DATARIAU.COM - Bumi pertiwi baru saja diramaikan perayaan Hari Santri Nasional (HSN). Sejak Presiden Jokowi menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, hampir diseluruh wilayah memperingati Hari Santri Nasional. Jokowi mengatakan, Hari Santri ini dibuat sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan negara kepada para alim ulama, kiai, ajengan, santri, serta seluruh komponen bangsa yang mengikuti teladannya. (TEMPO.CO). Berbagai kalangan tidak mau ketinggalan untuk merayakannya. Orang nomor satu di negeri ini pun juga ikut merayakannya.
Di Hari Santri Presiden Joko Widodo berjanji akan meningkatkan jumlah Balai Pelatihan Kerja (BLK) di Pesantren. Selain itu, Jokowi juga memulai program bank wakaf mikro untuk meningkatkan ekonomi umat.
"Bank wakaf mikro mungkin sampai saat ini baru 33 pondok pesantren yang kita coba. Kemudian Balai Latihan Kerja juga baru 50. Tetapi tahun depan Insya Allah kita akan tambah lebih 1.000 Balai Latihan Kerja," ujar Jokowi. (detiknews).
Di Hari Santri ini Mentri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga berharap bahwa pesantren menjadi lembaga yang kredibel sebagai sumber pengetahuan agama dan berbangsa, "Hari Santri menjadi prasasti untuk menegakkan bernegara sama pentingnya dengan beragama," tuturnya. (TEMPO.CO).
Kemeriahan yang begitu sumringah dan bertabur hadiah mewah dalam memperingati Hari Santri Nasional terlihat di Sidoarjo, Jawa Timur. Sebelum pelaksanaan Istigasah Kubro, acara akan diawali Kirab Santri yang akan diikuti 1 juta orang (dari kalangan santri dan masyarakat umum) dan diikuti Presiden Jokowi. Hadiah mewah yang disediakan dalam acara ini berupa 1 avanza, 10 paket umroh, 10 motor, dan 150 unit sepeda. (Liputan6.com).
Keberadaan para santri bagaikan bintang-bintang dilangit yang bisa dijadikan petunjuk dalam kegelapan di daratan maupun di lautan. Selain itu keberanian para santri dalam mengusir penjajah di bumi pertiwi ini tidak diragukan lagi. Ketika imperialisme dan kolonialisme menjajah negeri ini, maka umat Islam sebagai mayoritas yang ada di negeri ini tidak tinggal diam. Bahkan dalam sejarahnya, ulama dan santri menjadi garda terdepan dalam mengusir penjajah negeri ini.
Pada tahun 1942, Belanda yang menjajah Indonesia ratusan tahun lamanya ternyata tidak siap dengan serbuan dari luar. Dari arah utara, tentara Jepang datang ingin turut serta menghisap karunia Ilahi di bumi pertiwi ini. Sebagai siasat awal, Jepang merangkul tokoh-tokoh dari kalangan umat Islam yang selama ini dipinggirkan pemerintah kolonial Belanda. Diantaranya adalah ulama yang memiliki basis masa pesantren.
Namun, baru berselang satu atau dua tahun sejak masuknya Jepang, umat Islam merasakan situasi yang tertekan sebagaimana ketika masih dibawah pemerintahan kolonial. Sejumlah pesantren menggelorakan perlawanan terhadap kekejaman Jepang. Satu contoh perjuangan anti-Jepang itu terjadi di Pesantren Sukamanah. Lokasinya terletak di desa Cimerah, Singaparan, Tasikmalaya. Lagi-lagi kalangan santri yang menjadi garda terdepan dalam mengusir penjajah dengan spirit Islam dan penegakan hukum Islam. Lantas pertanyaannya, setelah besarnya peran santri dalam mengusir penjajah negeri ini apakah negeri ini sudah merdeka?
Secara penjajahan fisik mungkin saja Indonesia sudah merdeka. Tetapi, secara ideologi tentu saja negeri ini belum merdeka. Nyatanya hingga hari ini bumi pertiwi masih dibanjiri dengan hegemoni asing.
Position Paper Asia-Europe People's Forum-9 Sub Regional Conference mengungkap bahwa kekayaan alam tambang Indonesia 100 persen berada dibawah kontrol asing, kekayaan migas sebanyak 85 persen dikuasai asing, dan kekayaan batubara 75 persen dikontrol asing. (kompasiana, 20/4/2018). Sungguh kenyataan yang membuat hati teriris dan menangis.
Penguasaan asing terhadap kekayaan negeri ini semakin membuat bumi pertiwi tidak berdaya. Maka, umat saat ini, sangat menantikan peran santri untuk kembali menorehkan sejarahnya menjadi garda terdepan dalam membela bumi pertiwi ini dari cengkeraman asing. Para santri tidak identik hanya mengkaji pelajaran Islam saja akan tetapi juga berperan politik dalam mengusir penjajahan. Para santri dan ulamanya dalam sejarah senantiasa mengemban risalah Allah sekaligus membumikan dan menegakkan hukum-hukum-Nya dimuka bumi.
Sudah saatnya para santri mentransformasi kebangkitan menjadi kebangkitan yang hakiki. Dengan mengkristalkan pemikiran dan perasaan Islam dalam diri para santri maka kebangkitan hakiki akan dapat diraih.
Jelas sudah bahwa para santri menjadi penyelamat negeri ini. Mereka senantiasa berusaha membebaskan umat manusia dari kesewenang-wenangan politik, kezhaliman sosial, kerusakan moral dan keburukan hawa nafsu manusia. Mereka senantisa mengajak umat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah. (*)
* Penulis merupakan Wirausaha dan Pemerhati Sosial