“Kami selaku masyarakat kecewa atas bangunan irigasi tersebut karena pekerjaan tidak sesuai, lihat saja dindingnya tipis banyak yang retak-retak, sebagian ada yang sudah pecah juga tidak dilantai, mana seharusnya irigasi itu dibuat lebih tinggi dari sawah, supaya kalau musim kering petani tinggal buka kran air dan langsung mengairi sawah kami,” kata salah seorang warga Alue Merbau yang enggan disebutkan namanya kepada awak media, kemarin.
Warga menambahkan, jika kondisi irigasi seperti ini, maka di musim kering mereka harus memaakai mesin pompa dari paret irigasi untuk mengairi sawah.
“Dengan adanya irigasi bukanya kami petani jadi senang malah jadi susah padahal, kalo kita liat dana lumayan besar tapi bangunanya kok bisa amburadul alias asal jadi. Sepertinya pihak rekanan hanya mencari keuntungan besar tanpa memikirkan masyarakat,” ungkapnya dengan nada kesal seraya meminta pihak berwajib segera memanggil dan mengusut tuntas proyek tersebut.
Untuk tidak menjadi fitnah dan agar pemberitaan yang ditulis berimbang, sejumlah wartawan mencoba menjumpai pihak PPTK di kantor dinas PU Kota Langsa, namun dari staf disana diperoleh informasi kalau yang bersangkutan (AH) sudah keluar.
Lalu sekitar pukul 12:54 siang, sejumlah awak media mencoba untuk menghubungi sang PPTK melalui telepon selularnya, namun seseorang di ujung telpon menjawab kalau hp-nya tertinggal dan langsung menutup telponya.
-
Berita
-
Aceh
-
Berita
-
Berita
-
Berita
-
Berita