Dapur Semakin Dingin, Dompet Semakin Tipis: Bedah Kritis Krisis Ekonomi dan Kebijakan Publik di Bawah Rezim Saat Ini

datariau.com
142 view
Dapur Semakin Dingin, Dompet Semakin Tipis: Bedah Kritis Krisis Ekonomi dan Kebijakan Publik di Bawah Rezim Saat Ini
Ilustrasi. (Gambar: Open AI)
Krisis Ekonomi dalam Bayang-Bayang Kebijakan.

DATARIAU.COM - Perhatikan meja makan di rumah Anda hari ini. Apakah porsi lauk-pauk keluarga semakin menyusut? Apakah uang Rp100.000 yang Anda pegang seolah menguap begitu saja hanya untuk membeli sedikit beras, minyak goreng, dan beberapa butir telur? Jika dapur Anda terasa semakin dingin dan dompet semakin tipis, Anda tidak sedang sendirian. Yang paling penting: ini semua bukan salah Anda karena kurang bekerja keras.

Di negeri ini, kini terdapat jurang pemisah yang sangat dalam. Di satu sisi, di dalam gedung-gedung pemerintahan yang megah, para pejabat tersenyum lebar merayakan angka pertumbuhan ekonomi yang diklaim stabil di kisaran 5%. Namun di sisi lain, di dalam dapur rumah tangga masyarakat kecil, ada tangisan diam-diam dari para orang tua yang bingung bagaimana cara menyambung hidup untuk esok hari.

Kebijakan publik tidak pernah netral. Di mana uang negara dialokasikan, di situlah letak hati dan keberpihakan penguasa ditunjukkan. Era pemerintahan Prabowo hari ini dihadapkan pada pilihan politik yang menyoroti bagaimana ratusan triliun rupiah uang dari pajak masyarakat dialirkan untuk membiayai berbagai proyek pencitraan bernilai fantastis, seperti program makan bergizi gratis hingga penguatan lembaga desa, seolah-olah negara sedang sangat dermawan.

Namun, dari mana uang ratusan triliun itu didapat? Uang tersebut tidak turun dari langit. Demi membiayai proyek populisme berskala raksasa dan gengsi politik istana, pemerintah disebut menumbalkan dua sektor paling krusial bagi kelangsungan hidup rakyat kecil: pendidikan dan kesehatan.

1. Kemiskinan Struktural: Mengorbankan Pendidikan dan Kesehatan Demi Proyek Istana


Pemangkasan anggaran kesehatan dan pendidikan demi efisiensi proyek istana merupakan bentuk kemiskinan struktural yang paling halus namun mematikan.

Sektor Kesehatan yang Megap-megap: Fasilitas kesehatan di daerah mulai kewalahan. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kekurangan pasokan obat bersubsidi, dan layanan jaminan kesehatan sosial dipangkas kualitasnya. Ketika anggota keluarga sakit keras, warga tidak lagi bisa sepenuhnya berharap pada jaminan negara, melainkan terpaksa menjual barang-barang di rumah, berutang, dan merogoh kocek pribadi yang sudah tiris.

Pintu Pendidikan yang Dikunci Rapat: Dana sekolah negeri ditekan, bantuan pendidikan tersendat, dan biaya masuk perguruan tinggi melangit. Anak-anak dari keluarga bawah dipaksa berhenti bermimpi.

Mengorbankan masa depan kesehatan dan pendidikan anak cucu demi kepuasan politik elit di istana adalah bukti bahwa kekuasaan hari ini tega menukar nasib warganya demi ambisi jangka pendek. Negara hadir sangat perkasa ketika menarik pajak dari uang belanja harian, tetapi mendadak menghilang dan berhemat ketika rakyat membutuhkan obat, rumah sakit, serta sekolah murah.

2. Kelumpuhan Tata Kelola dan Gelombang PHK Massal


Mengapa mencari pekerjaan terasa ribuan kali lebih sulit hari ini? Mengapa banyak lulusan sekolah menganggur bertahun-tahun, dan para pekerja pabrik tiba-tiba dipulangkan dengan surat pemutusan hubungan kerja (PHK) tanpa pesangon yang layak?

Sebelum rezim ini berkuasa, ada janji-janji tentang penciptaan jutaan lapangan kerja baru. Namun kenyataannya, cerobong asap industri padat karya mati satu persatu dan gerbang pabrik digembok rapat. Hal ini bukan musibah alam, melainkan buah dari kelumpuhan tata kelola di puncak kekuasaan:

- Birokrasi yang Rumit & Impulsif: Kebijakan eksekutif kerap lahir dari impulsivitas politik, bukan perhitungan teknokratis yang matang. Aturan berubah dalam hitungan hari, dan birokrasi menjelma menjadi labirin yang mahal serta dipenuhi biaya siluman.

- Kaburnya Para Investor: Karena aturan yang tumpang tindih dan biaya investasi yang terlalu mahal, para pemilik modal menarik uang mereka dan memindahkan pabrik ke negara tetangga seperti Vietnam atau Thailand yang birokrasinya lebih bersih.

- Bencana Sektor Padat Karya: Sektor tekstil, garmen, alas kaki, dan manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja rakyat bawah runtuh. Ratusan ribu kepala keluarga kehilangan mata pencaharian, memaksa mereka beralih ke sektor informal (seperti pengemudi ojek daring atau buruh harian lepas) dengan jam kerja panjang namun penghasilan tidak pasti.

3. Fenomena Working Poor dan Downgrade Hidup Kelas Menengah


Tekanan ekonomi saat ini tidak hanya menghantam kelompok paling miskin, tetapi juga melalap habis stabilitas kelas menengah bawah melalui fenomena working poor, kondisi di mana seseorang bekerja membanting tulang belasan jam sehari bukan untuk menjadi sejahtera, melainkan sekadar agar dapurnya tetap bisa mengebul esok hari.

- Ilusi Angka Statistik 5%: Klaim pertumbuhan ekonomi 5% dan inflasi terkendali dinilai sebagai ilusi agregat. Inflasi umum mungkin terlihat rendah karena dihitung bersama barang mewah, namun kebutuhan pokok rakyat bawah seperti beras, minyak goreng, cabai, gula, dan listrik melambung tinggi tanpa kendali sementara upah dibekukan.

- Tekanan pada Kelas Menengah Bawah: Kelompok ini tidak cukup miskin untuk menerima bansos, namun tidak cukup kaya untuk menahan kenaikan biaya hidup dan pajak.

- Fenomena Downgrade Aset: Untuk bertahan dari kebangkrutan, tabungan dikuras habis, barang berharga diadaikan, hingga terjadi downgrade aset secara massal, seperti menjual mobil pribadi kelas atas dan menggantinya dengan kendaraan murah atau sepeda motor demi mendapatkan uang tunai segar.

4. Kultur "Asal Bapak Senang" dan Isolasi Kepemimpinan di Istana


Mengapa orang-orang di puncak kekuasaan seolah-olah tidak peduli dan tetap santai di tengah jeritan rakyat? Jawabannya terletak pada penyakit akut birokrasi: kultur "Asal Bapak Senang" (ABS).

Di sekeliling kekuasaan, dibangun tembok tebal yang memisahkan penguasa dari realitas rakyatnya. Para pembantu presiden dan pembisik istana menyaring serta memoles laporan ekonomi agar selalu tampak bagus. Fakta pahit di lapangan seperti antrean beras murah, pengangguran, dan pedagang gulung tikar, ditutupi rapat-rapat agar tidak mengganggu kenyamanan istana.

Akibat isolasi kepemimpinan ini, kebijakan yang diturunkan sering kali salah sasaran. Lebih menyakitkan lagi, ketika rakyat mengeluh, tanggapan yang keluar dari para pejabat kerap bernada meremehkan, menunjukkan hilangnya empati penguasa terhadap penderitaan warganya.

5. Jebakan Finansial Gelap: Pinjol Ilegal dan Judi Online


Ketika semua pintu rezeki yang sah tertutup rapat dan jaring pengaman sosial gagal diakses, rakyat bawah terdorong ke sudut paling rapuh: pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (slot).

Maraknya jeratan pinjol dan judi online di kalangan akar rumput bukanlah sekadar persoalan moral individu, melainkan gejala klinis dari krisis ekonomi struktural akibat kegagalan negara menyediakan kepastian pendapatan dan harga pangan yang terjangkau. Sindikat keuangan gelap hadir menawarkan solusi instan palsu yang justru berujung pada lingkaran utang berantai, pecahnya keharmonisan rumah tangga, gangguan kesehatan mental, hingga meningkatnya kriminalitas skala kecil.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)