DATARIAU.COM - Berikut merupakan kisah nyata yang terjadi di salah satu masjid atau mushalla di Indonesia. Kisah ini akan menjadi pelajaran dan renungan untuk kita semua, bagaimana seharusnya beragama yang baik dan benar sehingga tidak kebablasan.
Suatu ketika diadakan peringatan Isra' Mi'raj di malam hari di salah satu masjid atau mushalla komplek, dihadiri masyarakat setempat dengan antusias. Walaupun acara tersebut diadakan setelah Salat Isya dan di malam Senin yang mayoritas masyarakat esok harinya akan kembali bekerja, tak menyurutkan semangat warga untuk menghadiri acara.
Pengurus masjid atau mushalla itu pun berkali-kali mengumumkan kepada masyarakat untuk segera datang ke lokasi acara karena ustadz yang akan menyampaikan tausiah sudah datang. Berbondong-bondonglah warga hadir, bahkan warga yang jarang terlihat ke masjid malam itu dengan semangatnya mendatangi acara Isra' Mi'raj.
Baca juga: Kisah Dakwah Nabi di Thaif Ditolak Keras hingga Dilempari Batu Tetap Bersabar
Dalam acara Isra' Mi'raj tak luput dari pembahasan penceramah adalah mengenai keawjiban salat 5 waktu yang dijemput Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam ke atas langit, termasuk di tempat itu sang ustadz juga menyinggung mengenai salat 5 waktu dan kewajiban salat berjamaah bagi laki-laki. Sang ustadz menyampaikan hadits:
Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, “Nabishallallahu ‘alaihi wa sallamkedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallammemberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503).
Dari ‘Abdullah -ada yang mengatakan, “Amr bin Qais- yang dikenal sebagai Ibnu Ummi Maktum sang muazinradhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya di Madinah banyak terdapat singa dan binatang buas.’
Baca juga: Peristiwa Isra Mi'raj Salahsatu Bukti Allah di Atas 'Arsy, Bukan Dimana-mana
Hadits yang dibawakan ustadz malam itu ternyata tidak sepenuhnya langsung merubah keadaan warga, buktinya, saat waktu Salat Subuh tiba, warga yang datang ke mushalla hanya sebagian kecil saja, warga yang ramai dan semangat malam itu menghadiri Isra' Mi'raj tak lagi nampak batang hidungnya, kecuali hanya beberapa orang saja yang memang sudah terbiasa menjaga salat berjamaah.
Lebih miris lagi, kondisi tempat ibadah Subuh itu dijumpai dalam kondisi berantakan sisa acara Isra' Mi'raj. Ta'mir masjid yang diberi tugas oleh pengurus untuk mengumandangkan adzan dan membersihkan masjid justru tidak bangun untuk melaksanakan tugasnya tersebut, mungkin sudah kecapekan dengan acara tadi malam.
Mau tidak mau, salah seorang jamaah Salat Subuh pun mengumandangkan adzan karena waktu salat sudah masuk, sebahagian yang lain kemudian membersihkan karpet masjid yang kotor berserakan bekas makanan.
Baca juga: Kisah Isra' Mi'raj
Kisah nyata ini membuat kita mengelus dada, katanya memperingati Isra' Mi'raj sebagai bukti kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah, namun fakta di lapangan tak jarang mereka yang memperingati momen itu seperti tidak mau dengan perintah Allah dan Sunnah Rasulullah.
Padahal Allah Azza wa Jalla telah berfirman di dalam QS Ali 'Imran ayat 31, Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Terlebih, sebagaimana kita ketahui bersama, Salat Subuh memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Salat ini jugalah yang berat untuk dilakukan oleh orang-orang munafik. Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).
Wahai saudaraku, renungkanlah ini. Apakah ini cinta yang sesunggunya atau malah hanyalah cinta dusta? Sunnah Rasulullah sangatlah banyak, tidak perlu kita tambah-tambah lagi, setiap ibadah pedoman kita adalah petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, jika ada dicontohkan Rasulullah maka kerjakan, jika tidak, maka tinggalkan.
Karena saat kita mengada-adakan dalam perkara ibadah, maka konsekwensinya sangat berat, yakni diusir dari Telaga Nabi:
Dari Abu Wail, dari ‘Abdullah, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari, no. 7049)
Semoga Allah memberi taufiq dan hidayah kepada kita semua untuk selalu istiqomah di atas jalan yang haq. Dan mengumpulkan kita kelak di syurga-Nya dan tidak termasuk dari orang-orang yang terusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin. ***