DATARIAU.COM - Kaum muslimin memiliki dua hari raya, yakni hari raya ?Idul Fithri dan ?Idul Adha. ?Idul Fithri jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah Ramadhan, bulan puasa. Sementara ?Idul Adha jatuh pada tanggal 10 Zulhijjah pada tahun hijriyah. Beberapa hari lagi, kita akan merayakannya.
?Idul Adha sering juga disebut hari raya haji. Pada bulan ini, kaum muslimin yang mampu disyariatkan Allah Subhana Wata'ala untuk melaksanakan ibadah haji. Yakni berziarah ke baitullah di Mekkah. Melaksanakan syarat dan rukun haji, yang merupakan bagian dari rukun Islam.
?Idul Adha juga disebut sebagai hari raya kurban. Sebab, pada bulan ini kaum muslimin melaksanakan ibadah kurban. Yakni menyembelih hewan kurban seperti kambing, sapi, kerbau dan unta. Sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhana Wata'ala atas segala karunia yang telah dianugrahkanNya.
Syariat berkurban mengingatkan kita pada sebuah kisah agung Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Dua Nabi Allah yang mulia. Kisah luar biasa yang menunjukkan totalitas dalam taqwa. Kisah seorang ayah yang rela mengurbankan anak kesayangan demi melaksanakan perintah Allah Subhana Wata'ala. Demikian pula, seorang anak dengan kebersihan hati siap untuk dikurbankan. Semua karena perintah Allah Subhana Wata'ala. Dialog ini diabadikan Allah Subhana Wata'ala melalui firmanNya dalam Al Quranul Kariim,
?Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ?Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!? Dia (Isma?il) menjawab, ?Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, InSya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,? (Q.S Ash Shaffat : 102).
?Maka ketika keduanya telah berserah diri dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, ?Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,? (Q.S Ash Shaffat : 103 - 107).
Sebuah pengorbanan yang sangat menakjubkan. Sebab, mampu meletakkan cinta kepada keluarga di bawah kecintaan kepada Allah Subhana Wata'ala. Taat kepada perintah Allah meski harus mengorbankan putra tercinta. Sebuah keteladanan yang luar biasa. Lalu bagaimana dengan kita ?
Totalitas dalam taqwa berarti total/ menyeluruh dalam taat kepada Allah Subhana Wata'ala. Melaksanakan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang dengan penuh ketundukan.
Sebagaimana firman Allah Subhana Wata'ala, ?Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,? (Q.S Al Baqarah : 208).
Di tengah sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini, sangat sulit bagi kaum muslimin untuk totalitas dalam taqwa. Mengapa ? sebab sistem kapitalisme dengan asas sekuler, mengenyampingkan aturan Allah Subhana Wata'ala. Agama hanya dianggap mengatur urusan private/ ibadah. Agama hanya menjadi urusan spiritual antara hamba dengan Tuhannya. Sedangkan urusan kehidupan, pengaturan diserahkan kepada akal manusia.
Hal ini bisa dilihat dari berbagai lini kehidupan. Perekonomian dijalankan dengan basis utang riba. Tidak ada batasan interaksi dalam sistem sosial sehingga menimbulkan pergaulan bebas. Sistem politik yang sangat buruk, mementingkan segelintir elit pejabat dan konglomerat. Sistem pengadilan, dimana hukum bisa diperjual belikan dan jauh dari kata adil. Sistem persanksian terhadap para pelaku kriminal yang tidak memberi efek jera, dll.
Adalah sesuatu yang wajar, jika kerusakan menghampiri semua lini kehidupan. Sebab, akal manusia yang terbatas tidak mampu membuat aturan yang adil. Jika pengaturan diserahkan kepada manusia, tentu akan cenderung kepada hawa nafsu dan kepentingan. Sementara aturan Allah, pasti menghantarkan kepada kemashlahatan. Sebab, alam semesta, manusia dan kehidupan adalah ciptaanNya. Pasti Dia Maha Mengetahui segala sesuatu tentang ciptaanNya.
Islam merupakan sebuah Ad Diin (pandangan hidup) diturunkan oleh Allah Subhana Wata'ala. Syariah Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam hal ibadah (hablum minallah); hubungan manusia dengan dirinya sendiri yakni dalam hal makanan, pakaian, minuman dan akhlak (hablum minannafs); dan hubungan dengan sesama manusia mencakup ekonomi, sosial, pendidikan, persanksian, politik dan pemerintahan (hablum minannaas).(*)
Semoga Allah Subhana wata'ala memberikan taufik kepada kita semua.
Wallahu A?lam..