Beberapa penyebab zuhudUntuk memproleh sikap zuhud terdapat beberapa sebab, di antaranya:
1. Dengan merenungi tentang akibat buruk di akhirat dengan sebab kehormatan dunia, berupa jabatan dan kekuasaan bagi orang yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar.
2. Dengan merenungi tentang hukuman yang diperoleh bagi orang-orang yang zhalim dan sombong.
3. Dengan merenungi tentang pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang ketika di dunia rendah hati, ikhlas karena Allah, yaitu dengan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat, karena sesungguhnya barangsiapa yang rendah hati karena Allah (tawaddlu'), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.
4. Zuhud didapat bukan karena kemampuan seorang hamba, akan tetapi merupakan karunia Allah dan rahmatNya. Orang yang zuhud akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia sesuai dengan janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Kehidupan yang baik ini berupa balasan yang segera akan Allah berikan bagi orang-orang yang zuhud terhadap harta dan kemuliaan dunia. Kehidupan yang baik ini secara zhahir berupa kemuliaan taqwa dan kewibawaan di mata manusia, dan secara bathin berupa manisnya iman dan ketaatan.
Barangsiapa mendapat karunia zuhud dari Allah, tentu ia sibuk mencari kemuliaan akhirat dan tidak akan tertipu dengan kemuliaan dunia yang semu dan sementara. Allah berfirman:
وَلِبَاسُ التقوَى ذَلِكَ خَيرٌ
"Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik". [al-A'raaf/7: 26]
مَن كَانَ يُرِيدُ العِزةَ فِلِلهِ العِزةُ جَمِيعًا
"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah semua kemuliaan itu". [al-Fathiir/35: 10]
Muhammad bin Sulaiman, seorang gebernur Bashrah datang menemui Hammad bin Salamah. Gubernur itu duduk di hadapan Hammad lalu bertanya: "Wahai Abu Salamah, mengapa setiap kali saya memandangmu, saya gemetar segan kepadamu ?" Beliau menjawab: "Karena seorang alim apabila menghendaki ridla Allah dengan ilmunya, maka segala sesuatu akan takut kepadanya, apabila ia menginginkan untuk memperbanyak harta dengan ilmu, maka ia takut kepada segala sesuatu".
Barangsiapa sibuk membina dirinya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dengan jalan mengenal Allah, takut kepadaNya, cinta kepadaNya, selalu merasa dalam pengawasanNya, tawakkal, ridla dengan takdirNya, merasa tentram dan rindu kepadaNya, dia akan sampai kepadaNya dan dia tidak akan perduli dengan kedudukan yang tinggi di sisi manusia. Meskipun demikian, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi di mata manusia, dan mereka hormat kepadanya, padahal dia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, bahkan lari menjauhinya dan khawatir kalau kehormatan dunia ini bisa memutuskan jalannya menuju ridla Allah. Allah Subhanahu wa Ta'la berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang" [Maryam/19: 96]
Dan dalam sebuah hadits yang shahih:
"Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: "Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!" lalu Jibrilpun mencintainya. Lalu jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!", maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian dia di karuniai dengan diterimanya di muka bumi". [HR. Bukhari no. 3037, 5693,7047 dan Shahih Muslim no. 2637]
Kesimpulannya mencari kehormatan akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat.
Orang yang bahagia adalah orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dengan dunia yang fana. (*)
_________
Footnote[1] HR. Ahmad, Nasa', Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Imam Tirmidzi berkata (tentang) hadits ini: "Hasan shahih". Muhammad Shubhi Hasan Hallaq menyatakan: "Hadits ini telah dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Albani dan selain mereka.
[2] Syaikh Muhammad Syubhi Hasan Hallaq menyatakan hadits ini Shahih. HR. Abu Daud 2/324 no. 1698.
[3] HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq
[4] HR. Tirmidzi no. 2654 dari Ka'ab bin Malik serta dishahihkan oleh syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq
[5] HR. Ahmad. Abu Daud no. 2859, Tirmidzi dan Nasa'i no. 4309. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: "Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam Al-Jami' (I/163), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (4/72), Ibnu Katsir dalam tafsirnya (2/397), Thabrani dalam Al-Kabir no. 11030, dan Bukhari dalam Al-Kuna (8/70) dan itu adalah hadits shahih, dan dishahihkan pula oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud
[6] HR. Ahmad, Abu Daud no. 4860. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: "Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu 'Adi dalam Al-Kamil (1/312) Al-Qudhai dalam Musnad as-Syihab (1/222 no. 339) dan Syaikh Al-Albani memuatnya dalam as-Shahihah no. 1272
[7] (HR. Ahmad 3/321 dan 399, Tirmidzi 4/525 no. 2259, Nasa'i 7/160, 161 no. 4207 dan 4208 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (Dalam Al-Ihsan 1/248 no. 279; 1/249 no. 282; 1/250 no. 283; dan 1/251 no. 285
Baca artikel asli: Almanhaj.or.id