Makam Putri Sembilan, Warisan Sejarah Perempuan Melayu yang Tetap Dihormati di Rupat Utara

datariau.com
723 view
Makam Putri Sembilan, Warisan Sejarah Perempuan Melayu yang Tetap Dihormati di Rupat Utara
Foto: Pertika Sari
Makam Putri Sembilan, situs bersejarah yang dipercaya sebagai makam sembilan putri bangsawan Melayu.

BENGKALIS, datariau.com - Di tengah rindangnya hutan di Desa Tanjung Medang, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, berdiri sebuah bangunan sederhana berwarna kuning yang dikelilingi pagar besi. Tempat itu dikenal sebagai Makam Putri Sembilan, situs bersejarah yang dipercaya sebagai makam sembilan putri bangsawan Melayu.

Makam ini menjadi simbol sejarah, budaya, sekaligus spiritualitas masyarakat tempatan. Banyak warga datang berziarah atau sekadar merenung di sekitar kawasan ini, terutama pada momen-momen tradisi adat.

“Sejak kecil kami sudah tahu cerita tentang Putri Sembilan. Mereka adalah sosok perempuan yang dihormati karena kebaikan dan kebijaksanaannya,” ujar Mak Suharnis (62), warga Tanjung Medang yang rutin membersihkan makam.

Meski sederhana, makam ini tertata rapi. Di bagian luarnya terdapat bangunan pendopo beratap merah yang menaungi area pemakaman. Di dekatnya, terdapat papan informasi berisi penjelasan sejarah dan filosofi Desa Puteri Sembilan, hasil dokumentasi mahasiswa KKN UIN Suska Riau tahun 2024.



Menurut penuturan warga, Putri Sembilan merupakan gadis-gadis keturunan bangsawan yang menghindari kejaran penjajah dengan menghilang secara misterius ke dalam tanah. Kisah tersebut berkembang menjadi legenda dan diyakini sebagai wujud keberanian dan kesucian para putri.

Sayangnya, situs ini belum sepenuhnya mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Minimnya fasilitas, seperti akses jalan, petunjuk arah, dan informasi sejarah yang memadai menjadi kendala bagi pengunjung.

“Kalau dikelola lebih baik, makam ini bisa jadi tempat wisata sejarah dan budaya. Apalagi ini warisan kita,” tutur Firman, pemuda desa yang aktif di kegiatan kepemudaan.

Makam Putri Sembilan bukan sekadar situs tua, tetapi bukti sejarah panjang peran perempuan dalam menjaga martabat dan budaya Melayu di pesisir Riau. Masyarakat berharap situs ini bisa menjadi bagian dari pelestarian identitas lokal sekaligus sarana edukasi sejarah bagi generasi muda.***

Penulis: Pertika Sari (Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Riau)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)