DATARIAU.COM - Saat ini Palestina menjadi negeri yang dikenal dengan negeri bersimpuh darah dan air mata. Sejak beberapa tahun lalu hingga saat ini hujanan bom juga belum terhentikan. Banyaknya korban dari berbagai kalangan mulai dari bayi, anak-anak, perempuan dan laki-laki menjadi sasaran serangan brutal Zionis.
Hari demi hari berita tentang negeri Palestina semakin memilukan dan menyayat hati. Berita terbaru yang dirilis Beritasatu.com, militer Israel mengeluarkan larangan bagi warga Palestina di Jalur Gaza untuk mendekati pusat-pusat distribusi bantuan. Larangan ini dilakukan karena area distribusi tersebut dianggap berada di zona konflik. Sebelum penutupan ini dilakukan, Lebih jauh, kantor media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak 27 Mei lalu, serangan-serangan Israel di sekitar pusat distribusi yang dikelola GHF dan didukung oleh Israel dan Amerika Serikat telah menyebabkan 102 kematian dan mencederai 490 warga lainnya.
Saat Idul Adha tentara Zionis juga melakukan serangan terhadap warga Palestina. Sebanyak 33 warga Palestina kehilangan nyawa. Perayaan Idul Adha tahun ini menjadi perayaan yang keempat sejak Zionis menyerang Palestina. Serangan yang dilakukan Zionis merupakan upaya genosida dan telah merenggut nyawa hingga 54.700 nyawa warga Palestina. Selain itu, akibat dari serangan Zionis menimbulkan krisis kelaparan dan membuat jalur Gaza nyaris tidak layak dihuni.
Melihat aksi keji Zionis seharusnya membuat kaum muslim di penjuru dunia merasa marah dan juga merasakan sakit yang mengiris batin. Terutama para penguasa muslim, mereka yang memiliki kekuatan dalam berkuasa. Namun sungguh disayangkan, para penguasa negara-negara besar hanya diam melihat aksi brutal tentara Zionis. Hanya retorika dan perjanjian damai yang dilakukan tanpa melakukan tindakan nyata dengan mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah dari tanah Palestina.
Rasa ingin menolong saudara kita di Palestina sebenarnya ini adalah fitrah yang ada pada diri manusia. Melihat anak-anak bayi yang menangis kesakitan dan banyaknya korban akibat dari serangan Zionis seharusnya ini menjadi hal spontan yang dilakukan oleh kaum muslim terutama penguasa muslim untuk menolongnya. Namun tindakan nyata tidak dilakukan, seolah penguasa negeri-negeri muslim telah mati rasa.
Hadirnya paham nasionalisme yang lahir dari sistem kapitalis di kehidupan kaum muslim telah menjadikan kaum muslim mati rasa. Kaum muslim hanya bersaudara tatkala dalam satu negara. Sebuah negara akan merasakan bahaya tatkala negaranya yang diserang. Namun jika negara lain yang diserang, negara tersebut tidak menganggap bahwa negaranya juga dalam bahaya.
Pemahaman kapitalis juga telah membuat tolak ukur perbuatan kaum muslim adalah materi bukan halal dan haram. Bahaya dari pemahaman seperti ini, membuat kaum muslim akan lebih dekat dengan negara-negara yang banyak memberikan manfaat dan kemudian mengabaikan negara yang tidak memberikan manfaat baginya. Ketidakadilan pun lahir dari sistem kapitalis. Telah tampak jelas bahwa Zionis telah melanggar kemanusiaan dan tampak jelas serangan yang dilakukan merupakan genosida, namun tidak ada satu negara pun yang mengirimkan pasukan. Sungguh benar-benar sistem kapitalis tidak layak untuk manusia.
Melihat realita sadis di Palestina, hanya jihad yang menjadi solusi untuk menghentikan serangan Zionis. Meskipun kaum muslim saat ini menyerukan jihad untuk membebaskan Palestina, namun jihad tetap tidak bisa dilakukan karena sistem yang diterapkan di negeri-negeri muslim adalah sekuler kapitalis. Jihad hanya bisa dilakukan jika negara menerapkan sistem Islam. Negara berdiri diatas dasar akidah Islam dan aturan dalam negara menerapkan aturan Islam.
Tatkala ada negara yang mengemban sistem Islam maka tidak akan terjadi serangan brutal seperti yang terjadi di Palestina. Negara akan hadir untuk melindungi manusia dan memanusiakan manusia. Hal demikian tampak pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, Khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah (837 M), Al-Mu’tashim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah, “Di mana kau, Mutashim? Tolonglah aku!” Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu Kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana Khalifah di Kota Baghdad hingga Kota Ammuriah (Turki) karena begitu banyak pasukannya.
Maka dari itu, tidak ada jalan lain untuk membebaskan Palestina adalah dengan mewujudkan kembali sistem Islam, seperti pada masa kepemimpinan Rasulullah di Madinah, para sahabat hingga para Khalifah. Upaya untuk mengembalikan kembali sistem Islam membutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan dan mengajak umat untuk menegakkan sistem Islam. Jamaah ini akan membangun kesadaran di tengah-tengah umat dan menunjukkan jalan kemuliaan kepada umat. Sudah saatnya umat menjawab seruan jamaah ini dan berjuang bersama untuk menjemput pertolongan Allah.
Tatkala sistem Islam telah hadir, tidak hanya Palestina yang terbebas dari serangan Zionis, namun seluruh kaum muslim yang ada di penjuru dunia berada pada kondisi bangkit secara hakiki. Tampak jelas air mata Palestina sesungguhnya memanggil seluruh kaum muslim untuk bersatu di bawah kepemimpinan Islam, agar dapat mengirim pasukan jihad untuk mengusir penjajah di bumi Palestina.***