SELATPANJANG, datariau.com - Jembatan panglima sampul yang terletak di Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti tampak seperti tidak ada masalah dengan kondisi kekuatannya, mengingat sudah lama dibangun sejak zaman Pemerintah Kabupaten Bengkalis (sebelum Meranti dimekarkan).
Jembatan penghubung antara Kecamatan Tebingtinggi Barat dan Kecamatan Tebingtinggi itu mulai dikhawatirkan terhadap kekokohannya dengan usia yang sudah cukup tua. Apalagi saat ini sering dilalui kendaraan tonase tinggi membawa bahan material.
Namun, pihak pemerintah belum bisa berbuat apa-apa. Sebab diakui tidak ada jalan lain yang bisa dilalui lagi dalam memobilisasi kebutuhan material.
Menanggapi hal ini, Ketua Komisi B DPRD Kepulauan Meranti, Dedi Putra SHi menilai memang sepatutnya pemerintah bisa segera memikirkan bagaimana cara memobilisasi barang dan material tanpa harus merusak jembatan. Agar jembatan tersebut tidak rubuh sebelum dibangun jembatan baru.
"Memang kita sudah memikirkan hal ini. Kita sudah minta bagaimana bisa dibangun satu lagi jembatan di samping jembatan Panglima Sampul tersebut. Sehingga nantinya ada jalan alternatif," kata Dedi Putra SHi, baru-baru ini.
"Apakah tonasenya dibatasi atau bagaimana yang penting ada upaya. Kalau roboh, akan lebih besar kerugian yang kita alami nantinya," ujarnya lagi.
Apalagi jembatan itu menjadi akses dari Pusat Pemerintahan Kabupaten di Selatpanjang ke wilayah Kecamatan Tebingtinggi Barat. Bahkan itu menjadi jalan menuju pelabuhan roll of roll on (roro) di Kampung Balak, yang menghubungkan wilayah Meranti dengan Pelabuhan Buton di Kabupaten Siak dan Kota Pekanbaru sebagai Pusat Pemerintahan Provinsi Riau.
"Kita sudah panggil Pemkab Meranti dan minta siapkan saja Detail Engenering Design (DED)-nya terlebih dahulu. Sehingga nanti, ketika anggarannya tersedia tinggal dibangun saja," pintanya.
Sementara Camat Tebingtinggi Barat, Helfandi juga menjelaskan, dalam mengerjakan proyek pembangunan tiang listrik menuju Kampung Balak pada tahun 2014 lalu, jembatan tersebut dilintasi truk yang mengangkut tiang-tiang beton. Saat ini selain kendaraan berat seperti excavator, jembatan Panglima Sampul itu juga dilalui oleh truk pengangkut material tanah timbun.
"Memang jembatan itu satu-satunya akses penghubung jalur darat dari wilayah Kecamatan Tebingtinggi ke Tebingtinggi Barat. Kita juga tidak bisa berbuat apa-apa saat dilintasi kendaraan tonase tinggi," kata dia.
Oleh karena itu, saat ini ia tengah melakukan upaya meminta Pemkab Meranti untuk mempercepat melakukan pembangunan jembatan tambahan di samping jembatan Panglima Sampul tersebut. Dengan begitu nantinya dapat menjamin jalur darat tetap aman dari Wilayah Kecamatan Tebingtinggi ke Tebingtinggi Barat.
Disisi lain juga antisipasi agar sebagai besar wilayah Kecamatan Tebingtinggi Barat agar tidak terisolir. Karena bagaimanapun tujuan membuat jembatan untuk membuka keterisoliran wilayah dan membantu memajukan perkembangan daerah.
"Memang kalau sempat rubuh jembatan ini bisa-bisa kita terisolir dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Makanya kita sudah terus mendorong ke Pemkab dan pihak DPRD," ucap Helfandi.