Akhiri Resesi di Masa Pandemi

703 view
Akhiri Resesi di Masa Pandemi
Foto: Ist
Atik Nuryanti S Pd, Praktisi Pendidikan.

DATARIAU.COM - Apa Itu Resesi? National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai "periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebar di seluruh ekonomi dan berlangsung selama lebih dari beberapa bulan". Suatu negara dikatakan mengalami resesi jika produk domestic bruto (PDB) mengalami kontraksi atau minus dalam 2 kuartal beruntun secara tahunan atau year-on-year (YoY). Sementara jika PDB minus 2 kuartal beruntun secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ) disebut sebagai resesi teknikal.

Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi perekonomian global. Beberapa negara telah  masuk ke jurang resesi, antara lain: Italia, Singapura, Jerman, Jepang, dan Prancis. Bagaimana dengan Indonesia? 

Indonesia  pernah mengalami resesi pada tahun 1998, dan ada risiko akan terjadi lagi di tahun ini. Sebabnya, tentu saja pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti.

Tidak hanya resesi, bahkan saat itu Indonesia dikatakan mengalami depresi akibat PDB yang minus dalam 5 kuartal beruntun. Sepanjang 1998, PDB Indonesia mengalami kontraksi 13,02%.

Di kuartal I-2020, perekonomian Indonesia hanya tumbuh 2,97% YoY, turun jauh dari kuartal IV-2019 sebesar 4,97%. Di kuartal ini, perekonomian berisiko semakin nyungsep, sebabnya, penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mulai berlaku efektif di beberapa daerah. Sementara pada kuartal I lalu, kebijakan PSBB belum diterapkan. Akibatnya, roda perekonomian di kuartal II mengalami perlambatan signifikan, sehingga pertumbuhan ekonomi terancam merosot. (cnbcindonesia.com/ 18/07). 

Maka telah nyata dampak resesi ini dirasakan oleh masyarakat. Daya beli menurun, data pengangguran, penyerapan tenaga kerja minim, aktivitas manufaktur, serta penjualan ritel Indonesia sudah mengirim sinyal potensi terjadinya resesi. Termasuk di negara-negara Barat. 

Kerapuhan sistem ekonomi kapitalismelah yang menyebabkan mudahnya perekonomian dalam negeri maupun skala dunia goncang. Sejak dari awal sistem kapitalis telah membawa cacat resesi dan hari ini semakin terpuruk bersamaan dengan adanya pandemi. Resesi akan senantiasa berulang selama sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem kapitalis. Mengapa? 

Pertama, ekonomi kapitalis merupakan monetary based economy. Artinya, ekonomi kapitalis adalah ekonomi berbasis sektor moneter atau keuangan yang merupakan sektor non riil. Keuntungan ekonomi tidak diperoleh dari kegiatan investasi produksi barang dan jasa. Keuntungan itu diperoleh melalui investasi spekulatif dalam sektor non riil. Misalnya, melalui kredit perbankan serta jual beli surat berharga seperti saham dan obligasi. Dengan ekonomi berbasis moneter seperti ini, kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari riba. Karena berbasis riba, sistem moneter ini justru membahayakan sistem keuangan secara keseluruhan. Akan ada obligasi yang tidak dibayar (default)  dan kredit macet. Jumlahnya pun akan  terus bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini akan mempengaruhi sektor riil dan perekonomian secara umum. 

Kedua, ekonomi kapitalis adalah ekonomi berbasis flat money atau uang kertas. Sejak dolar AS tidak lagi dikaitkan dengan logam mulia pada tahun 1970-an, mata uang yang berlaku hanya berlandaskan pada kepercayaan. Karena tidak ditopang dengan logam mulia, nilai intrinsik  uang kertas tidak sama dengan nilai nominalnya. Karenanya, uang kertas mempunyai kelemahan mendasar, yaitu terkena inflasi permanen.

Ketiga, ekonomi kapitalis merupakan ekonomi berbasis utang. Utang yang dilakukan oleh negara-negara pengemban kapitalis maupun negara-negara berkembang dari tahun ke tahun terus meningkat. Saat utang semakin membebani negara, negara bisa saja mencetak uang baru. Hal ini akan menyebabkan inflasi. Inflasi yang terjadi di negara besar, akan berdampak pula pada negara berkembang.

Ketiga hal inilah yang berperan dalam mendukung eksistensi ekonomi kapitalis. Ketiganya bersinergi untuk menutupi cacat bawaan sistem ekonomi kapitalis yang rapuh dan mudah tergoncang.

Saat terjadi resesi, negara akan melakukan upaya untuk menyelamatkan perekonomiannya. Ada 3 langkah yang dilakukan. 

Pertama, menyuntikkan miliaran dolar untuk menyehatkan likuiditas bank dan lembaga keuangan. Kedua, membeli saham, obligasi, dan surat berharga yang telah kehilangan sebagian besar nilainya. Ketiga, menurunkan suku bunga agar kredit meningkat sehingga menggerakkan kegiatan usaha di sektor riil.

Meskipun langkah-langkah ini dianggap mampu menyehatkan perekonomian, sejatinya hanya kesehatan semu yang didapat. Krisis akan kembali terjadi. Hal ini karena solusi yang diambil hanya mampu mengobati gejala sakitnya. Sementara sumber penyakitnya tidak tersentuh (Mariyatul Qibtiya dalam republika.co.id).

Karena itu sudah seharusnya umat ini menngganti konsep dan penerapan sistem ekonomi kapitalisme menjadi sistem Islam yang tahan krisis sebab Sistem Ekonomi Islam berdasarkan pada ekonomi riil dan bukan sektor nonriil. Dalam Islam, pengaturan ekonomi harus diawali dengan menata pembagian kepemilikan ekonomi secara benar.

Islam  menetapkan sejumlah harta kekayaan dan sumber daya alam sebagai milik umum, seperti tambang yang yang depositnya melimpah; sarana-sarana umum yang amat diperlukan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari (air, padang rumput, api, dll); dan harta-harta yang keadaan aslinya terlarang bagi individu tertentu untuk memilikinya (sungai, danau, laut, masjid, lapangan, dll). Sebagai milik umum, semua harta kekayaan itu boleh dimafaatkan oleh setiap individu. Kepemilikan umum ini dalam sistem ekonomi Islam wajib dikelola oleh negara dan haram diserahkan ke swasta atau privatisasi baik asing maupun lokal yang justru memperkuat ekonomi para kapitalis.   

Rasul Shallallahu ?alaihi wa sallam bersabda: "Kaum muslimin bersyerikat dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan energi api," (HR. Ahmad).

Islam memang tidak mengharuskan persamaan dalam kepemilikan kekayaan, namun Islam tidak membiarkan buruknya distribusi kekayaan. Islam memandang individu sebagai manusia yang harus dipenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya secara menyeluruh. 

Mekanisme distribusi kekayaan dalam sistem ekonomi Islam. Pertama, mekanisme pasar. Yakni mekanisme yang dihasilkan dari proses tukar-menukar dari para pemilik barang dan jasa. 

Mekanisme ini diterangkan dalam firman Allah subhanahu wa ta?ala berfirman yang artinya : ?Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu," (QS al-Nisa? [4]: 29).

Tidak sekadar diizinkan, Islam juga menetapakan berbagai hukum yang mengatur mekanisme ini. Berbagai tindakan yang dapat mengakibatkan deviasi harga dan merugikan para pelaku jual-beli dilarang. Islam melarang praktik penimbunan barang (al-ihtik?r), sebuah praktik curang yang dapat menggelembungkan harga dan merugikan masyarakat.

Patut dicatat, distribusi kekayaan dalam sistem ekonomi Islam tidak hanya dilakukan di ujung akibat. Penataan distribusi kekayaan dimulai sejak penetapan hukum tentang kepemilikan dan pengelolaannya. 

Terkait riba, Islam jelas telah mengharamkannya. Maka negara tidak akan  mengikuti mekanisme apapun di  pasar bebas yang berbasis riba. Ini akan menjauhkan negara dari krisis dan terjerat utang. 

Mengganti penggunaan uang kertas ke penggunaan uang dinar dan dirham  Uang kertas yang selama ini dikenal dan dipakai, tanpa disadari memiliki nilai intrinsik yang tidak stabil, salah satunya dikarenakan inflasi. penggunaan uang dinar dan dirham tidak terpengaruh oleh inflasi. Uang dinar dan dirham tidak bisa digoyang inflasi karena nilai intrinsiknya berupa emas dan perak.

Jika sistem  ekonomi ini diterapkan dalam suatu negara secara konsisten, maka problema ancaman resesi di tengah-tengah masyarakat dapat diatasi. Bahkan melalui penerapan hukum-hukum Islam secara totalitas, problematika itu dapat diantispasi sejak awal dan keadilan dapat ditegakkan.(*)

Allahu A?lam bi Ash Shawab

Penulis
: Atik Nuryanti
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)