PEKANBARU, datariau.com - Kondisi kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru semakin mengkhawatirkan. Pemerintah Kota Pekanbaru didorong tidak hanya mengandalkan pembagian masker, tetapi segera menyiapkan paket kebijakan terpadu untuk menangani dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Dorongan tersebut disampaikan Anggota DPRD Pekanbaru dari Fraksi PKS, dr Meiza Ningsih, MKed, SpTHT-BKL, Kamis (8/10/2026).
Menurut dr Meiza, kondisi udara Pekanbaru yang semakin pekat membutuhkan langkah penanganan yang lebih terkoordinasi. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah pembentukan Posko Terpadu Kabut Asap Kota Pekanbaru.
Posko tersebut diusulkan melibatkan berbagai instansi, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Pendidikan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), pemerintah kecamatan dan kelurahan, BMKG, hingga TNI-Polri.
“Kondisi Pekanbaru saat ini sudah semakin parah dan pekat ya, usulan kepada pemerintah kota sebaiknya tidak hanya soal membagikan masker, tetapi dibuat paket kebijakan penanganan dampak asap. Buatkan posko terpadunya dan petugas harus standby,” kata dr Meiza.
Ia menilai keberadaan posko terpadu penting agar pemerintah dapat melakukan pemantauan sekaligus mengambil langkah cepat apabila kondisi kualitas udara semakin memburuk.
Selain itu, koordinasi lintas instansi diperlukan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi udara, layanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, hingga kebijakan di sektor pendidikan apabila kualitas udara sudah membahayakan.
Kabut Asap Bisa Picu Gangguan Pernapasan
Sebagai dokter sekaligus anggota DPRD Pekanbaru, dr Meiza menyoroti dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat paparan kabut asap.
Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah gangguan pada sistem pernapasan. Paparan asap dapat memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dengan gejala seperti batuk, pilek dan sakit tenggorokan.
Kondisi tersebut juga berpotensi lebih berat bagi masyarakat yang sebelumnya memiliki gangguan kesehatan tertentu.
Penderita asma, bronkitis maupun Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), misalnya, dapat mengalami perburukan kondisi ketika terpapar kualitas udara yang buruk.
“Paparan kabut asap dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga penyakit pernapasan dan jantung yang serius,” sebut dr Meiza.
Tidak hanya saluran pernapasan, partikel yang terdapat dalam asap juga dapat mengganggu kesehatan mata. Masyarakat yang terpapar dapat mengalami mata merah, perih dan berair.
Paparan asap juga berpotensi menimbulkan iritasi pada kulit dan memperburuk penyakit kulit tertentu.
Dalam jangka pendek, kualitas udara yang sangat buruk juga dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan tertentu, termasuk meningkatkan tekanan darah. Sementara paparan dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Bayi hingga Lansia Paling Rentan
dr Meiza mengingatkan pemerintah agar memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak buruk kabut asap.
Kelompok tersebut antara lain bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit bawaan seperti asma dan penyakit jantung.
“Kelompok yang paling berisiko adalah bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki penyakit bawaan seperti asma dan penyakit jantung. Jangan sampai ada warga Pekanbaru jadi korban gara-gara kabut asap ini,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, penanganan kabut asap tidak boleh berhenti pada pembagian masker kepada masyarakat.
Pemerintah perlu memastikan seluruh perangkat terkait bergerak secara terpadu, termasuk melakukan pemantauan kondisi udara, memberikan edukasi kepada masyarakat, menyiapkan layanan kesehatan, melindungi kelompok rentan serta mengambil langkah cepat apabila kualitas udara mencapai tingkat yang membahayakan.
“Jangan sampai pemerintah baru bergerak ketika sudah banyak masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan. Antisipasi harus dilakukan sejak sekarang,” tegasnya.
Ia berharap Pemerintah Kota Pekanbaru segera merumuskan paket kebijakan penanganan dampak kabut asap sehingga masyarakat memiliki perlindungan yang lebih komprehensif di tengah memburuknya kualitas udara.
Menurutnya, keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi kondisi kabut asap yang semakin pekat di Kota Pekanbaru. (end)