Oleh: Alfira Khairunnisa

Riau Dalam Ancaman DBD

datariau.com
684 view
Riau Dalam Ancaman DBD
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merebak. Terjadi peningkatan kasus DBD di berbagai provinsi di Indonesia. Merebaknya kasus ini sungguh membuat masyarakat khawatir.

Dilansir dari Liputan6.com (30/1/2019) bahwa berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 29 Januari 2019, kasus DBD paling tinggi di Jawa Timur. Di provinsi paling timur Pulau Jawa itu, ada 2.667 kasus DBD.

Kemudian, disusul dengan Jawa Barat sebanyak 2.008 kasus, Nusa Tenggara Timur (1.169 kasus), Jawa Tengah (1.027), Sulawesi Utara (980), Lampung (827).

Angka kematian DBD juga di Jawa Timur yakni 47 orang meninggal, disusul Nusa Tenggara Timur 14 orang, Sulawesi Utara ada 13 orang meninggal.

Dan di Riau sedikitnya ada empat kecamatan yang cukup banyak kasus DBD. Ada lima kasus DBD di setiap lokasi tersebut. Yakni Marpoyan Damai, Tenayan Raya, Sukajadi dan Payung Sekaki.

Kemudian masing-masing dua kasus di Senapelan, Rumbai Pesisir dan Limapuluh. Serta masing-masing satu kasus di Pekanbaru Kota, Rumbai, Sail dan Bukit Raya.

Kawasan Tampan menjadi lokasi paling banyak kasus DBD di Pekanbaru. Jumlah kasus mengalami peningkatan sejak awal tahun 2019. Pada minggu pertama tahun 2019 hanya dua kasus. Jumlah meningkat drastis pada pekan kelima menjadi 22 kasus.

DBD adalah penyakit yang selalu ada setiap tahun. Artinya, pemerintah seharusnya bisa memprediksi langkah pencegahan sebelum terjadinya.

Berbagai pihak sangat menyayangkan kurang responsifnya Pemprov dalam menangani kasus tersebut. Padahal bukankah Riau memiliki teknologi yang canggih yang bisa digunakan Dinkes dan pihak Rumah Sakit untuk memantau korban DBD sehingga dapat tertangani dengan cepat.

Musim penghujan di penghujung dan awal tahun bisa jadi salah satu penyebabnya. Maka seharusnya Dinas Kesehatan lebih tanggap dan segera melakukan fogging atau penyemprotan. Nah, tapi yang terjadi malah, ketika sudah terjadi kasus DBD hingga memakan korban, baru dilakukan fogging.

Di Riau sendiri telah tercatat hingga akhir Januari lalu setidaknya tercatat 228 kasus dan 2 orang diantaranya meninggal dunia. Penanganan lamban oleh pemerintah sehingga korban jiwa pun tak dapat dielakkan.

Penanganan Wabah Penyakit di Dalam Islam

"Bila kalian mendengar wabah tengah mendera suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya, dan jika menyerang wilayah kalian, maka janganlah engkau melarikan diri." (HR Bukhari).

Semasa Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Pernah terjadi wabah penyakit yang menjalar di daerah Syam, yang kini disebut Suriah. Beliau pum ingin berkunjung ke daerah positif wabah tersebut.

Kabar terkait bagaimana kondisi tempat tersebut sudah diketahui. Amirul Mukminin, Umar bin Khattab pun lantas berkonsultasi dengan para sahabat. Keputusannya, rombongan batal memasuki Suriah dan memutuskan kembali pulang.

Abu Ubai dah bin al-Jarrah pun merasa heran dengan kepulangan Umar bin Khattab dan bertanya, apa alasan yang digunakan oleh sang Khalifah?

Abu Ubaidah beranggapan, bukankah keputusan semacam itu merupakan bentuk lari dari takdir Allah? Amirul Mukminin Umar bin Khattab pun menjawab, coba pikirkan, bila ada dua lembah yang satu tandus dan lain nya subur. Jika engkau mengelola yang subur, dan meninggalkan yang tandus, apakah ini dianggap lari dari takdir Allah?

Nah, ini hanyalah penggalan kisah yang bisa dimaknai salah satunya sikap menghadapi wabah penyakit yang merebak. Termasuk DBD. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran wabah DBD.

Islam menaruh perhatian besar terkait wabah penyakit. Karena itu, Rasulullah menggariskan sejumlah kaidah penting menyikapi kemunculan wabah di tengah-tengah umat Islam. Nah, bagaimanakah kaidah tersebut? Mari kita kupas.

Implementasi kaidah tersebut antara lain, ada yang berfungsi sebagai upaya pencegahan dan terdapat pula yang di posisikan sebagai langkah penanggulangan. Adapun pencegahan dan penanggulangannya sbb:

Pertama: pencegahan, Islam menekankan pentingnya menjaga kebersihan badan, pakaian, makanan sehari-hari, dan lingkungan. Allah berfirman dalam surah al-Muddatsir ayat ke-4: "Dan, pakaianmu bersihkanlah."

Di bagian lainnya, Rasulullah menegaskan, kebersihan merupakan senjata ampuh membentengi dari serangan penyakit. Karena itu, Nabi mengaitkan hubungan kuat antara iman dan kebersihan.

Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Malik al-Harits bin 'Ashim al-Asy'ari menguatkan hal itu. Bahwasanya Rasulullah bersabda, "Kebersihan sebagian dari iman." (HR Muslim).

Kedua, yaitu penanggulangan agar virus wabah tak menyebar luas, Rasulullah menyerukan isolasi dan sterilisasi lokasi yang terjangkit wabah. Tindakan ini dimaksudkan supaya ruang gerak virus tersebut terbatas pada wilayah tertentu.

Pentingnya isolasi tersebut telah diserukan oleh Rasulullah 14 abad silam. Ini sebuah indikasi kuat, Islam peduli terhadap fenomena wabah. Islam melarang seseorang mendatangi daerah yang positif terkena wabah, sebagaimana di ung kapkan oleh Rasulullah. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah bersabda,

"Bila kalian mendengar wabah tengah mendera suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya, dan jika menyerang wilayah kalian, maka janganlah engkau melarikan diri." (HR Bukhari).

Pengisolasian ini pun diterapkan dengan baik oleh sahabat, yaitu Umar bin Khattab, sesuai kisah di atas, lantas menulis surat ke Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Isinya tentang permintaan pengisolasian lokasi wabah di Suriah.

Umar memerintahkan agar tak satu pun meninggalkan lokasi itu. Nah, hal ini sebagai langkah antisipasi dan menekan kemungkinan penyebarluasan wabah.

Melarikan diri dari lokasi wabah oleh mereka yang sejak awal berada di tempat itu, oleh Islam dinamakan dengan tindakan kabur dari medan perang.

Hal ini seperti tertuang di riwayat Jabir bin 'Abd al-Anshari. Hadis yang dinukil oleh imam Ahmad itu menegaskan bahwa siapa pun yang lari dari wabah seperti pengecut yang lari dari medan perang.

DBD merupakan bentuk ujian yang datang dari Allah. Bagi Mukmin yang terkena penyakit ini, selama ia bersabar maka Allah menjanjikan pahala yang besar baginya, yaitu ganjaran yang sama kualitasnya dengan balasan setimpal untuk seorang syahid. (*)
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
Tag:DBD
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)