SMM PANEL INDO

Indonesia Berduka: Ketika Hutan Jadi Ladang Bisnis, Dari Kalimantan hingga Papua

Oleh: Alfira Khairunnisa
datariau.com
126 view
 Indonesia Berduka: Ketika Hutan Jadi Ladang Bisnis, Dari Kalimantan hingga Papua
Ilustrasi. (Foto: Int.)

Yang kita butuhkan adalah langkah pencegahan yang sistemik dan berani:

Pertama, Penegakan hukum tanpa tebang pilih. Jerat pidana harus sampai ke korporasi dan pemilik lahan. Sita aset, cabut izin, dan umumkan ke publik siapa pelaku sebenarnya.

Kedua, Restorasi gambut secara serius. Lahan gambut yang basah tidak akan terbakar. Ini investasi jangka panjang yang lebih murah dibanding biaya pemadaman dan kerugian akibat asap setiap tahun.

Ketiga, Edukasi dan alternatif ekonomi bagi masyarakat. Selama masyarakat tidak punya pilihan lain, bakar lahan akan tetap jadi opsi. Beri pelatihan, beri akses pasar, beri pendampingan.

Keempat, Keterbukaan data dan partisipasi publik. Data karhutla harus dibuka real time. Libatkan masyarakat, kampus, dan media untuk mengawasi. Karena menjaga hutan adalah tugas kita bersama.

Allah berfirman: "Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya" QS. Al-A'raf: 56.

Menjaga kelestarian alam adalah bagian dari iman. Merusak lingkungan berarti menzalimi generasi yang akan datang.

Rakyat Tidak Boleh Lagi Jadi Korban


Lihat NTT yang masih berduka karena gempa. Lihat Desa Adat Sade di Lombok yang rumah-rumah warisan leluhur hangus terbakar. Lihat Aceh yang proses pemulihannya belum selesai. Lihat Papua yang asapnya sampai membatalkan penerbangan. Rakyat sudah terlalu banyak menanggung beban.

Jangan tambahkan beban baru berupa asap. Jangan biarkan mereka kembali mengungsi bukan karena bencana alam, tapi karena ulah manusia.

Negara punya tanggung jawab konstitusional untuk melindungi warga dan lingkungan hidup. Pasal 28H UUD 1945 dengan jelas menyebut setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Itu janji negara. Dan janji harus ditepati.

Karhutla 2026 sudah masuk fase darurat. Jika kita hanya sibuk memadamkan tanpa membenahi akar masalahnya, maka tahun depan kita akan menulis opini yang sama. Dengan data yang lebih besar. Dengan korban yang lebih banyak. Dengan kerugian yang lebih dalam.

Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan cuaca. Sudah saatnya kita berhenti berpura-pura tidak tahu siapa di balik api. Sudah saatnya negara, perusahaan, masyarakat, dan kita semua memikul tanggung jawab masing-masing.

Karena setiap hektare yang terbakar adalah masa depan yang ikut hangus. Dan masa depan itu milik anak-anak kita. Wallahu'alam bishoab.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)