DATARIAU.COM - Perekonomian Dunia terancam resesi akibat pandemi virus Corona (Covid-19). Termasuk Indonesia tidak akan luput dari resesi ini. Perekonomian Indonesia diprediksi kuat akan mengalami kontraksi pada kuartal II - 2020. Hal ini diperkuat dengan laporan Bank Dunia edisi Juli 2020, yang menyatakan bahwa tidak ada jaminan jika perekonomian Indonesia akan selamat dari resesi ini. Apalagi negara tetangga Singapura sudah mengumumkan jika sudah mengalami resesi.
Resesi adalah kondisi dimana produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kartal atau lebih dari satu tahun. Tanda-tanda resesi antara lain pendapatan yang menurun, tingkat kemiskinan bertambah, tingginya kredit macet, mandegnya sektor riil, hutang negara terus bertambah dan sebagainya. Jika dilihat dari tanda-tanda ini, maka Indonesia sudah masuk dalam kategori tersebut. Ekonomi Indonesia mengalami kemerosotan yang luar biasa. Resesesi sebenarnya adalah hal yang biasa dan kerap terjadi dalam siklus perekonomian kapitalis. Dimana dampak yang ditimbulkannya amatlah buruk dalam kehidupan. Roda perekonomian akan mandeg sehingga masyarakat akan terancam kehidupannya.
Negara sekelas Amerika Serikat yang memiliki nilai ekonomi terbesar di dunia sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara jika dilihat dari tahun 1980, negeri Paman Sam tersebut mengalami 4 kali resesi termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008. Sedangkan Indonesia, pernah mengalami resesi pada tahun 1998. Dan ada resiko akan terjadi pada tahun ini. Menurut para ahli, hal ini disebabkan oleh pandemi virus Corona (Covid-19) yang membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti. Tidak hanya resesi, pada tahun 1998 tersebut Indonesia dikatakan mengalami depresi akibat PDB yang minus dalam 5 kuartal beruntun. Dan hal itu diprediksi akan terulang ditahun ini.
Lalu, apa yang harus dipersiapkan oleh masyarakat?
Menurut Bima Yudhistira, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Indonesia, mengatakan bahwa mulai saat ini masyarakat harus berhemat. Selain itu juga harus menyiapkan dana cadangan guna menghadapi resesi nanti. Hal senada juga disampaikan oleh Directur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Menurutnya, disaat seperti ini masyarakat tidak boleh boros dan harus bersiap untuk menghadapi kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan. (Detik.com, 19/7/2020).
Resesi, Tabiat Ekonomi Kapitalis
Dalam sistem ekonomi kapitalisme, krisis ekonomi selalu terjadi mengikuti siklus 10 tahunan. Pada tahun 1998 terjadi krisis moneter. 10 tahun kemudian yakni pada tahun 2008 krisis finansial kembali menyapa dunia ditandai dengan jatuhnya Lehman Brothers. Dan kini pada tahun 2020, krisis ekonomi kembali terjadi. Apalagi ditambah dengan mewabahnya virus Corona (Covid -19), diyakini akan memperparah kondisi ekonomi hari ini.
Sebenarnya sebelum virus Corona (Covid-19) melanda, kondisi ekonomi dunia memang sudah mengalami kelesuan. Hal ini disampaikan oleh IMF pada 16 Oktober 2019, bahwa laju pertumbuhan ekonomi dunia berada pada kondisi terburuk sejak krisis keuangan global. IMF menuding penyebab dari kelesuan pertumbuhan ekonomi dunia adalah adanya perang dagang, ketidak pastian brexit, dan krisis-krisis geopolitik lainnya.
Krisis yang berulang merupakan watak aslinya sistem ekonomi kapitalisme. Hal ini adalah cacat bawaan sistem kapitalisme yang disebabkan oleh rapuhnya pondasi yang ada pada sistem ini. Dimana pondasi sistem ekonomi kapitalisme ini adalah struktur ekonomi yang semu, non riil. Bukan ekonomi sesungguhnya yakni sektor riil.
Krisis ekonomi global sejatinya berakar pada cacat bawaan dari sistem kapitalisme itu sendiri bukan pada implementasi semata. Ada kelemahan paradigma yang membuat ekonomi kapitalisme identik dengan krisis. Paradigma tersebut diantaranya adalah ekonomi kapitalisme bertujuan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia tetapi juga memenuhi keinginan dan nafsu manusia. Padahal kebutuhan manusia itu terbatas sedangkan keinginan dan nafsu manusia tidak terbatas. Jika hanya memenuhi kebutuhan manusia yang terbatas, kekayaan alam yang disediakan Allah SWT di muka bumi ini dipastikan bisa memenuhi kebutuhan manusia.
Tetapi jika berbicara nafsu dan keinginan manusia, inilah yang tidak terbatas. Sehingga Disinilah ekonomi kapitalisme mengalami batu sandungan yang pertama karena memandang sumber daya alam yang ada di bumi ini terbatas, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sehingga ekonomi kapitalisme memandang bahwa kelangkaan alat pemuas kebutuhan dan nafsu manusia sebagai masalah pokok ekonomi. Padahal masalah sebenarnya buka itu, tetapi ada pada distribusi alat pemuas tersebut diantara manusia yang selama ini jauh dari kata adil.
Selain itu sistem ekonomi kapitalisme fondasinya adalah sektor non riil, bukan sektor riil. Ekonomi kapitalisme juga tidak bisa lepas dari bunga dan riba. Padahal tingkat suku bunga yang besar antar negara itulah yang membuat para pialang keuangan dengan leluasa mengeruk keuntungan melalui investasi hot money. Selain itu, sistem ekonomi kapitalisme yang berbasis pada uang kertas (fiat money) memiliki kelemahan fundamental yakni selalu terkena inflasi permanen. Nilai uang sekarang lebih tinggi dibandingkan dengan nilainya pada waktu yang akan datang.
Solusi Mendasar
Jika solusi dari resesi yang ada didepan mata kita hari ini adalah mempersiapkan tabungan dan dana darurat demi mencukupi kebutuhan dimasa krisis nanti, maka hal ini hanya solusi yang sangat dangkal yang tidak menyentuh akar persoalan. Disamping itu, solusi itu hanya bisa dilakukan oleh sebagian orang saja yaitu mereka yang memang mempunyai tabungan dan mempunyai pendapaan yang lebih dari cukup. Sehingga bisa menyisihkan uangnya. Lalu bagaimana dengan orang yang hari ini berpendapatan pas-pasan hanya cukup untuk makan hari itu? Jangankan untuk menabung, untuk makan esok hari saja, mereka masih bingung apakah tercukupi atau tidak. Maka kita dan umat ini membutuhkan solusi yang bukan hanya sesaat saja, tetapi kita membutuhkan solusi yang fundamental yang menyelesaikan dari akar persoalan supaya resesi dan krisis ini tidak berulang dimasa yang akan datang.
Islam sebagai agama yang sempurna mempunyai seperangkat aturan terkait dengan persoalan sistem ekonomi. Pengaturan sistem ekonomi didalam Islam diawali dengan pengaturan tentang kepemilikan. Dimana kepemilikan didalam Islam dibagi dalam 3 bagian yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Dengan diaturnya kepemilikan ini bisa mencegah hegemoni ekonomi oleh pihak tertentu, misalnya penguasaan swasta atas kepemilikan umum seperti yang terjadi saat ini. Pihak yang mempunyai modal kuat akan menguasai ekonomi dan pihak yang lemah hanya gigit jari. Pencaplokan tambang gas dan minyak, bumi, hutan, pelabuhan dan sebagainya oleh swasta baik asing maupun lokal adalah contoh riil hari ini.
Setelah pembagian kepemilikan ini diatur dengan tegas, maka dalam mengembangkan dan membangun ekonomi, Islam hanya bergerak pada sektor riil saja. Sektor non riil dan bunga riba, akan dijauhkan dari sistem ekonomi Islam. Disamping hukumnya haram, terbukti sektor non riil dan riba, sangat rapuh. Disamping itu, alat tukar yang digunakan bukan uang kertas (fiat money) tetapi emas dan perak. Emas dan perak terbukti anti inflasi, karena emas memiliki nilai intrinsik sedangkan uang kertas tidak memiliki nilai intrinsik. Dengan uang emas dan perak, dipastikan anti inflasi, sehingga bisa terhindar dari krisis dan resesi.
Pilar terakhir dari ekonomi Islam adalah distribusi harta kekayaan individu, masyarakat maupun negara. Distribusi harta harus adil, beredar ditengah masyarakat. Tidak boleh ada hegemoni ekonomi oleh satu pihak kepada pihak lain. Kepemilikan dijamin didalam ekonomi Islam. Disamping itu Ekonomi Islam akan menjamin seluruh rakyat untuk terpenuhi seluruh kebutuhan dasarnya. Dan pada saat yang sama ekonomi Islam juga menjamin seluruh rakyatnya agar bisa terpenuhi kebutuhan sekunder dan tersier nya sesuai bi'ah (keumuman) yang ada ditengah masyarakat.
Demikianlah solusi ekonomi Islam dalam mencegah krisis dan resesi. Semoga umat semakin sadar akan kebaikan sistem Islam dalam mewujudkan kesejahteraan dan kebaikan bagi seluruh manusia tanpa mengenal suku dan agama. Selain itu hidup dengan diatur Islam, akan mendatangkan keridhoaan
dari Allah SWT. (*)
Wallahu a'lam bishshowab.