DATARIAU.COM - Hari demi hari korban kasus pandemi virus corona (Covid-19) semakin bertambah, sejak tulsan ini dibuat jumlah pasien positif terinfeksi sebanyak 1.115 orang kasus. Dari jumlah tersebut korban meninggal 102 orang dan jumlah yang sembuh 59 orang (28/03, cnnindonesia.com).
Dalam hal ini, jumlah pasien berkemungkinan akan semakin terus bertambah jika tidak ada tindakan preventif mau kuratif yang serius dari pemerintah. Memang presiden Jokowi menggariskan tiga program prioritas dalam menghadapi pandemi Covid-19. Pertama, memfokuskan dan menggerakkan semua sumber daya negara untuk mengendalikan, mencegah dan mengobati masyarakat yang terpapar Covid-19. Kedua, menfokuskan dan menggerakkan semua sumber daya negara untuk menyelamatakan kehidupan sosial-ekonomi seluruh rakyat. ketiga, menfokuskan seluruh sumber daya negara agar dunia usaha baik UMKM, koperasi, swasta dan BUMN agar terus berputar.
Namun semua itu menjadi tanda tanya saat ini, bukan rahasia lagi, dapat dilihat dilapangan banyak rumah sakit yang menjadi rujukan pasien Covid-19 tidak mendapatkan cukup perlengkapan APD (Alat Perlindungan Diri) untuk para dokter dan perawat. Padahal mereka adalah orang yang berada di garda terdepan dan mempertaruhkan nyawa untuk berhadapan dengan virus Covid-19 ini. Belum lagi alat tes yang digunakan untuk mendeteksi adanya Covid-19. Bahkan belakangan ini pemerintah melalui pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani bahwa akan membuka rekening untuk menampung dunia usaha yang ingin membantu dalam kegiatan pencegahan dan atau penanganan Covid-19 di Indonesia (republika.co.id). Bukan tidak ingin membantu sesama saudara, namun adalah wajar jika rakyat mempertanyakan dimanakah letak pengayoman, perlindungan dan tanggung jawab negara, yang harusnya hadir dan nyata disaat-saat kritis seperti ini.
Sungguh ironi, keadaan ini tidak juga membuat pemerintah melakukan kebijakan lockdown, setidaknya dengan alasan melihat Korea Selatan yang bisa melewati pandemi Covid-19 ini tanpa melakukan lockdown. Benar, sampai saat ini Korea Selatan termasuk negara yang telah berhasil. Ini karena negara tersebut didukung dengan Pemerintah yang transparan, biaya yang besar, fasilitas kesehatan, teknologi yang memadai serta jumlah penduduk yang jauh sedikit dibandingkan Indonesia. Pertanyaanya, bagaimana dengan negeri ini?
Atau seperti pemerintah Italia yang rakyatnya meninggal dunia mencapai 700 orang perhari akibat pandemi Covid-19 ini akhirnya melakukan lockdown, lalu menanggung seluruh kebutuhan masyarakat dan mendistribusiakan apa saja yang diperlukan kerumahnya masing-masing. Biaya yang tidak sedikit. Pertanyaanya, bagaimana dengan negeri ini?
Tidak salah jika mayoritas masyarakat tampaknya sepakat, memandang bahwa pemerintah +62 terlalu lamban, bahkan terkesan meremehkan. Bagaiman tidak saat dunia sibuk melakukan berbagai upaya maksimal termasuk kebijakan lockdown, pemerintah masih membuka pintu lebar-lebar untuk wisatawan, terutama cina.
Padahal pandemi semacam Covid-19 ini, bukanlah wabah yang pertama kali terjadi di dunia. Sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Craig Condisine dalam sebuah laporan media Amerika "Newsweek" di lansir mediaumat.news bahwa Nabi Muhammad adalah yang pertama menyarankan karantina kesehatan (lockdown) dan kebersihan diri dalam kasus pandemi.
Ini sungguh mengejutkan, barat yang notebene adalah negeri sekuler, justru mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan bagaimana menghadapai pandemi ini. Sementara kaum muslimin yang mengaku sebagai umatNya seolah bingung dalam mencari solusi.
Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW telah memberikan anjuran untuk mengatasi penyebaran penyakit. Dari kitab Sahih Muslim Rasulullah SAW bersabda,"Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu, (HR Bukhari dan Muslim).
Selain memberikan solusi nyata, islam juga memberikan tuntunan sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah SAW. Jika datang suatu wabah, Rasulullah SAW berdoa untuk menghilangkan wabah penyakit tersebut.
Dari Aisyah Ra berkata, Rasulullah SAW pernah berdoa memohon agar Allah SWT menjaga kota Madinah dari wabah penyakit. Berikut doanya: " Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu, berikanlah keberkahan kepada kota dan penduduk kami, sehatkanlah Madinah buat kami dan pindahkanlah wabah penyakitnya ke Juhfah."(HR Bukhari).
Untuk mengatasi pandemi ini, tidak cukup peran segelintir kelompok, komunitas, atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Negaralah (pemerintah) yang harusnya berada di garda terdepan dalam menangani bencana seperti ini sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, demi memelihara dan melindungi seluruh rakyat.(rls)
Wallohualam bishowab
* Penulis merupakan Praktisi Pendidikan