PEKANBARU, datariau.com - DPRD Kota Pekanbaru prihatin melihat kondisi kabut asap yang kembali merenggut korban jiwa. DPRD menyarankan agar setiap kelurahan di Pekanbaru ada rumah oksigen.
"Artinya, ada ruangan luas yang bebas asap. Di rumah oksigen ini nanti masyarakat bisa bernafas dengan udara bersih," ungkap Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Jhon Romi Sinaga, Rabu (21/10/2015).
Politisi PDIP ini juga meminta Kadiskes Pekanbaru aktif melakukan antisipasi dampak buruk kabut asap. Dengan menyediakan rumah yang bebas kabut asap setiap kelurahan juga dengan menyediakan masker standar dibagikan secara gratis.
"Ini sudah harus ditanggapi secara serius, karena sudah berapa banyak masyarakat kita yang menjadi korban jiwa, belum lagi warga yang sakit sesak nafas dan penyakit lainnya yang menyerang warga akibat kabut asap ini," ujarnya.
Kepada Pemko Pekanbaru, Romi meminta agar segera melakukan koordinasi secara intens dengan pemerintah pusat. Meminta pandangan untuk tanggap bencana kabut asap ini sebelum korban jiwa semakin banyak berjatuhan.
"Seperti kita tahu, kalau titik api tidak ada di Riau, hanya saja kita dapat kiriman asap dan saat ini semakin tebal, kita ingin agar ada upaya pemerintah untuk mengantisipasi dampak buruk kabut asap ini," tuturnya.
Anggaran untuk pengadaan rumah oksigen ini, jelas Romi lagi, bisa diambil dari dana tanggap darurat dan juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi. "Sama-sama kita pikirkan, bagaimana agar rumah oksigen ini bisa direalisasikan setiap kelurahan," ujarnya.
Kepada orangtua, Romi meminta agar menjaga anak-anak mereka agar tidak berkeliaran di luar rumah. "Termasuk Dinas Pendidikan, selama asap ini jangan ada proses belajar mengajar, biarkan anak-anak di rumah dan siasati bagaimana agar anak-anak bisa belajar di rumah saja," pungkasnya.
Seperti diketahui, Bocah Sekolah Dasar (SD) berumur 9 tahun, Ramadhani Lutfi Aerli meninggal dunia subuh tadi, Rabu (21/10/2015).
Bocah ini tewas di tengah kumpalan kabut asap yang menyelimuti kota kediamannya, Pekanbaru. Diduga penyebab tewasnya Ramadhani karena asap. Bocah malang ini adalah korban ketiga racun dari asap sisa Karhutla yang mengepung Riau selama 2 bulan ini.
Dari keterangan dokter yang menangani Lutfi di Rumah Sakit, terjadi penipisan oksigen di paru-paru, yang terlihat dari hasil rontgen.
Lutfi yang merupakan putra dari Eri Wiria, warga Jalan Pangeran Hidayat Gang Nikmat, Pekanbaru ini sempat dirawat di Rumah Sakit Santa Maria karena kejang-kejang.
Kata sang Ayah saat ditemui di rumah duka, sehari sebelumnya, Lutfi sempat muntah-muntah dan kesulitan bernafas. Pihak RS memberikan penanganan medis hingga dirontgen.
Menurut penuturan Eri juga, hasil rontgen itu menunjukan adanya penipisan oksigen di Jantung Lutfi. Pada rontgen itu juga jelas tergambar paru-paru Lutfi dipenuhi asap.
"Sempat kejang-kejang, jam 11 malam dilarikan ke Santa Maria, diinfus. Sempat dipompa oksigen. Dokter menjelaskan seperti ada awan di paru-paru. Hasil rontgen menunjukan oksigen telah tipis," terang Eri. (nar)