'Laksamana Mengamuk' di Tengah Perubahan Selera Konsumsi Masyarakat

Oleh: Christina Amanda Surbakti*
datariau.com
944 view
'Laksamana Mengamuk' di Tengah Perubahan Selera Konsumsi Masyarakat
Ilustrasi. (Foto: Pinterest)

PEKANBARU, datariau.com - Beberapa tahun terakhir, lanskap konsumsi minuman masyarakat Riau terlihat semakin beragam. Minuman dengan konsep modern mudah ditemui, mulai dari kedai kecil di pinggir jalan hingga gerai berkonsep kekinian di pusat kota. Ragam pilihan ini mencerminkan perubahan selera konsumsi masyarakat yang semakin dinamis.

Di balik maraknya minuman modern tersebut, minuman tradisional khas daerah justru semakin jarang dijumpai dalam ruang konsumsi sehari-hari. Salah satunya adalah Laksamana Mengamuk, minuman tradisional khas Riau yang dahulu cukup dikenal, namun kini keberadaannya tidak lagi semudah dulu untuk ditemukan. Laksamana Mengamuk merupakan minuman tradisional berbahan dasar mangga kuini yang dikenal dengan cita rasa khas dan aroma yang kuat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga pada kelompok makanan dan minuman masih menempati porsi yang cukup besar dalam struktur pengeluaran masyarakat. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir terlihat adanya peningkatan. Persentase pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan minuman jadi tercatat sebesar 13,50 persen pada tahun 2022, meningkat menjadi 13,77 persen pada tahun 2023, dan kembali naik menjadi 13,96 persen pada tahun 2024. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa konsumsi makanan dan minuman jadi semakin mendapat tempat dalam pola konsumsi masyarakat.

Di tengah meningkatnya konsumsi makanan dan minuman jadi, minuman modern dengan konsep praktis, visual menarik, dan mudah diakses tampak lebih dominan dalam keseharian masyarakat. Dalam ruang konsumsi yang terus berubah, preferensi masyarakat cenderung bergerak ke arah minuman dengan kemasan menarik, variasi rasa yang beragam, serta kemudahan akses. Minuman modern hadir bukan hanya sebagai pelepas dahaga, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup. Kondisi ini secara perlahan menggeser posisi minuman tradisional yang umumnya dijual secara terbatas, dengan skala usaha kecil, dan minim dukungan promosi. Laksamana Mengamuk berada di tengah dinamika tersebut bukan karena kehilangan nilai, melainkan karena ruang konsumsinya semakin menyempit.

Padahal, Laksamana Mengamuk bukan sekadar minuman. Ia merupakan bagian dari identitas kuliner Riau yang merepresentasikan pengetahuan lokal, penggunaan bahan alami, serta warisan budaya yang diwariskan lintas generasi. Ketika minuman ini semakin jarang hadir dalam konsumsi harian, yang berkurang bukan hanya pilihan minuman, tetapi juga ruang bagi budaya lokal untuk hadir dalam keseharian masyarakat. Dalam konteks ini, tantangan utama minuman tradisional bukan pada rasa, melainkan pada relevansi dan visibilitas di tengah perubahan selera konsumsi.

Perubahan pola konsumsi masyarakat sejalan dengan berkembangnya usaha minuman skala kecil maupun besar. Banyak pelaku usaha memilih konsep modern karena dinilai lebih sesuai dengan permintaan pasar saat ini. Sementara itu, minuman tradisional sering kali tertinggal, baik dari sisi inovasi penyajian maupun pengenalan kepada generasi muda. Laksamana Mengamuk menjadi contoh bagaimana minuman tradisional harus berhadapan dengan realitas pasar yang semakin kompetitif, meskipun secara umum pengeluaran konsumsi makanan dan minuman masyarakat terus meningkat.

Dalam konteks ini, menjaga keberadaan minuman tradisional bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, diperlukan upaya agar minuman seperti Laksamana Mengamuk dapat kembali hadir dalam konteks konsumsi masyarakat masa kini. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengemasan yang lebih adaptif, keterlibatan dalam kegiatan budaya dan pariwisata daerah, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana pengenalan nilai dan cerita di balik minuman tradisional. Tujuannya bukan menjadikan minuman tradisional sebagai tren sesaat, melainkan memastikan ia tetap dikenal dan memiliki tempat dalam preferensi konsumsi masyarakat.

Perubahan pola konsumsi adalah keniscayaan. Namun, di dalam perubahan tersebut, selalu ada ruang bagi produk lokal untuk bertahan jika diberi kesempatan. Laksamana Mengamuk tidak harus bersaing secara langsung dengan minuman modern, tetapi perlu dihadirkan kembali sebagai pilihan yang memiliki nilai budaya dan keunikan tersendiri. Dengan demikian, peningkatan pengeluaran konsumsi masyarakat tidak hanya dinikmati oleh produk-produk baru, tetapi juga memberi ruang bagi warisan kuliner lokal untuk tetap hidup di tengah perubahan selera konsumsi.***

*) Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Negeri Medan

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)