang menjadikan materi sebagai standar. Segala sesuatu diukur dengan materi. Rumah yang bagus, kendaraan yang bagus, pekerjaan yang mapan, suami atau istri yang good looking dianggap sebagai standar kebahagiaan. Sehingga jika tolok ukur itu belum terpenuhi maka ia menganggap dirinya orang yang paling menderita di dunia. Banyak yang hanya mengejar kebahagiaan atau kesenangan duniawi yang sesaat, sehingga sedikit saja tekanan hidup mudah memicu keretakan dan kekerasan.

Ironisnya negara abai terhadap problem serius yang dialami keluarga dan remaja. Kalaupun ada solusi yang diberikan, solusinya pun setengah hati. Tidak mampu menghentikan akar masalah. Padahal untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan remaja dibutuhkan peran dari berbagai elemen yaitu sekolah, keluarga, masyarakat dan negara. Keseluruhannya bertanggungjawab dalam membentuk kepribadian yang baik pada remaja, kepribadian yang dibangun dibatas iman dan takwa.

Keluarga adalah institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Anak dibimbing orangtuanya bagaimana mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta. Kalau di keluarga saja anak-anak menyaksikan kekerasan di depan matanya, maka tentu akan berpengaruh besar terhadap mental dan psikologi mereka. Untuk itulah diperlukan bekal keimanan dan ketakwaan dalam membangun rumah tangga.

Masyarakat mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan, karena remaja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Masyarakat berperan penting sebagai kontrol sosial. Penerapan sistem sosial Islam akan menciptakan masyarakat yang aman, tentram dan jauh dari tindakan kriminal.

Peran yang paling penting dan strategis dalam mencegah KDRT dan kenakalan remaja adalah negara melalui pemberlakuan sistem pendidikan Islam, sistem ekonomi Islam dan sistem sanksi dalam Islam. Sistem pendidikan Islam akan membentuk kepribadian bertakwa dan berakhlak mulia. Syariat Islam dalam membangun keluarga akan mengokohkan keluarga, menata peran suami-istri dan mencegah KDRT sejak awal. Sistem ekonomi Islam akan menjamin kesejahteraan dan keadilan sehingga keluarga tidak tertekan ekonomi karena tingginya kasus KDRT banyak yang disebabkan oleh faktor ekonomi.

Terakhir hukum sanksi dalam Islam yang ditegakkan oleh negara terbukti efektif memberikan efek jera terhadap pelaku kekerasan atau kejahatan. Negara juga wajib menindak tegas hal-hal yang bisa merusak generasi, terutama media yang memberi pengaruh buruk terhadap keluarga dan generasi.

Peran negara seperti ini tidak akan terwujud dalam tatanan sistem yang kapitalis saat ini. Hanya negara yang menerapkan Islam secara kaafah (menyeluruh) yang mampu melaksanakan peran strategis ini. Hanya tatanan Islam dalam institusi Khilafah Islamiyah-lah yang mampu menghapus darurat KDRT dan kekerasan pada remaja. Wallahu a'lam bishawab.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)