Kerusakan Akibat Perut dan yang di Bawah Perut

datariau.com
1.965 view
Kerusakan Akibat Perut dan yang di Bawah Perut
DATARIAU.COM - Fenomena terburuk yang muncul di tengah umat ini adalah lemahnya dalam mengendalikan hawa nafsu. Ditambah dengan gencarnya serangan dari kalangan musuh Islam untuk menjerumuskan umat Islam ke dalam kehancuran. Lihatlah, betapa banyak generasi muda bahkan kalangan tua yang rusak akibat tidak pandai mengendalikan hawa nafsu.

Berbagai macam aplikasi di smartphone ditawarkan untuk pengguna semua kalangan, aplikasi yang mempertontonkan hal yang mengundang syahwat, bahkan yang dulunya disensor kini didapatkan dengan mudah di dalam aplikasi yang diciptakan manusia tersebut. Tampak di dalam aplikasi itu wanita-wanita mulai dari belia hingga tua memperlihatkan keelokannya dalam berjoget, menarik semua kalangan pria yang menonton.

Apa yang terjadi, di zaman fitnah dan syahwat ini semakin banyak aplikasi di dalam smartphone yang berdampak merusak moral umat. Bahkan, aplikasi itu secara gratis bisa diunduh, melalui ponsel cerdas yang saat ini semakin diobral di pasaran, semua orang bisa membelinya. Semakin hancur masyarakat yang belum mendapatkan edukasi yang baik penggunaan media sosial, akhirnya terjadi kerusakan sosial yang mengkhawatirkan.

Islam telah mengajarkan bagaimana cara bermedia sosial yang baik. Dimana, Islam melarang umatnya menyebarkan keburukan. Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat atau dosa.

Dalam hadits juga disebutkan,

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

"Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga." (HR. Muslim no. 1017).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang memberi petunjuk pada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. Aliran pahala atau dosa tadi didapati baik yang memberi petunjuk pada kebaikan atau kesesatan tersebut yang mengawalinya atau ada yang sudah mencontoh sebelumnya. Begitu pula aliran pahala atau dosa tersebut didapati dari mengajarkan ilmu, ibadah, adab dan lainnya."

Bayangkan, dosa bagi yang menyebarkan atau mengajarkan keburukan dan maksiat, mengajarkan generasi muda goyang-goyang di depan ponsel dan direkam kemudian disebar lagi ke ribuan bahkan jutaan pengguna internet, semua itu didasari karena syahwat dan kebodohan sebagian orang yang hanya pandai mengekor, ikut-ikutan tanpa berpikir.

Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menyebarkan kebaikan, karena sangat besar keutamaannya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin 'Amr bin Tsa'labah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim no. 1893).

Keburukan akibat syahwat ini sangat banyak terjadi, pernah kita dengar seorang pejabat harus hancur karena syahwatnya, karena perut dan yang di bawah perut. Karena perut artinya untuk makan, berapa banyak orang yang hancur dan melakukan kemaksiatan karena alasan untuk makan. Sementara yang di bawah perut maknanya adalah kemaluan, syahwat untuk berhubungan seks, bahkan seks terlarang.

Bahkan sebagiannya, mereka mempertontonkan maksiat yang mereka lakukan, padahal keadaan ini sangat terlarang dan besar dosanya.

Abu Hurairah radhiallahu 'anhu mengatakan, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ : يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

"Seluruh umatku diampuni kecuali al-mujaahirun (orang yang melakukan al-mujaaharah). Dan termasuk bentuk al-mujaaharah adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian di pagi hari Allah telah menutupi dosanya namun dia berkata, "Wahai fulan semalam aku telah melakukan dosa ini dan itu." Allah telah menutupi dosanya di malam hari, akan tetapi di pagi hari dia membuka kembali dosa yang telah ditutup oleh Allah tersebut." (Shahih. HR. Bukhari dan Muslim).

Sekiranya kita sama-sama menjaga diri kita dan keluarga kita untuk tidak terjerumus kepada arus maksiat yang semakin mengancam di akhir zaman ini. Jagalah keluarga kita, anak dan istri kita, agar terjauh dari api neraka.

Hal ini sangat penting karena perintah Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Qs. At-Tahrim [66]:6)

Ini semua menjadi tanggung jawab kita semua, sebab kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه

"Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin." (Muttafaqun alaihi).
Penulis
: Riki
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)