DATARIAU.COM - Kurikulum moderasi makin kuat mendapat legitimasi. Bagaimana tidak? Kurikulum moderasi tersebut mendapat legitimasi dengan beberapa perubahan KMA untuk pelajaran PAI dan Bahasa Arab. Bahkan, materi khilafah dan jihad dihapus dari mata pelajaran Fiqih yang kemudian dialihkan ke mata pelajaran sejarah dan dibahas dengan perspektif moderasi.
Ya, benar saja. Pemerintah terus menggalakkan program moderasi beragama yang sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Kemenag telah menjabarkan moderasi beragama dalam Rencana Strategis (renstra) pembangunan di bidang keagamaan lima tahun mendatang (okezone.com, 3/7/2020)
Jadi, kementerian Agama secara resmi telah memberlakukan kurikulum baru untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab di madrasah melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No 183 dan 184 tahun 2019, menggantikan KMA Nomor 165 Tahun 2014. Perbedaan di antara ke dua kurikulum ini hanyalah di substansi materi pelajaran. (cnnindonesia.com).
Sejalan dengan perubahan kurikulum ini, sudah ada 155 buku agama Islam revisi yang disiapkan oleh Kemenag. Ditargetkan pelajaran PAI akan menjadi instrumen kemajuan serta mempererat kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meletakkan materi sejarah Khilafah, jihad, dan moderasi beragama secara korelatif dalam berbagai bentuk perjuangan muslim. (detikNews.com).
Hal ini dapat berakibat kepada generasi umat bisa-bisa malah tidak mengenal ajaran agamanya sendiri. Bahkan sampai kepada penyesatan generasi yang seharusnya memperjuangkan tegaknya khilafah, bisa berbalik menentang ajaran Islam dan menyingkirkannya dari kehidupan. Dan fakta tersebut saat ini sudah terlihat. Bagaimana tidak? Monsterasi terhadap Khilafah ajaran Islam deras bergulir kepada ummat.
Moderasi Islam, Sikap Islam Kompromis
Kemenag juga telah menyusun modul yang mengambil tema moderasi beragama dan revolusi mental. Isi modul ini adalah penanaman konsep-konsep moderat. Salah satunya adalah toleransi dengan makna kebablasan, pluralisme, kesetaraan dan antidiskriminasi dll.
Moderasi Islam atau Islam moderat hakikatnya adalah Islam yang mengambil sikap kompromis dan jalan tengah. Dalam moderasi, Islam dapat dikompromikan dengan selain Islam, yakni ditataran akidah dan Syariat. Maka jelaslah bahwa Islam moderat yang diusung oleh pemerintah adalah Islam yang berusaha mengkompromikan akidah Islam dengan akidah selain Islam.
Kemudian ditataran syariat, mengkompromikan syariat Islam dengan syariat selain Islam, jelas yang dihasilkan bukan Islam yang sebenarnya. Tapi Islam setengah-setengah. Islam yang dipilih untuk mewujudkan sikap toleransi antar budaya, antar agama di daerah multikultural. Inilah yang diinginkan oleh rezim ini.
Lantas, seperti apa yang dimaksud dengan Moderasi kurikulum? Moderasi kurikulum pendidikan adalah bagian dari program moderasi Islam arahan Barat. Sebagaimana yang ada di dokumen lembaga think tank AS, RAND Corporation yang berjudul Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies, yang ditulis Cheryl Benard pada 2003, dan Building Moderate Muslim Network pada 2007.
Dokumen lembaga think tank AS ini menjelaskan bahwa karakter Islam moderat adalah mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM (termasuk kesetaraan gender dan kebebasan beragama), menghormati sumber hukum yang nonsektarian dan menentang terorisme.
Dari sini bisa terlihat bahwa moderasi Islam dibuat sebagai bagian dari rencana busuk Barat untuk menghancurkan Islam. Pelan tapi pasti, menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam sebagai ideologi. Islam hanya menjadi konsep yang tidak bisa diterapkan. Islam hanya sebatas teori tapi tidak untuk aplikasi. Alhasil, umat juga dibuat ragu dengan kebenaran Islam sebagai satu-satunya solusi bagi seluruh permasalahan umat. Hingga akhirnya beralih mengambil solusi selain dari Islam. Ini adalah sebuah penyesatan bukan?
Tidak hanya itu. Melalui moderasi kurikulum pendidikan, akhirnya para generasi bangsa ini memiliki kepribadian Islam ala Barat hingga menjadikan Barat sebagai kiblat semua sikap dan perilakunya. Menjalankan Islam pun sesuai dengan arahan barat. halal haram bukan lagi jadi standart perbuatan, melainkananfaat yang akan jadi ukuran.
Maka, sepanjang sejarah kegemilangan Islam, banyak tercetak generasi-generasi tangguh pencetak peradaban. Generasi emas di masa kejayaan Islam memiliki karakter yang sangat agung, yang dikenal dengan istilah kepribadian Islam. Kepribadian inilah yang secara otomatis akan menuntun mereka sekaligus mengasah kecerdasan dan skill mereka agar sukses menjalani kehidupan sesuai tuntutan Penciptanya.
Dengan Islam, mereka ditempa hidup hanya untuk kemuliaan Islam dan untuk menebar rahmat Islam ke seluruh alam. Ketaatan individu dibangun, kecintaan dan ketakutannya pada Allah senantiasa terjaga. Betapa di masa itu, umat tampil menjadi pioner peradaban. Mereka adalah generasi-gemerasi terbaik yang lahir dari rahim Islam. Menjadi umat yang terbaik, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
?Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.? (QS Ali ?Imran: 110).
Sungguh, Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya dapat menjadikan generasinya cerdas gemilang sebagaimana dahulu para Ulama ditempa dengan pendidikam Islam. Maka, seharusnya negeri ini bisa lebih memperhatikan mau diarahkan ke mana kurikulum pendidikan generasi in? Apakah hendak mencetak generasi moderat sesuai arahan Barat ataukah generasi Islam ideologis sesuai arahan Allah subhanahu wa ta'ala? Bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Seharusnya jawabannya tak lain dan tak bukan adalah mencetak generasi Islam dengan arahan sang Khaliq, Allah SWT. (*)
Wallahu'alam-bishoab.