Bocah Penderita Hidrosefalus di Asahan Ini Butuh Bantuan

datariau.com
1.099 view
Bocah Penderita Hidrosefalus di Asahan Ini Butuh Bantuan
Fran Manurung
Kondisi Nazwa yang sangat butuh pertolongan untuk biaya operasi.

 

KISARAN, datariau.com - Bocah berusia enam tahun penderita hidrosefalus ini bernama Nazwa Alfa br Lubis, anak dari Ratmawati br Marpaung warga kampung Pantiolang Desa Sei Lama Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan.

 

Penyakit itu dideritanya sejak lahir dan tak kunjung diobati karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kisah malang bocah tak berdosa ini semakin lengkap sudah, setelah ayah kandungnya pergi meninggalkan dia dan ibu kandungnya tiga tahun silam.

 

Nazwa tidak bisa beraktivitas layaknya bocah normal seusianya. Jangankan bermain, untuk mengangkat kepalanya saja putri pertama Ratmawati ini harus menahankan sakit. 

 

Tak jarang dia harus merengek menangis seharian menahankan rasa sakit itu selama bertahun-tahun, belum lagi asupan gizi yang didapatkannya tidak sebaik balita lainnya karena Ratmawati ibu kandungnya hanyalah pekerja sebagai pengasuh rumah tangga di salah satu yayasan di Kota Tanjung Balai dengan gaji Rp500 ribu sebulan.

 

“Saat dia lahir, saya terkejut melihat anak saya yang pertama ini tidak seperti bayi normal lainnya, akan tetapi sebagai seorang ibu, saya berusaha tegar atas ujian dan cobaan yang diberikan ini,” lirih Ratmawati saat ditemui datariau.com di kediamannya, Selasa (15/11/2016).

 

Sebenarnya, lanjut Ratmawati, usaha dia sebagai ibu kandung yang memperjuangkan kesembuhan anaknya ini layaknya bayi normal lainnya sudah dilakukannya. Dengan menjual sebahagian harta berharganya dan pinjaman uang dari sanak keluarga, Ratma pernah membawa anaknya berobat ke Rumah Sakit Adam Malik Medan.

 

“Waktu itu usia anak saya ini empat bulan pak, dan kami bawa ke rumah sakit Adam Malik Medan. Ketika itu memang belum ada BPJS, karena biaya perobatan yang mahal dan keperluan selama di Medan besar akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena kehabisan biaya,” ujarnya.

 

Ratmawaati menambahkan, saat itu dokter menyarankan anaknya dioperasi setelah usainya tiga tahun dengan biaya sekitar Rp50 jutaan. Akan tetapi, sampai usia Nazwa enam tahun pihak keluarga belum pernah membawa bocah malang ini ke rumah sakit lagi.

 

“Kalau biaya pengobatan mungkin bisa ditanggung pakai BPJS, tapi biaya tambahan seperti untuk perjalanan dan keperluan selama berada di Medan kami tak sanggup pak. Kehidupan untuk makan sehari-hari ini seadanya,” ungkapnya.

 

Kini Nazwa hanya bisa berbaring sepanjang hari, selama ibunya bekerja di luar dia diasuh oleh neneknya yang ikhlas dan sabar mengurusi cucunya yang malang ini.

 

Disamping itu, dari hari ke hari kondisi pembesaran di kepala Nazwa semakin mengkhawatirkan, dengan beberapa luka di kepalanya, ditambah lagi kondisi kaki dan tangannya yang melemas tidak bisa bergerak secara normal.

 

“Selama ini untuk pengobatan saya lakukan secara herbal, selain takut untuk dibawa ke dokter saya juga tak punya biaya pak,” ujarnya lagi.

 

Sesekali, lanjut Ratmawati, dia menerima kedatangan tetangga sekitar yang turut prihatin dengan kondisi anaknya. Sedikit demi sedikit dia sisihkan sumbangan donator yang datang itu untuk keperluan anaknya. “Tapi kebanyakan sudah habis terpakai untuk biaya sehari-hari kami,” ujarnya.

 

Demikian ia sangat berharap melalui pemerintah setempat memberikan solusi berupa pengadvokasian untuk perobatan operasi putrinya ini agar dapat ditangani secara medis.

 

Terpisah, salah seorang dokter umum yang membuka praktek di kota Kisaran dr Hari menyebutkan, hidrosefalus atau akumulasi cairan di dalam otak yang menyebabkan kepala bayi membesar bisa dideteksi sejak dalam kandungan. Penyebab hidrosefalus bermacam-macam, namun yang paling sering ditemui adalah karena kelainan bawaan sejak lahir.

 

“Yang penting untuk diketahui hidrosefalus bukanlah penyakit turunan, penyakit ini juga bisa dicegah dengan cara pemeriksaan secara rutin sebelum dan selama kehamilan. Tes TORCH juga bisa jadi alternatif untuk mencegah bayi cacat,” kata dokter anggota IDI Asahan itu.

 

Jadi sebelum hamil, tambah dokter Hari, orangtua (si ibu) harus sudah dipastikan bahwa dia sehat, tidak ada infeksi-infeksi yang bisa menyebabkan kelainan bawaan. "Kebanyakan para ibu memeriksa, kalau sudah hamil. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah dengan menjaga asupan gizi. Kekurangan zat gizi tertentu atau komponen tertentu bisa berakibat kelainan pada bayi, termasuk kelainan otak," pungkasnya.

Penulis
: Fran Manurung
Editor
: Riki
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)