LGBT, Sebab Kehancuran dan Disegerakannya Azab!!!

Ruslan
689 view
LGBT, Sebab Kehancuran dan Disegerakannya Azab!!!
Foto: Internet

DATARIAU.COM - LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) adalah perbuatan keji yang sangat dilarang dalam agama Islam. Perbuatan lelaki mendatangi sesama lelaki untuk melampiaskan syahwat, demikian pula sesama wanita; bahkan naudzubillahi min dzalik mengganti kelamin laki-laki dengan perempuan; adalah perbuatan keji yang menyalahi syariat, kodrat, fitrah yang suci, dan akal sehat.

Allah Mengazab Kaum Sodom

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Luth alaihis salam kepada sebuah kaum yang melegalkan perbuatan homoseksual. Sebuah perbuatan keji[1] yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sejak zaman Nabi Adam alaihis salam. Nabi Luth alaihis salam mendakwahi kaumnya dengan melarang mereka dari perbuatan yang sangat keji tersebut.

Namun, ternyata kaumnya tidak menginginkan kebaikan. Tidak hanya menolak nasihat Nabi Luth alaihis salam, tetapi mereka juga menentang, melawan, dan mengancam akan mengusirnya; jika Nabi Luth alaihis salam terus saja melarang mereka dari perbuatan homoseksual.

Akhirnya, Allah subhanahu wa ta’ala menyegerakan azab di dunia (sebelum di akhirat), dengan suatu azab yang belum pernah Dia timpakan kepada kaum-kaum sebelumnya. Azab yang sangat dahsyat. Allah subhanahu wa ta’ala menjungkirbalikkan bumi yang mereka pijak. Allah subhanahu wa ta’ala tenggelamkan mereka ke dalam bumi. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala hujani mereka dengan batu-batu yang terbakar.

Begitu mengerikannya azab tersebut, sampai-sampai membuat hati ini takut seandainya kejadian tersebut berulang. Ya, seorang muslim yang baik tentu akan bersungguh-sungguh mengambil pelajaran dan ibrah dari kisah ini.

Karena begitu pentingnya, Allah subhanahu wa ta’ala mengabadikan kisah kaum Sodom[2], perbuatannya, penentangan mereka setelah didakwahi, serta peristiwa turunnya azab Allah subhanahu wa ta’ala dan kehancurannya; sedikitnya di 9 tempat dalam al-Qur’an, yaitu pada surah al-A’raf: 80-84, Hud: 69-83, al-Hijr: 58-78, al-Anbiya: 71-75, asy-Syu’ara: 160-175, an-Naml: 54-59, al-Ankabut: 28-35, ash-Shaffat: 133-138, dan al-Qamar: 33-39.

Hikmah dan Tujuan Pengulangan Kisah dalam al-Qur’an

Tidak seperti para aktivis LGBT yang menganggap bahwa pengulangan kisah Nabi Luth alaihis salam hanyalah “cerita penghibur” untuk menguatkan mental Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam menghadapi penolakan Quraisy; pengulangan suatu kisah dalam al-Qur’an memiliki beberapahikmah nan mulia, di antaranya:

1. Menjelaskan tentang urgensi dan pentingnya kisah tersebut. Sebab, diulanginya (kisah-kisah tersebut) menunjukkan perhatian yang serius terhadap kisah tersebut.

2. Penegasan dan penguatan terhadap kisah tersebut, agar kukuh dan menetap di hati-hati manusia.

3. Menunjukkan balaghah al-Qur’an (gaya bahasa dan sastra yang tinggi lagi mulia) ketika menyebutkan kisah-kisah dengan bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan tuntutan kondisi.

4. Menampakkan kebenaran al-Qur’an, dan bahwasanya al-Qur’an datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala semata, ketika menyebutkan kisah-kisah dengan berbagai bentuk tanpa ada saling kontradiksi. (Lihat Ushul fi at-Tafsir hlm. 52).

Kisah Kaum Nabi Luth dalam al-Qur’an

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَما جَاءَتۡ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمۡ وَضَاقَ بِهِمۡ ذَرۡعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَصِيبٞ

“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) kepada Luth alaihis salam, dia merasa cemas dan sempit dadanya karena kedatangan mereka, seraya berkata, ‘Ini adalah hari yang amat sulit’.” (Hud: 77).

Awalnya, Nabi Luth alaihis salam belum mengetahui bahwa para tamu tersebut adalah para malaikat yang menjelma dengan wujud pemuda yang tampan lagi gagah. Rasa cemas pun menghinggapi beliau, karena kaum Sodom adalah orang-orang yang menyukai sesame jenis. Beliau khawatir nantinya para tamu tersebut akan dijadikan objek pelampiasan syahwat bejat mereka.

Dan kaumnya mendatanginya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth alaihis salam berkata, “Hai kaumku, inilah putri-putriku. Mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah seorang pun di antara kalian yang berakal?” (Hud: 78).

Ketika melihat para tamu itu, mereka bersegera menemui Nabi Luth alaihis salam untuk memintanya menyerahkan tamu-tamu tersebut. Mereka bertekad melakukan perbuatan yang sangat keji tersebut. Sebuah kemungkaran yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh seorang pun di muka bumi ini.

Nabi Luth alaihis salam pun berusaha menasihati kaumnya supaya mereka takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seraya menyebutkan “putri-putrinya”. Yang dimaksud beliau adalah kaum wanita secara umum karena para nabi adalah “ayah” bagi umatnya[3]. Beliau juga mengingatkan bahwa seharusnya kecenderungan mereka adalah kepada lawan jenis, bukan sesame jenis.

Perkataan beliau ini pun tidak dipahami sebagai tawaran, tetapi untuk menghentikan rencana mereka dan mengembalikan mereka kepada fitrah manusia.

قَالُوا لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا لَنَا فِي بَنَاتِكَ مِنۡ حَق وَإِنكَ لَتَعۡلَمُ مَا نُرِيدُ ٧٩ قَالَ لَوۡ أَن لِي بِكُمۡ قُوةً أَوۡ ءَاوِي إِلَىٰ رُكۡنٍ شَدِيدٍ

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” Luth alaihis salam berkata, “Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).” (Hud: 79-80).

Nasihat Nabi Luth alaihis salam tak lantas membuat mereka tersadar untuk kembali kepada fitrahnya. Mereka justru menentang, seraya menegaskan bahwa nafsu syahwat mereka memang untuk dilampiaskan kepada sesama jenis, bukan kepada selain jenis. Benar-benar kesesatan di atas kesesatan.

Tidak hanya menolak nasihat, tetapi mereka juga menentang dan tetap bersikukuh mempertahankan kebejatannya dan tidak mau kembali kepada al-haq (kebenaran).

Para utusan (malaikat) berkata, “Hai Luth alaihis salam, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu. Sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu. Oleh karena itu, pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu pada akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab sebagaimana yang menimpa mereka. Karena sesungguhnya, waktu jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”

Maka tatkala azab Kami datang, Kami balikkan bagian atas negeri kaum Luth alaihis salam itu menjadi terbalik ke bawah. Dan Kami hujani mereka secara bertubi-tubi, dengan batu dari tanah yang dibakar. Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (Hud: 81-83).

Demikian sekilas kisah kaum Nabi Luth alaihis salam yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam surah Hud. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik dan petunjuk kepada kita agar bisa mengambil pelajaran dan ibrah, sehingga kita bisa menentukan langkah dan sikap terkait dengan perkembangan LGBT di negeri Indonesia yang kita cintai ini.

Pelajaran dari Kisah Nabi Luth alaihis salam

Kisah-kisah kaum Nabi Luth alaihis salam di tempat-tempat yang lain dalam al-Qur’an juga mengandung pelajaran dan ibrah yang sangat berharga bagi orang-orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan jujur keimanannya.

Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:

1. Perbuatan homoseksual kaum LGBT serupa dengan perbuatan homoseksual kaum Sodom.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman secara jelas dan gamblang tentang perbuatan kaum Sodom.

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٍ منَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨٠ إِنكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرجَالَ شَهۡوَةً من دُونِ ٱلنسَاءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مسۡرِفُونَ

Dan (Kami juga telah mengutus)Luth alaihis salam (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80-81).

أَتَأۡتُونَ ٱلذكۡرَانَ مِنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٥ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمۡ رَبكُم منۡ أَزۡوَٰجِكُمۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٌ عَادُونَ

“Mengapa kalian mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kalian tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Rabb kalian untuk kalian? Bahkan, kalian adalah orang-orang yang melampaui batas.” (asy-Syu’ara: 165-166)

Apabila demikian keadaan kaum Sodom, lantas apa bedanya perbuatan homoseksual kaum LGBT yang ada pada masa kita sekarang dengan mereka?

Ini sekaligus bantahan bagi pihak-pihak yang mengatakan, “Itu kan bukan LGBT…” atau “Jangan samakan perbuatan kaum Sodom dengan LGBT.”

Penulis
: Ustadz Abu Ismail Arif
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)