SIAK, datariau.com - Seminar Nasional pengusulan gelar Pahlawan Nasional Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah Sultan Siak ke-II atau Tengku Buwang Asmara salah satu prasyarat dimasukan dalam usulan pahlawan nasional, kemudian di rekomendasikan Gubernur dan diteruskan ke Kementrian Sosial.
Pelaksanaan acara seminar tampak berjalan lancar yang dihadiri Menteri Sosial RI diwakili Penyuluh Sosial Ahli Madya Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Triwiyanto, Gubernur Riau diwakili Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau Tengku Zul Efendi, Para Narasumber, para perwakilan Bupati se-Riau, Tokoh Sejarah, Budayawan, Akademisi, TP2DG Provinsi Riau, Ketua DPRD Siak, Pengurus LAMR kabupaten Siak para mahasiswa serta Guru Sejarah.
Tujuan seminar ini untuk menghimpun berbagai pendapat dan saran sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun draf serta diskusi seminar dengan sejumlah tema mulai dari sejarah perjuangan Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah riwayat hidup Sultan Siak ke-II.
Sejarah dan dampak perjuangan Sultan Siak ke-II terhadap perjuangan nasional, hingga pandangan Belanda terhadap Sultan Siak ke-II atau Tengku Buwang Asmara diskusikan secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bupati Siak Drs H Alfedri MSi dalam kesempatan itu mengatakan, penganugerahan gelar pahlawan yang sedang di ikhtiarkan pada hari ini, merupakan bagian dari upaya untuk turut berkontribusi dalam konstruksi identitas nasional.
Nilai-nilai perjuangan yang tergambar dalam aksi heroik Allahmarhum Tengku Buwang Asmara yang disebut sebagai strategi muslihat bermartabat yang terjadi di Pulau Guntung, merupakan perwujudan dari spirit ke pahlawan dan cinta akan tanah air.
Dan menjadi ikon patriotisme dan teladan bagi bangsa Indonesia, yang hadir dari sosok pemimpin kebanggaan negeri ini, Sultan Siak kedua, yang bergelar Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah.
?Betapa dahsyatnya perjuangan menghalau penjajah, sudah sepatutnya kita selaku pewaris peradaban yang beliau tinggalkan memperjuangkan agar beliau dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional, sebagai bentuk penghargaan negara kepada tokoh tertentu atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, sebagaimana telah diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan,? ujarnya di Gedung Daerah Sultan Syarif Kasim, Mempura, Siak, Selasa (13/12/2022).
Sementara itu, Menteri Sosial di wakili Penyuluh Sosial Gelar pahlawan ini Ahli Madya Bidang Pemberdayaan Tri Wiyanto mengatakan pengusulan pahlawan memberikan suatu ikon contoh keteladanan bagi masyarakat semua terutama bagi generasi muda, untuk memupuk jiwa semangat kepahlawanan terkait dengan itu, Kementrian Sosial membuka secara lebar memberikan sosialisasi dan pemahaman terkait usulan-usulan dari daerah.
?Melalui kegiatan seminar ini salah satu prasyarat untuk di usulkan dalam usulan pahlawan nasional, kemudian di rekomendasikan oleh Gubernur dan diteruskan ke Kementrian Sosial," ucap Alfedri.

"Selanjutnya Kementrian Sosial memproses, meneliti dan pengkajian gelar pahlawan nasional dilakukan oleh tim peneliti dan pengkaji gelar pusat yang terdiri dari 13 orang para pakar yang di dalamnya ada sejarahwan, akademisi, instansi terkait. Setelah lulus atau memenuhi persyaratan Kementrian Sosial melalui ibu Menteri Sosial mengusulkan kedewan gelar selanjutnya diusulkan kepada bapak Presiden untuk di anugrahkan sebagai pahlawan nasional,? urainya.
Dia berharap seminar nasional pengusulan gelar pahlawan nasional tengku buwang asmara dapat berjalan lancer dan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Sehingga Sultan Siak ke-II Tengku Buwang Asmara menjadi pahlawan nasional dari Riau kabupaten Siak.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Riau Tengku Zul Efendi saat membacakan sambutan Gubernur Riau Syamsuar menyampaikan, masyarakat Riau tidak lupa dengan sejarah, Riau se-buah daerah kesatuan yang terintegrasi dengan negara NKRI adalah salah satu wilayah yang turut menjadi tempat berkobarnya api-api perjuangan, peperangan melawan penjajah.
?Kisah heroic para pendahulu kita menjadi bukti bahwa Provinsi Riau memiliki banyak pejuang yang kiprahnya berdampak terhadap nusantara dengan segala pengorbanan dan pengabdiannya. Maka sampai saat ini pahlawan nasional dari Provinsi Riau hanya berjumlah empat orang, terhitung sejak tahun 1998 sampai dengan saat ini Riau belum memiliki pahlawan nasional baru, selain Sultan Syarif Kasim II dan Tuanku Tambusai,? ucapnya.
Dikatakan Zul Efendi, awal tahun 2022 lalu, Provinsi Riau telah mengusulkan alm Mahmud Basuki dari Kampar dan Marhum Pekan dari kota pekanbaru sebagi pahlawan nasional namun usulan di maksud sampai saat ini, belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.
Gubernur Riau mendorong daerah lain di Riau, membentuk Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) melakukan tugas yang sama mengusulkan tokoh yang layak menjadi pahlawan nasional bersama-sama TP2GD setempat dengan melibatkan pihak terkait lainnya.
Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) diperlukan untuk melakukan inventarisasi penelitian dan pengkajian tokoh pejuang yang kita anggap layak untuk di usulkan menjadi calon pahlawan nasional.
?Saya yakin tokoh-tokoh di daerah ini masih banyak yang layak untuk kita usulkan. Hal itu penting kita sampaikan ke publik bahwa daerah kita ini juga punya andil yang cukup besar, terhadap perjuangan baik saat penjajahan, zaman kemerdekaan, maupun di zaman setelah kita merdeka dan kita tidak mau dianggap hanya sekedar menumpang merdeka," jelas Zul Efendi.
Selanjutnya, sejarah panjang perjuangan Tengku Buwang Asmara melawan penjajah demi mempertahankan marwah negeri sungguhlah patut di teladani, pelajaran yang sangat berharga dari Tengku Buwang Asmara adalah pengorbanan dan pengabdian.
"Suatu hal yang menjadi pelajaran penting bagi kita, untuk sama-sama yang hadir sini, jangan ada di antara kita berdiam diri di saat negeri ini membutuhkan tujukan pengorbanan kita saat ini akan di teladani oleh anak cucu generasi kita dimasa mendatang," pungkasnya.(***)