Dampak Resesi Jepang dan Inggris Terhadap Perekonomian RI

wahyuni
503 view
Dampak Resesi Jepang dan Inggris Terhadap Perekonomian RI
Foto : DAAI TV
Resesi Jepang dan Inggris.

DATARIAU.COM - Sejumlah negara mitra dagang Indonesia seperti Jepang dan Inggris mengalami perlambatan ekonomi hingga resesi. Lantas, apakah ini akan memberi dampak pada sektor keuangan hingga perbankan RI?

Dikutip CNBN Indonesia, ekonomi sejumlah negara telah resesi awal tahun ini, seperti Jepang dan Inggris. Beberapa kalangan ekonom menilai, ada dampak positif yang bisa diperoleh Indonesia dari terkontraksinya ekonomi negara-negara besar itu.

Senior Analyst dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P. Sasmita mengatakan, di tengah tren perlemabatan ekonomi yang terjadi pada sebuah negara, biasanya diiringi dengan relokasi industri ke negara-negara yang ekonominya masih tumbuh cepat.

"Karena situasi domestiknya terkontraksi, peluang investor, seperti dari Jepang mencari lahan investasi di Indonesia, yang pertumbuhannya masih sangat positif, tentu semakin besar," jelas Ronny kepada CNBC Indonesia, Senin (19/2/2024).

Apalagi, Jepang merupakan salah satu negara yang masuk ke dalam golongan 5 negara penyumbang investasi asing langsung terbesar ke Indonesia. Bila China sebesar US$1,9 miliar, foreign direct investment (FDI) Jepang ke Indonesia sebesar US$1,4 miliar per Kuartal IV-2023.

Sedangkan untuk sepanjang 2023 (Januari-Desember), total realisasi FDI China ke Indonesia sebanyak US$7,4 miliar menempatkannya di posisi kedua dari lima besar penumbang FDI ke Indonesia, sedangkan Jepang ke Indonesia sebanyak US$4,6 miliar atau di posisi keempat.

"Dari sisi investasi, saya kira ini waktu yang tepat untuk menggaet sebanyak-banyaknya investor Jepang ke Indonesia. Karena Jepang berpeluang akan menambah stimulus untuk mengerek permintaan dalam negerinya di satu sisi dan semakin menekan suku bunga perbankan yang akan melonggarkan liquiditasnya," ucap Ronny.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menambahkan, secara keseluruhan dampak negatif dari resesi yang terjadi di negara-negara seperti Jepang dan Inggris sebetulnya juga terbatas bagi Indonesia, karena hanya masuk melalui jalur perdagangan.

Jepang hanya masuk ke urutan tiga terbesar negara tujuan ekspor Indonesia dengan porsi 8,03%, jauh di bawah China yang menjadi urutan teratas tujuan ekspor Indonesia dengan porsi 25,09%. Ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2023 lalu.

Riefky juga menganggap, dampak resesi yang terjadi di negara-negara itu tidak akan menjalar ke negara-negara lain. Maka, Indonesia harus mencari mitra dagang baru di tengah kondisi ini, supaya menjaga daya tahan kinerja neraca perdagangan di tengah lesunya negara mitra dagang utama.

"Jadi apakah resesi ini akan menjalar ke negara-negara lain atau tidak, dugaan kami sih tidak, dampaknya akan manageble, dan dari Indonesia dampaknya yang paling besar hanya dari sisi perdagangan walaupun itu juga masih sangat kecil," tutur Riefky.

Dikutip tempo.co, selain itu resesi yang terjadi ini juga berkaitan dengan value chain atau rantai nilai untuk industri manufaktur, seperti otomotif. “Jadi perlambatan ekonomi di Jepang juga akan menurunkan ekspor manufaktur kita,” kata dia.

Faisal menuturkan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Januari 2024 lalu, pertumbuhan ekspor Indonesia ke Jepang tercatat kontraksi atau turun 9 persen. Sementara secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi salah satu sektor yang turun paling dalam yaitu -22,7 persen. “Jadi memang ada dampaknya ke perdagangan kita, terutama ekspor kita ke Jepang.”

Sedangkan Inggris, ujar Faisal, bukan termasuk mitra dagang paling besar sehingga pengaruhnya relatif kecil bagi perekonomian RI. “Walaupun Uni Eropa itu salah satu yang besar, tapi yang paling besar (mitra dagang RI) itu Jerman, Belanda, dan Italia. Jadi kalau buat Indonesia terjadi resesi di Inggris itu relatif kecil kalau ke Indonesia,” ucapnya.

Sebagai informasi, ekspor RI pada Januari 2024 mencapai US$ 20,52 miliar. Angka ini turun 8,34 persen dibanding Desember 2023. Ekspor nonmigas Januari 2024 mencapai US$ 19,13 miliar, turun 8,54 persen dibanding Desember 2023, dan turun 8,20 persen jika dibanding ekspor nonmigas Januari 2023.

Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari 2024, komoditas dengan penurunan terbesar dibanding Desember 2023 adalah bahan bakar mineral sebesar US$ 805,9 juta (20,81 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 208,0 juta (10,36 persen).

Diketahui, Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang turun 0,4 persen (yoy) pada periode Oktober-Desember setelah penurunan 3,3 persen pada kuartal sebelumnya. Hasil ini mengacaukan perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 1,4 persen. Kontraksi dua kuartal berturut-turut biasanya dianggap sebagai definisi resesi teknis.

Sementara Inggris juga menyusul masuk ke jurang resesi setelah pertumbuhan ekonominya mencatat pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. PDB Inggris kontraksi 0,3 persen pada kuartal IV-2023. Sementara, kuartal III-2023 ekonomi Inggris juga turun 0,1 persen. ***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)