Oleh: Nofia Franehsa

Body Shaming Pembunuhan!

datariau.com
979 view
Body Shaming Pembunuhan!
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Saat ini body shaming atau kegiatan mengomentari fisik seseorang tengah booming dikalangan masyarakat, pembullyan yang dikemas dalam bentuk praktis, namun mematikan. Semua kita berpacu mengorbankan diri demi mencapai standar yang dimodifikasi oleh sosial. Memuja kesempurnaan demi sebuah pengakuan. Bukan manusia namanya jika mudah puas.

Terkadang seseorang melakukan body shaming karena ingin memotivasi orang lain agar semangat dalam menciptakan tubuh yang ideal, seperti berusaha menurunkan berat badan, perawatan agar kulit putih bersinar, meninggikan badan. Jika dilihat sekilas itu adalah perbuatan yang baik, tapi bila kita kaji lebih dalam lagi ini adalah suatu beban psikologis bagi si penerimanya.

Akan ada saja mulut-mulut yang selalu berkicau mengomentari fisik orang lain, orang lain itu nggak bego-bego amat loh ya! Mereka juga sudah mengenal cermin, juga sudah banyak yang mengingatkan mereka setiap kali bertemu. Memuakkan bukan?

Korban body shaming bukan hanya wanita saja, tak jarang kaum pria juga menjadi sasaran body shaming. Bedanya pria lebih ahli didalam mengelola logikaya, sedangkan wanita akan larut bersama spekulasi yang diciptakan oleh hatinya.

Seseorang yang terkena body shaming akan mengalami depresi secara perlahan, kecemasan mentalnya meningkat, kesehatannya juga akan terganggu. Body shaming sering kali berbalut candaan. Tanpa disadari efek negatif mulai mempengaruhi saraf sadar responden. Ia akan merasa malu, minder, frustasi, hingga bisa melakukan bunuh diri. Bukan bermaksud hiperbola atau melebih-lebihkan. Namun itulah fakta yang berlangsung disekitar kita.

Body shaming tidak hanya dapat di lakukan kepada orang lain, tetapi kita juga bisa melakukannya kepada diri kita sendiri. kita mendoktrin otak kita, bahwa kita ini buruk, hina, tak ada bagus-bagusnya. Diri kita mulai mencari figur untuk dijadikan patokan maupun panutan, selanjutnya kita bukan lagi kita yang dulu, kita yang sekarang tak lagi bahagia. Diri kita melakukan penekanan terhadap nurani sendiri.

Tak bisa dielakkan bahwa mengomentari fisik orang lain adalah suatu hal menyenangkan, kita akan merasa puas setelah sukses menyinyiri penampilan orang lain. Namun setelah naluri kemanusiaan kita kembali kita akan sadar, bahwa kita baru saja melakukan hal yang sangat tidak terpuji.

Bisa saja orang yang kita komentari mengurung diri, karena kata-kata negatif yang kita lontarkan mengendap pada dirinya. Meskipun kita tidak melakukan kontak fisik yang merugikan. Sadarlah ini jauh lebih kejam.

Mengomentari orang gemuk, malah akan membuat kita bertambah gemuk. Percaya atau tidak, ini merupakan kesimpulan dari riset unik yang dilakukan oleh Florida Sate University. Hasil penelitian tersebut melaporkan, orang yang sering mengomentari orang lain gemuk pada umumnya cenderung mengalami kenaikan berat badan sebanyak 2,5 kali lipat. (www.guesehat.com/yuk-stop-melakukan-body-shaming).

Kok bisa? Pasalnya, semakin sering mengomentari orang lain gendut, semakin membuat Kita merasa seksi dan baik-baik saja. Akibatnya, Kita merasa tidak perlu menjaga pola makan dan jadi lebih banyak makan. Sikap lupa diri inilah yang pada akhirnya membuat tubuh kita menggemuk.

Bukan hanya di dunia nyata, di dunia maya sosial media ruang tanpa batas saling adu argumentasi. Tak peduli kenal atau tidak, saling mencela dan menghujat siapapun yang dinilai tidak sesuai dengan kriteria kecantikan/ketampanan yang meraja lela, hal ini sering kita dengar dengan sebutan body goals. Publik figur sekalangan artis/aktor adalah sasaran empuk para body shamer.

"Itukan memang resiko jadi artis, kalau masih baperan gak usah jadi artis aja!" kalimat ini sering ditemukan pada kolom komentar para artis yang menunjukkan reaksi positif setelah terkena body shaming, netizen yang maha benar tak puas hati, karena ekspektasinya terhadap sang artis mengalami penolakkan. Suatu perilaku bodoh para manusia yang sedang lupa bahwa dia adalah manusia. Mereka tak berfikir bahwa ada pihak yang terluka.

Pelaku body shaming sama saja dengan pembunuh, ya dia adalah seorang pembunuh karakter. Dimana korbannya akan berusaha merubah dirinya menjadi seperti orang lain yang ia anggap sempurna. Nyatanya di dunia ini tak ada satupun yang sempurna, apa yang ada pada diri kita adalah hal paling baik yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Jangan biarkan indahnya perbedaan hanya menjadi dongeng, yang akan diceritakan sebagai pengantar tidur dimasa depan. Dengan menerima serta bersyukur dengan apa yang ada, kita akan terhindar dari nistanya sebuah perbuatan body shaming. Percayalah seseorang yang bersyukur dan berbahagia dengan apa yang ia miliki akan mengeluarkan aura positif dan memancarkan inner beauty.

Cobalah belajar menghargai serta menerima apa yang ada pada diri kita, dengan demikian kita dapat menghargai orang dan berhati-hati dalam berucap. Stop semua pembodohan yang kita ciptakan!. (***)
Tag:Gendut
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)