DATARIAU.COM - Akibat dampak dari pandemi virus corona (COVID 19) membuat ekonomi semakin menurun. Sehingga perekonomian dunia berada di ambang ketidak pastian akibat pandemi virus corona. Termasuklah perekonomian Indonesia yang di prediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, melihat Negara tetangga Singapura sudah menelan pil pahit akibat pandemi. Bahkan, dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tidak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Ekonomi Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi COVID-19 terus bertambah banyak. Terlebih lagi, Presiden Joko Widodo beberapa kali mengingatkan para menterinya soal anacaman tersebut. (detikfinance.com).
Terdapat beberapa Negara yang terkena dan terancam resesi pada tahun 2020. Seperti Singapura secara resmi mengalami resesi pada kuartal II-2020. Terakhir kali Singapura mengalami resesi pada tahun 2008 saat krisis finansial global. Jepang terjun ke dalam resesi pertama sejak 2015 karena corona pada pengumuman resmi Mei lalu. Secara kuartalan ekonomi kuartal I 2020 berkontraksi atau minus 0,9%. Berdasarkan data Depertemen Statistik dan Sensus Hong Kong, ekonomi wilayah ini terkontraksi 8,9 persen pada kuartal awal tahun ini akibat krisis politik dan wabah Covid-19. Jerman mengumumkan masuk jurang resesi sejak April 2020. Perlambatan ekonomi karena corona membuat runtuhnya permintaan global, gangguan pasokan, perubahan perilaku konsumen dan ketidak pastian di kalangan investor. PDB Prancis, turun 5,8% di kuartal I 2020 menurut data badan statistic Negara itu INSEE, ini menjadi penurun terbesar sejak 1949. Italia juga memasuki resesi di kuartal I 2020 kemarin. Saat, PDB dilaporkan turun 4,7% dibandingkan kuartal sebelumnya, sebagaimana dilaporkan lembaga statistic setempat ISTAT. Ini merupakan data terburuk sejak 1995. Sebelumnya di kuartal akhir 2019 ekonomi Italia 0,3%. Dalam tempo dua pekan kedepan, ada satu Negara maju lagi berisiko resmi mengalami resesi yaitu Negara adikuasa Amerika Serikat (AS). Namun bukan pertama kai AS mengalami resesi. (CNBCIndonesia.com).
Itulah beberapa Negara yang mengaami resesi ekonomi selama Covid-19 bahkan semakin memburuk apa yang dimaksud dengan resesi? Resesi adalah kondisi ketika produk domestic bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu Negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Menurut Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menjelaskan, resesi dapat dilihat masyarakat dari beberapa tanda, antara lain pendapatan yang menurun, kemiskinan bertambah, penjualan khususnya motor dan mobil anjlok dan sebagainya. Bagi perbankan, bukti resesi adalah meningkatnya angka kredit macet alias Non Performing Loan (NPL). Sedangkan di pemerintahan bukti resesi juga dapat dilihat dengan meningkatnya angka utang luar negeri.
Terdapat 5 indikator ekonomi yang di jadikan acuan suatu Negara mengalami resesi yaitu, PDB ril, pendapatan, tingkat pengangguran, manufaktur, dan penjualan ritel. Resesi sebenarnya adalah hal yang biasa dan kerap terjadi dalam sebuah siklus perekonomian, tetapi dampak yang diberikan ketika terjadi resesi cukup buruk.
Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi benar terjadi. Hal yang sama juga disampaikan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, menurutnya, di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan. Sedangkan wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto pernah menjelaskan bahwa ketika resesi terjadi maka akan ada ledakan gelombang pengangguran. Ujung-ujungnya orang miskin akan bertambah.
Inilah ancaman resesi yang berimbasnya kepada masyarakat. Sehingga masyarakat semakin menderita dan miskin. Resesi sudah di depan mata, dan bukan solusi tuntas untuk mengambil ekonomi kapitalis sebagai rujukkan dalam penyelesaian resesi ini. Apakah cukup rekayat menghadap resesi dengan tidak boros dan berhemat?
Sebelum datangnya wabah corona, sebenarnya dunia sudah terancam krisis ekonomi, pada 16 Oktober 2019, IMF menyatakan pertumbuhan ekonomi dunia berbeda pada laju terburuk sejak krisis keuangan global. Indonesia juga sudah mengalami perlambatan ekonomi yang signifikan sejak triwulan I-2019. Namun dengan adanya wabah, krisis menjadi kian berat, lebih parah dibandingkan krisis 1998.
Dalam sistem ekonomi kapitalisme, krisis ekonomi selalu terjadi mengikuti siklus sepuluh tahunan. Pada 1998 terjadi krisis moneter. Sepuluh tahun kemudian yakni pada 2008, dunia mengalami krisis finansial yang diawali kejatuhan Lehman Brothers. Kini di tahunan 2020 krisis ekonomi datang lagi. Wabah corona memperparah krisis yang ada. Krisis yang berulang bahkan sampai resesi dan depresi merupakan tabiat kapitalisme. Disebabkan fondasi ekonominya yang rapuh. Karena fondasi sistem ekonomi kapitalisme memang dibangun dari struktur ekonomi yang semu, yakni ekonomi sector non rill. Bukan ekonomi yang sesungguhnya yaitu ekonomi sector rill.
Solusi resesi bukan sekedar hanya suruh hidup hemat atau tidak boros. Menjauhi sikap boros memang merupakan ajaran Islam, namun tidak cukup untuk menyelesaikan resesi karena solusinya bersifat individual. Sementara itu penyebab krisis bersifat sistemis bahakan fundamental. Jadi solusi untuk menyelesaikan krisis tersebut yakni mengubah sistem ekonomi kapitalisme menjadi ekonomi Islam.
Sistem ekonomi Islam adalah sistem tahan krisis karena berdasarkan pada ekonomi riil. Kemudian sistem ekonomi adalah hukum atau pandangan yang membahas distribusi kekayaan, pemilikan serta bagaimana mengelolanya. Dalam Islam kepemilikan di bagi menjadi tiga: pemilikan individu, pemilikan umum, dan pemilikan Negara.
Pembagian kepemilikan ini sangat penting agar tidak terjadi hegemoni ekonomi. Yakni pihak kuat menindas yang lemah. Seperti pencaplokan kepemilikan umum oleh swasta, baik asing maupun local. Contohnya seperti pencaplokan sector tambang gas, minyak bumi, kehutanan dan yang lainnya. Akibatnya, ekonomi para kapitalis menjadi kuat, menggurita dan menguasai Negara.
Jika pembagian kepemilikan ini sudah tegas dan benar, maka sistem ekonomi Islam akan mengatur bagaimana pembangunan dan pengembangan ekonomi yang bener, yaitu harus bertumpu pada pembangunan sector ekonomi riil dan bukan ekonomi non riil. Terakhir dari ekonomi Islam adalah distribusi harta kekayaan oleh individu, masyarakat maupun Negara.
Ekonomi Islam menjamin seluruh rakyat Indonesia terpenuhi semua kebutuhan dasarnya. Sistem ekonomi Islam juga menjamin seluruh rakyatnya dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersiernya. Luar biasa bukan? Maka dari itu kembalilah kepada sistem Islam yang sudah jelas sistem ekonominya.
Untuk pencegahan resesi secara singkat, terdapat beberapa pilar ajaran Islam yang menutup celah munculnya resesi terutama yang bersumber dari sistem keuangan. Di antaranya: Islam mengharamkan transaksi riba. Riba merupakan transaksi yang tidak sehat secara ekonomi. Alasannya, antara lain terciptanya kezaliman dalam masyarakat. Dalam Islam, pinjaman dikatagorikan sebagai aktivitas social, yang ditujukan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Bahkan Islam mendorong pihak kreditor untuk memberikan tempo penundaan pembayaran dan bahkan penghapusan kredit jika debitur mengalami kesulitan. Pada level Negara, Baitul Mal menyediakan pos khusus untuk memberikan bantuan modal bagi pihak yang membutuhkan, seperti para petani dan pedagang. Islam menjadikan mata uang Emas dan perak sebagai standar moneter. Isam mengharamkan konsep liberalisme ekonomi, termasuk dalam aspek kebebasan memiliki dan pasar bebas. Dan Islam mewajibkan pemerintah untuk menjamin pemenuhan hak-hak dasar rakyat. Yaitu pangan, pakaian dan perumahan. Termasuk menyediakan layanan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara geratis.
Oleh sebab itu, Negara-negara yang tetap kukuh menerapkan sistem kapitalisme mustahil selamat dari bencana ekonomi yang menyebabkan resesi. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk memangkal terjadinya hal tersebut adalah menerapkan ajaran Islam secara paripurna dalam sebuah sistem pemerintahan yaitu Negara Islam.(*)
Wallahu a?lam bis-shawab