Oleh: Ahmad Hamiddin as-Sidawi

Strategi Syiah Untuk Meruntuhkan Islam dan Kaum Muslimin

Datariau.com
263 view
Strategi Syiah Untuk Meruntuhkan Islam dan Kaum Muslimin

DATARIAU.COM - Tidak asing lagi bagi kita bahwa membongkar segala bentuk kesesatan dan para pelakunya merupakan suatu kewajiban berdasarkan ijma’ kaum muslim sampai akhir zaman.

Suatu ketika dikatakan kepada Imam Ahmad Bin Hambal: “Manakah yang lebih engkau senangi orang yang berpuasa, shalat dan beri’tikaf ataukah orang yang membicarakan ahlu bid’ah?” Maka ia menjawab: “Kalau ia shalat dan ber’itikaf maka itu (hanya) kembali ke dirinya sendiri sedangkan kalau ia berbicara tentang ahlu bid’ah maka itu untuk kaum muslimin. Dan itulah yang lebih utama.”

Begitu jauh firqah Syi’ah (yang sekarang menyebut diri sebagai Ahli Bait untuk mengelabuhi umat Islam-red) menyimpang dari nash-nash yang telah digariskan oleh syariat. Sehingga diantaranya mereka mangatakan bahwa Karbala lebih utama dari Ka’bah, berziarah ke Karbela pada hari Arafah lebih utama dari hari semuanya, ziarah ke makam Husain merupakan amalan yang paling utama. Dan ucapan-ucapan kufur lainnya yang menunjukan bahwa mereka telah terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata. Mereka tempuh segala cara dalam rangka mematikan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan syubhat dan syahwat yang mereka lontarkan. Maka jelaslah bahwa mereka adalah musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita perangi dengan segenap kemampuan. Di antara usaha Syi’ah untuk mematahkan Islam dam kaum muslimin ada tiga cara yang dapat kami sebutkan secara ringkas yaitu:

MENYUSUPKAN PEMAHAMAN SESAT KE DALAM ISLAM

Dalam upaya menyebarkan misi kesesatan Syi’ah, mereka tempuh hal itu dengan beberapa cara di antaranya:

1. Imamah (Kepemimpinan) [1]

Imamah menurut bahasa mempunyai arti kepemimpinan, baik dalam bingkai kebenaran ataupun kesesatan. Sedangkan menurut Syi’ah, imamah mempunyai arti khusus, mereka meyakini bahwa “Imamah adalah derajat kenabian. Menurut mereka Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih dari hamba-Nya yang Dia kehendaki sebagai nabi dan rasul, demikian pula Allah memilih dari hamba-Nya yang Dia kehendaki sebagai imam bagi sekalian manusia”. Bahkan Syi’ah Itsna Asyariyah menganggap bahwa imamah adalah salah satu dari rukun Islam [2]. Ini semua adalah pemahaman sesat yang menyelisihi nash-nash al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerana ini adalah aqidah bid’ah yang tidak berasal dari Islam sama sekali.

2.Taqiyah (Menyembunyikan Hakekat) Ulama Syi’ah mendefinisikan arti taqiyah yaitu : “Engkau mengatakan atau berbuat tidak sesuai dengan apa yang engkau yakini untuk menghindari kejahatan atas dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu”[3].

Akan tetapi firqah Syi’ah ini menjadikan taqiyah tersebut sebagai alat pengumbar hawa nafsu iblis mereka, sekaligus propaganda kesesatan mereka. Mereka menganggap bahwa taqiyah lebih tinggi kedudukannya di banding keimanan seseorang. Itu sebagaimana yang dinyatakan oleh para pembesar mereka, antara lain: Dari Abu Abdillah (tokoh Syi’ah), ia berkata: “Bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam agama kalian dan lindungilah agama kalian dengan taqiyah, maka sesungguhnya tidaklah mempunyai keimanan orang yang tidak bertaqiyah”. Ia juga mengatakan “Siapa yang menyebarkan rahasia berarti ragu dan siapa yang mengatakan kepada selain keluarganya berarti kafir” [4]

Dari Abu Ja’far (tokoh Syi’ah), ia berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapakku dan tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah” [5]

Ini semua menunjukkan bahwa taqiyah merupakan metode serta senjata ampuh yang biasa dilancarkan oleh tokoh-tokoh Syi’ah pada umumnya di mana saja dan kapan saja dengan tujuan menjauhkan kaum muslimin dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Untuk menepis syubhat taqiyah ini, maka cukuplah kami kemukakan sebagian perkataan ulama Salaf sebagai bantahan atas pernyataan mereka, yaitu: “Tidak ada taqiyah lagi setelah Allah memenangkan Islam.”

Mu’adz bin Jabal dan Mujahid berkata: Taqiyah hanya ada pada permulaan Islam, sebelum kuatnya kuam muslimin, adapun sekarang maka Allah telah memuliakan kaum muslimin tanpa ada rasa takut dari musuh mereka.

3. Raj’ah Pengertian Raj’ah adalah: “Kembalinya orang yang sudah mati ke dunia sebelum hari kiamat, atau memanggil mereka kedunia sesudah mati.” [6]

Ini jelas keyakinan sesat yang menyelisihi petunjuk al-Qur’an dan Sunnah serta aqidah Salafus Shalih. Barangsiapa yang mempercayai hal ini, maka ia telah terjerumus pada perbuatan kufur yang bisa menyeret pelakunya menjadi kafir. Wal’iyadzu Billah. Pencetus paham ini adalah Ibnu Saba’, seorang gembong Yahudi. Dengan demikian Raj’ah merupakan pemahaman yang diadopsi dari tokoh Yahudi.

Al-Mufid berkata: “Syi’ah Imamiyah (sekte yang dianut mendiang Khomaini dan Iran hingga sekarang-red) sepakat akan kepastian adanya Raj’ah yang sangat banyak dari orang yang sudah mati”. [7]

Ini adalah perkataan tokoh-tokoh Syi’ah yang memperkuat aqidah mereka tentang Raj’ah. Munculnya pemahamam ini adalah karena sebagian firqah Syi’ah mengingkari dan tidak beriman dengan yaumul qiyamah (hari kiamat) yaitu hari pembalasan.

Ibnu Hajar berkata: “Mengimani adanya Raj’ah merupakan puncak ghuluw[8] dalam firqah Syi’ah Rafidhah.”[9]. Maka kita katakan bahwa kembalinya orang yang mati sebelum hari kiamat adalah batil menurut ijma’ kaum muslimin, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." [Al-Fathir: 22]

Ibnu Katsir berkata: “Orang yang telah mati tidak dapat memberi manfaat” [Tafsir Ibnu Katsir 3/723].

Manfaat di sini bersifat umum, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, sehingga mustahil orang mati dapat menghidupkan dirinya sendiiri. Oleh kerana itu merupakan hikmah Allah, jika suatu kaum sengaja membuat ajaran sesat yang tidak di ridhai oleh Allah baik dalam aqidah, metodologi atau lainnya, maka Allah akan menyingkap borok-borok mereka. Walaupun niat mereka baik atau tujuan mereka adalah beribadah.

Di antara paham sesat meraka yang lain ialah al-Bada[10], al- Ghaibah[11], dan masih banyak lagi lainnya, yang kesemuanya itu hanyalah khurafat yang diajarkan oleh setan mereka.

Akan tetapi orang Syi’ah tidak merasa malu bahkan bangga karena merasa benar dengan keyakinann yang sesat ini. Dan mereka terus mendakwahkan keyakinan sesat itu. Wallahul musta’an.

BANTAHAN-BANTAHANNYA

Perkara-perkara di atas termasuk hal dapat di ketahui dengan pasti akan kesesatannya dalam Islam. Karena di dalamnya banyak terdapat penyimpangan berupa; kemusyrikan, bid’ah dan khurafat. Orang syi’ah meyakini kema’suman sang imam, lebih utama dari nabi, bahkan mereka anggap mempunyai sifat-sifat ketuhanan. Maka Ini jelas merupakan puncak kemusyrikan. Padahal Allah berfiraman:

"Jika kamu menyekutukan Allah, niscaya akan hapus amalmu, dan menjadi orang yang merugi." [Az-Zumar: 65]

Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. [Al- Maidah: 72].

Maka kalau hanya mengatakan, seandainya kalau bukan karena si fulan dan si fulan, sudah merupakan syirik, maka bagaimana halnya dengan pengagungan orang Syi’ah terhadap imam-imam mereka, jelas nyata sekali kemusyrikannya. Maka semua ini adalah haram. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

"Janganlah kalian melampaui batas menyanjungku sebagaimana orang nasrani melampaui batas menyanjung Isa bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba dan utusannya, maka panggilah aku hamba-Nya dan rasul-Nya." [HR. Bukhari dan Muslim].

Jika kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita dilarang melampaui batas, seperti istianah, istiadzah (meminta perlindungan) kepadanya, istighatsah (mengadu) kepadanya, maka apalagi kepada orang lain, yang sudah jelas lebih rendah kedudukannya dan hina, tentu akan lebih dilarang oleh agama kita.

Tag:Syiah