Keutamaan Mengingat Mati

Ruslan
2.244 view
Keutamaan Mengingat Mati
Ilustrasi (Foto: Internet)

Meringankan beban musibah yang menimpa dirinya, seperti penyakit, kefakiran, kezaliman, dan kesempitan hidup di dunia.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seseorang mengingat mati pada waktu lapang hidupnya, kecuali akan menjadikan dia merasa sempit (umurnya terasa pendek dan semakin dekat ajalnya). Tidaklah (dia mengingat mati) pada waktu sempit hidupnya (karena sakit, fakir, dll) kecuali akan menjadikan dia merasa lapang (karena mengharapkan balasan dari Allah dengan sebab keikhlasan dan kesabaran ketika menghadapinya).” (HR. Ibnu Hibban; Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan dalam al-Irwa’ [no. 682] bahwa sanadnya hasan).

Seseorang tidak diperbolehkan mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya, kecuali karena takut agamanya terfitnah. Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah salah seorang kalian mengharap-harapkan kematian. Sebab, bisa jadi dirinya adalah orang yang baik, maka mudah-mudahan bertambah kebaikannya. Bisa jadi pula, dirinya orang yang berbuat dosa, barangkali dia akan minta diberi kesempatan (bertobat).” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini adalah lafaz al-Bukhari).

Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah salah seorang kalian mengharap-harapkan kematian karena suatu kesempitan hidup yang menimpanya. Apabila dia harus melakukannya, hendaknya dia berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.” (Muttafaqun ‘alaih).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

“Apabila seseorang ditimpa musibah, dia tidak boleh mengharap-harapkan kematian. Ini adalah kesalahan dan kebodohan yang ada pada dirinya, serta kesesatan dalam agama. Sebab, apabila dia hidup, bisa jadi dia adalah orang yang baik sehingga akan bertambah kebaikannya. Bisa jadi pula, dia adalah orang yang berbuat kejelekan sehingga dia sadar dan bertobat kepada Allah. Sementara itu, apabila dia mati dalam keadaan yang paling jelek (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian).

Oleh karena, itulah kita katakan, ‘Janganlah engkau mengharap-harapkan kematian karena hal ini adalah sikap orang yang bodoh.’ Sikap tersebut adalah kesesatan dalam agama. Sebab, dia telah melakukan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Selain itu, mengharap-harapkan kematian adalah bukti ketidakridhaannya terhadap ketentuan Allah. Padahal, seorang mukmin harus ridha terhadap takdir.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/239-240).

Bagaimanapun keadaan seorang mukmin, lapang atau sempit, senang atau susah, sehat atau sakit, bahkan sampaipun dia telah merasakan dekatnya ajal, dia wajib tetap berbaik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mewasiatkan,

“Janganlah salah seorang kalian mati kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah azza wa jalla.” (HR. Muslim).

Pada akhirnya, kita panjatkan doa,

“Ya Allah, hidupkanlah dan wafatkanlah kami di atas Islam dan As-Sunnah. Allahumma taqabbal minna, innaka sami’ud du’a.” (*)

(Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan rahimahullah)

Source: asysyariah.com

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)