Jumadi: Nenek Rosmaida Baru Masuk Islam

datariau.com
1.357 view
Jumadi: Nenek Rosmaida Baru Masuk Islam
Samsul.
Mantan Ketua RT Jumadi.

BAGANBATU, datariau.com - Mantan Ketua Rukun Tetangga (RT) 01 Dusun Menunggal Jaya, Kepenghuluan Bagan Manunggal, Kecamatan Bagan Sinembah, Jumadi mengatakan, bahwa Rosmaida Nainggolan (60) yang tinggal di rumah liar Daerah Milik Jalan (DMJ) perbatasan Lintas Riau-Sumut baru masuk Islam.

Jumadi menceritakan, bahwa nenek itu belakangan ini mengaku baru masuk agama Islam. 

"Dia diisilmakan waktu itu panggil ustadz, tanggalnya saya lupa saat itu. Tapi tahun 2017 ini juga ia masuk Islam. Kalau tak salah sebelum lebaran dia masuk itu (Islam). Diisilamkan di Mushalla SPBU perbatasan ini," kata Jumadi yang mana sekarang menjadi sukuriti SPBU perbatasan Riau-Sumut kepada Datariau.com, Jumat (8/9/2017).

Lanjut Jumadi, bahwa nenek itu saat masuk Islam dirinya juga menjadi saksi pada saat itu di SPBU. "Saya terkejut juga disitu. Loh jadi selama ini kamu tak Islam ya. Kok dulu ngakunya Islam. Jadi saya merasa dibohongi, karena waktu mengurus kependudukan dia mengaku Islam," katanya.

Lebih jauh mantan RT dan kini jadi Anggota BPK Kepenghuluan Bagan Menunggal menceritakan, dulunya nenek ini buka usaha kafe di Lintas Riau Sumut di DMJ jalan. "Tapi sekarang tidak lagi buka kafe," katanya.

Ketika ditanya berapa tempat kafe dimiliki Rosmaida, matan RT ini mengatakan bahwa punya dia saat itu hasil beli-beli punya orang. "Nanti digantinya punya orang, kemudian dijualnya lagi ke orang yang mau beli," ceritanya.

"Tapi, jika ada batas-batas permasalahan di rumah orang tuh baru dipanggilnya saya. Kau ajanya Rosmaida masalah batas ini, ini bukan tanah siapa-siapa ini saya bilang, kelian hanya menumpang aja disini dan siap digusurnya kelian kenapa dipersoalkan itu. Dia jual ke orang tahu berapa miliknya, orang sini tahu tu rata-rata punya dia banyak," ungkapnya.

Lanjut Jumadi, dulu nenek ini tinggal di Simpang Walet, kemudian dijualnya dan dibelinya tempat tinggal dia saat ini. "Saya nggak tahu berapa juta ia beli, kurang tahu saya itu," ceritanya.

Menurut pengakuan nenek itu, lanjutnya, ia dari Eknabara arah Rantau Perapat datang kemari, hingga saat ini dia tinggal di Lintas Riau-Sumut. Kalau dia memiliki lahan sepertinya tak ada disini. Tapi kalau anak ada, dua anaknya. Satu laki-laki dan satu perempuan.

"Untuk status kependudukan nenek itu sangat jelas. Karena saya yang urus KK dan KTP nenek ini. Kalau tak salah tahunya sekitar tahun 2010 gitulah, itu zaman pak Annas jadi Bupati Rohil. Nenek itu asli warga Bagan Manunggal," kata Jumadi.

Kemudian dia menjelaskan lagi bahwa stetus nenek ini dirinya tahu betul, dulunya ia datang hanya sebatang kara. Ia numpang-numpang di lokalisasi. "Dulu di pingir jalan ini belum banyak rumah. Dilihat ada yang sudah bangun rumah tepi jalan ia bikin juga. Kalau tak salah dulu ada pembibitan si Munte rumah dia saat itu. Di sanalah awal ia bikin rumah di DMJ jalan," katanya.

"Setelah kemudian ia jual, selanjutnya ia buka kede (kedai) lagi. Kalau tak salah banyak kedinya saat itu. Kemudian dijual- jualnya bangunanya bagi yang mau beli," terang Jumadi lagi.

Mantan RT ini juga menceritakan, sewaktu dirinya menjabat sudah banyak warung remang di lokasi itu. Awalnya satu-satu. "Kalau tak salah ada sekitar 17 warung remang-remang pada masa saya menjabat untuk wilayah Kepenghuluan Bagan Manunggal. Selebihnya itu rumah liar yang buka usaha jual-jualan," katanya.

Kemudian, semasa dirinya menjabat, dirinya sudah pernah menyurati warung remang dari Upika agar warung remang ditutup dan tidak ada pembongkaran ruli, hanya warung remang saja ditutup untuk selamanya karena masyarakat sudah resah. 

"Kalau tak salah tahun 2010 juga ada dari PTPN III menyurati masyarakat perbatasan. Semasa saya menjabat udah disurati agar warung remang dibongkar maupun ditutup pada saat itu. Kan orang ini menyewa, yang menyewakan nggak buka. Penyewa ini rumah itu yang dibukanya jadi warung remang-remang. Begitulah modusnya dan itulah membuat menjamurnya. Dikontrakan, yang penting lancar kontrakannya," paparnya.

Dalam penertiban warung remang atau dibongkar dirinya sangat setuju sekali. "Saya sangat mendukung sekali warung remang dibongkar oleh Upika Kecamatan. Kalau rumah ruli tak mendukung dibongkar. Saya saja juga mantan dari pinggir Bekoan PTPN III Jalan Lintas Riau-Sumut. Saya juga besarkan anak dari DMJ jalan ini," sebutnya.

Sebelum dirinya datang ke Rohil ia asli dari Kisaran dan ia pada saat itu tak ada bawa apa-apa ke Rohil. "Saya tinggal di Bekoan DMJ ada 10 tahun lebih berjualan kedai di simpang Walet," katanya.

Sebelum jadi warga Bagan Manunggal, dia warga Bagan Batu Kota. Kemudian pemekaran Bagan Manunggal dan jadi warga sini. "Setahu saya, sejak adanya ruli ini tidak ada dampak buah sawit PTPN III hilang dininja. Dari mana celah mereka mencuri itukan rumah rapat semua. Dulu lebih ganas lagi dari sekarang. Terbantu sekali sejak ada ruli ini. Kenapa, orang tuh sempit geraknya jadi tak bisa ninja buah sawit PTPN III ini," katanya.

Dulu, kata mantan RT ini, ia pernah terangkan yang bikin Bekoan Paret PTPN lll ini jangan bantu orang ninja. Jangan ada rumahnya menumpuk buah jika ada kalian mendukung ninja. "Itu sudah saya tekankan," sebutnya.

Jadi, sejak adanya rumah liar ini berkurangnya ninja sawit PTP. "Kalau setahu saya dulu kebun tak pernah panen," ungkapnya.

Waktu pertama dia mau buat rumah di larang oleh PTPN. "Waktu itu saya beralasan saya tidak ninja, tinggal disini untuk menyambung keluarga saya. Dan membiayai anak saya. Jadi jangan diperkecil bekoan ini, karena ini dah kecil bekoannya, kalau kecil nggak bisa lah membangun dan tolonglah kita saling pengertian dan pihak PTPN III pada saat itu mengizinkan membangun dekat paret bekoan mereka. Jadi pencucian paret tetap berjalan, tapi kalau sekarang rumah didorong. Dulu hanya cuci gitu saja," ujarnya.

Menurutnya, dampak dari bersihnya rumah liar ini lebih ganas lagi nanti ninja sawit dan tindak kejatan lainya. Tak hanya itu dampak dari galian terlalu dalam dapat berakibat terjadi erosi. Karena saluaran air di pasar itu sempit.

"Tahun 2002 ini banjing loncat luar biasa di perbatasan sini, habis motor itu bawa alat digasak bajing loncat dan bahkan perampokan. Rawanya waktu itu tahun 2000 ke bawah, setelah dua ribu ke atas ini dah mulai rame. Ada walet dan ramei, kalau full-nya ruli sejak ada Galon ini 2008 dah full ramenya. Dulu bisa dihitung dari mulai rumah saya penghuni ruli di lintas Riau-Sumut ini," katanya.

Ia mengatakan, sudah empat kali pencucian paret bekoan ini. Tapi baru kali ini campur tangan Upika. "Tadinya PTPN III sendiri cuci parit dan itu tidak pernah komplen dengan masyarakat. Kalaupun ada kena rumah di bekoan parit dibongkar, cuma tidak dibongkar semua seperti saat ini," katanya.

"Mereka ini sadarnya jika itu rumah liar. Tapikan ada yang belum siap dan ada sudah siap bongkar sendiri. Dulunya asli penduduk Bagan Manunggal hanya ada beberapa rumah. Cuma saya, si Tanjung, pak Edi Torus. Setelah itu pada tahun 2010 masanya pak Annas jadi Bupati mau naik ada dapat KK dan KTP gratis. Jadi disitulah kesempatan orang ini mengurus. Saya yang usulkan ada yang keluar ada tidak pada saat itu," pungkasnya.

Penulis
: Samsul
Editor
: Riki
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)