Cerita Kakek Suharto Setelah Rumah Liar Digusur Upika Bagansinembah

datariau.com
2.297 view
Cerita Kakek Suharto Setelah Rumah Liar Digusur Upika Bagansinembah
Samsul
Kakek Bio saatmemasak air dan mi untuk makanannya sehari-hari.

BAGANSINEMBAH, datariau.com - Di tengah teriknya mata hari, tampak seorang kakek kelihatan wajahnya sangat lesu di hadapan tungku batu bata dan di atasnya sebuah panci air yang sedang dimasak.

Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan. Kakek itu duduk termenung di sekitar puing-puing bangunan yang berserakan di sana-sini setelah digusur oleh Pemerintah Kecamatan Bagan Sinembah bersama Unsur Pimpinan Kecamatan (Upika) Bagan Sinembah tahap kedua beberapa yang lalu.

Tim Datariau.com mencoba menghampiri kakek yang duduk seorang diri tersebut, ternyata nama kakek ini adalah Suharto yang akrap namanya dipangil Kek Bio, merupakan warga Bahtera Makmur dan lahir pada tahun 1925.

Kakek ini adalah salah satu korban dari pengusuran rumah liar di KM 5 Bahtera Makmur, Kepenghuluan Bahtera Makmur, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).

Kini, kakek yang sudah beruban itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sejak rumah yang ia miliki satu-satunya sudah rata dengan tanah dan tidak tahu kemana ia mengadu nasib. Karena dia tinggal di Bagan Batu ini hanya sebatang kara dan tidak memiliki sanak saudara.

Ketika ditanyakan siapa yang merusak rumah yang ia tempati dan kenapa bisa seperti ini rata dengan tanah, kakek ini mengatakan bahwa penggusuran ini kemauan camat bersama Upika. Dia juga bercerita bahwa rumahnya tak sempat ia bongkar karena alat berat lebih dahulu menyeruduk bangunan tua itu dan seketika rata dengan tanah.

"Datang kemarin itu alat berat, kemudian disorong semua, makanya hancur. Mau dibongkar banguannya kita tak kuat dah tua gini," katanya.

Ditanyakan apakah tidak ada sosialisasi atau pemberitahuan sebelumnya, Kek Bio mengaku memang ada pemberitahuan, namun dirinya bingung mau pindah kemana jika rumahnya di pinggir jalan yang ditempati selama ini dibongkar.

"Tapi tempat kita mau pindah tidak ada. Apalagi udah tua seperti ini tak sangup lagi, cari makan saja susah," ujarnya.

Kakek Bio menceritkan waktu Upika Bagansinembah melakukan pengusuran dikawal oleh TNI, Polri, dan Satpol PP. "Jadi siapa yang berani mau bantah dan melawan," ungkapnya.

Kakek Bio juga mengaku sudah mohon kepada Upika agar tidak digusur, namun Upika menjelaskan bahwa lokasi membangun ini tidak tepat karena tanah Pemda. "Saya katakan, inikan tanah Republik dan kenapa dari dulu tidak dilarang dan sekarang dah berkarat baru dilarang," katanya.

Kakek Bio ini diketahui dia tinggal sendirian. Sejak rumahnya hancur ia terpaksa numpang masak di tungku tetangganya yang juga korban pengusuran. "Sini saya numpang masak air untuk masak mi rebus. Tempat tinggal saya tidak bisa lagi untuk masak, udah hancur berantakan," cerita kakek Bio ini.

Selanjutnya, ditanyakan berapa lama  tinggal di Bagan Batu, Kek Bio menjelaskan bahwa dia tinggal sudah cukup lama. "Saya tingggal di Bagan Batu ini sudah 25 tahun. Asalnya dulu di Siantar, anak sekarang tinggal di Djokja. Anak tidak tahu kalau rumah saya ini kena gusur. Istri saya udah ninggal tahun 81. Sedangkan anak saya dua-duanya mereka sudah punya anak," ceritanya.

Kejadian ini ia tidak sempat memberikan tahu kepada kedua anaknya. "Lagi pula kita tidak punya HP. Sejak digusur ini terpaksa numpang salah satu rumah makan Dewi," ungkapnya lagi.

Ia mengatakan, bahwa sudah tiga tahun ini dia bekerja mencari botot. Sebelumnya pekerjaannya di PMI.

"Aku ini bekas Palang Merah Indonesia (PMI), dulu belum banyak rumah sakit aku merobat orang dan orang datang sendiri ke rumah saya. Namun, sejak banyaknya rumah sakit, kebanyakan orang berobat ke rumah sakit," cerita Kek Bio lagi.

Ketika ditanyakan habis digusur ini kemana mau cari tempat baru, ia mengatakan saat ini belum ada kepikir sama sekali. "Saat ini hanya masih mikir numpang sana dan numpang sini dulu yang dipikrkan. Karena masih pening," katanya.

"Kalau makan kemari, masak indomei, ya kadang-kadang beli nasi di kedai nasi. Sedangkan kerja sehari-hari cari botot-botot di sekitar Bagan Batu ini. Lihat itu ada karton satu ikat, jualnya di simpang Pajak pagi dari sini sekitar satu kilo meter," paparnya sambil menunjuk seikat karton bekas yang dikumpulkannya untuk dijual.

Kek Bio juga tidak memiliki pendapatan tetap, dari pekerjaan ini dia kadang hanya dapat Rp5 ribu sehari, bahkan tidak sampai segitu.

"Kadang-kadang ada buang karton yang mahal bisa kadang dapat dua puluh ribu kadang cuma lima ribu rupiah. Makanya satu hari ukurang mengerim beli makanan, contoh dapat Rp. 30 Ribu perhari itu mengerim itu, beli nasik uduk Rp15 ribu kalau tidak mengerim dua kali makan sudah Rp30 ribu kalau tidak mengerim makannya," cerita Kakek Bio.

"Macam ini tengoklah, minum awak begini, ini sekarang Intermi, kalau dulukan mie sedap awak, makan mi goreng gitu. Sekarang berpikir juga awak, dari mana duit nanti. Makanya siang makan mi dan roti, malam baru makan nasi itupun kalau ada uang. Yang jelas mengerimlah awak, memang makan awak tidak banyak, makan satu bungkus itu tidak abis," ceritanya.

Penulis
: Samsul
Editor
: Agusri
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)