PEKANBARU, datariau.com - Menjadi penyandang disabilitas bukanlah halangan bagi seseorang untuk bekerja. Dengan semangat yang gigih semua akan bisa dilakukan.
Di sudut kota Pekanbaru, tepatnya di Jalan HR Soebrantas sebelum SPBU Panam, Purba (47) seorang tunanetra yang bekerja sebagai tukang urut panggilan masih semangat berjuang dan bertahan di tengah teriknya matahari berjualan kacang, kuaci, permen (Cangcimen) sembari menunggu panggilan dari orang yang ingin menggunakan jasanya, dengan slogan, "Sedikit Rasa Tanpa Bicara".
Pekerjaan ini dilakukan Purba setiap hari dari siang hingga malam hari. Semua ia lakukan demi memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai sebatang kara.
Bekerja lebih kurang selama 11 tahun tidak menyurutkan semangatnya. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan.
"Aku bekerja ini dari tahun 2010 sambil berjualan juga, mulai dari jam 11 siang sampai jam 11 malam. Kalau siang saya mangkal disini nanti jam 6 sore saya pindah ke jalan Bangau, jadi disana sampe jam 11 malam. Saya hidup sendiri masih lajang jadi untuk memenuhi kebutuhan aja karna saya nggak mau minta-minta," tuturnya, Kamis (14/10/2021).
Selama menjadi tukang urut, Purba tidak pernah mematok biaya cukup bayar seikhlasnya. Namun, semakin hari panggilan datang pun semakin berkurang, ia hanya bisa berusaha semampunya dan berdo'a agar selalu dibukakan pintu rezeki.
"Kalau penghasilan kadang nggak ada karena biaya nggak jadi patokan, tergantung sama orang yang ngasih jadi seikhlasnya aja. Lagian urut ni angin-anginan, kadang ada kadang tidak, tapi sekarang udah jarang juga yang panggil," jelasnya.
Purba tidak memiliki tempat tinggal, Ia berjuang dan hidup dijalanan. Tidur tidak menentu, halte bus lah yang menjadi tempat berteduh baginya. Selama pandemi Ia belum pernah medapat bantuan dari pemerintah. Pernah meminta modal ke Dinas Sosial namun ditolak.
"Aku tidur nggak tentu bang, kadang tidur di kedai nasi goreng, di pasar bawah, kadang tidur di halte-halte bus jadi nggak nentu. Kalau bantuan dari pemerintah nggak ada paling dari mahasiswa UIN, UIR, Unri yang banyak ngasih. Pernah kotak aku ini hilang, jadi aku minta sedikit dana dari Dinas Sosial, tak mau dia ngasih jadi mahasiswa yang ngasih modal. Kalau pemerintah itu banyak ngasih ke Pertuni, kalau ini kan untuk usaha pribadi saya," tuturnya.
Purba berharap agar pemerintah lebih memperhatikan penyandang disabilitas yang masih giat dalam bekerja. Setidaknya memberikan sedikit modal untuk meneruskan usaha yang dilakukan. (mam)