Berorientasi Industri, Pendidikan Jadi Kehilangan Visi

595 view
Berorientasi Industri, Pendidikan Jadi Kehilangan Visi
Ilustrasi (Foto: Int)

DATARIAU.COM - Dunia pendidikan dan dunia kerja kini bagai mata rantai yang tak terpisahkan. Ditambah lagi, konsep di tengah masyarakat pun kian mempertegas. Bahwa setelah lulus jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/ Perguruan Tinggi Vokasi (Program Kejuruan), target selanjutnya adalah mencari pekerjaan. Akan tetapi, itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Nyatanya, pengangguran dimana-mana. Latar belakang pendidikan yang tinggi pun tak menjamin langsung mendapat kerja. Entah karena sumber lapangan pekerjaannya yang tak memadai ataukah karena kualitas sumber daya manusianya yang tak mumpuni. Tentunya, perlu pendalaman lebih untuk menjawabnya. Namun yang jelas, keduanya berkontribusi menimbulkan polemik tingkat pengangguran yang terus meroket.

Megatasi polemik ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan beberapa program. Dilansir dari www.kompas.com (30/06) Salah satu program prioritas yang tengah digencarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) adalah gerakan "Pernikahan Massal? (Link and Match) antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI). 

?Menurut saya pernikahan massal ini analogi yang tepat karena menunjukkan komitmen yang permanen. Vokasi baru akan lengkap dengan kehadiran praktisi dan kurikulum yang mengikuti kebutuhan dari industri," tutur Nadiem dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Sepintas, gerakan ini tampak membawa angin segar bagi para peserta didik vokasi. Karena dengan program perjodohan ini, tentu masa depan mereka di dunia kerja bisa sedikit tercerahkan. Namun, tak bijak rasanya jika kita mengapresiasi program ini terlalu dini. Masih banyak yang perlu dikritisi. Demi kemajuan pendidikan negeri ini yang kini masih menjadi mimpi.

Bagaimana tidak, kacaunya sistem pendidikan sekarang ini begitu nyata dirasa. Misalnya saja mengenai standarisasi Ujian Nasional yang masih banyak dipertanyakan oleh para ahli. Sampai sekarang masih saja digunakan sebagai penentu kelulusan siswa. Padahal negara-negara lain sudah banyak yang meninggalkannya. Belum lagi terkait kurikulum yang terkesan memaksa kapasitas seorang guru maupun murid. Sebut saja pembelajaran tematik yang harus diterapkan di kelas. Jatuhnya malah terkesan membingungkan, karena guru harus bisa memadukan beberapa pelajaran dalam satu tema. 

Lalu, akankah dengan program link and match (pernikahan massal) ini bisa membantu dunia pendidikan saat ini? Jika kita lihat kembali visi pendidikan Indonesia yang tercantum dalam UUD 1945. Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari sini kita bisa melihat ada ketidakharmonisan tatkala program link and match tadi dijajarkan dengan visi pendidikan nasional. Program link and match, tentunya akan berfokus untuk mencetak peserta didik yang berdaya di dunia industri dan kerja. Bisa terlihat jelas dari deskripsi programnya. Misalnya, lebih banyak mendatangkan tenaga dosen tamu yang merupakan praktisi langsung, menambah waktu dan pengalaman magang yang lebih mendalam kepada peserta magang, dan lain sebagainya. Ini sama saja kian mengokohkan peran Lembaga Pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi industri.

Jika begini, sangat jauh rasanya untuk bisa mencapai visi pendidikan nasional. Terbayang dibenak kita, bagaimana pendidikan yang condong berorientasi pada industri hanya akan menghasilkan individu-individu yang berguna bagi dunia industri dan kerja. Namun tak bisa banyak memberi manfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal kondisi negeri saat ini sedang darurat akan sosok pemimpin yang amanah yang mampu memberikan perubahan yang menyeluruh bagi rakyat. 

Berbicara mengenai sistem, memang tak aneh jika sistem pendidikan sekarang bisa menjadi seperti ini. Inilah hasil dari penerapan sistem neoliberalime dikehidupan. Pertumbuhan ekonomi di atas segala-galanya. Sehingga kesehatan rakyat sampai pada pendidikan rakyat pun dikesampingkan, demi majunya pertumbuhan ekonomi.

Berbanding terbalik dengan sistem Islam. Terkait pengurusan kebutuhan rakyat seperti kesehatan maupun pendidikan merupakan prioritas utama sebuah negara. Dalam hal pendidikan, islam terbukti mampu melahirkan generasi yang gemilang. Bukan hanya cerdas dalam berbagai bidang keahlian. Namun juga berhasil mencetak pribadi-pribadi yang taat pada Allah SWT dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Oleh karenanya, hari ini kita bisa mendengar kisah Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda muslim yang berhasil memimpin pasukan untuk menaklukkan Kota Konstantinopel di usia yang masih terhitung muda. Hal itu bisa ia raih tentu bukan hanya karena kecerdasan dan jiwa kepemimpinannya yang kuat, akan tetapi juga karena ketaatannya pada Allah SWT.(*)

Wallahu a?lam bish shawab.

Penulis
: Astuti Rahayu Putri
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)