Wujudkan Impian Menjadi Bandar Niaga, Meranti Mulai Tumbuh Signifikan Dalam Satu Dekade

datariau.com
851 view
Wujudkan Impian Menjadi Bandar Niaga, Meranti Mulai Tumbuh Signifikan Dalam Satu Dekade
Foto: Rahmad Santoso
Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan MSi didampingi mantan Pj Gubernur Riau Wan Abu Bakar MSi saat menghampiri Balai Sidang DPRD dalam rangka Sempena HUT Kabupaten Kepulauan Meranti ke-10 di Selatpanjang.

KEPULAUAN MERANTI, datariau.com - Tepat tanggal 19 Desember 2018, Kabupaten Kepulauan Meranti berusia satu dekade. Ibarat seperti usia anak remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama yang sedang semangat dan gigih belajar untuk mengejar impian. Begitu juga Kabupaten Kepulauan Meranti yang tengah semangat membangun diri menjadi daerah berkembang dengan berbekal kisah historis yang sangat panjang.

Walaupun memiliki segudang pengalaman kisah, namun masih butuh kerja keras untuk menggapai impian menjadikan negeri yang kaya akan potensi alam sebagai kawasan 'bandar niaga'. Impian menjadi kawasan 'bandar niaga' merupakan visi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti setelah pemekaran. Sejak berpisah dengan Kabupaten Bengkalis yang dulunya 'Penguasa Tanah Jantan' sejak tahun 90-an, sekarang lebih akrab disebut Selatpanjang (ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti).

Sedikit ulasan mengenai historisnya sangat melekat dengan perjuangan para tokoh masyarakat yang penuh tantangan untuk lepas dari Kabupaten Bengkalis yang menjadikan sebuah pelajaran bagi generasi mendatang akhirnya membuahkan hasil yang tak pernah terpikirkan, karena memiliki resiko yang sangat besar. Hingga pada tanggal 19 Desember 2008, DPR RI mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemekaran Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi Undang-Undang Paripurna.

Sehingga waktu itu masih bernamakan Pulau Merbau, Pulau Rangsang, dan Pulau Tebingtinggi mengikatkan diri menjadi suatu daerah otonom dengan nama Kabupaten Kepulauan Meranti. Momentum bersejarah itu adalah berkat ridho Allah Subahanahu wa Ta'ala terhadap penantian panjang seluruh masyarakat tiga pulau tersebut. Sebuah perjuangan tulus untuk mewujudkan kesejahteraan bersama dengan memperpendek rentang kendali pemerintahan.

Bersempena hari jadi ke-10 ini, sebagaimana yang dikemukakan Drs H Irwan Msi, selaku Kepala Daerah yang saat ini sudah menjabat selama dua periode memegang kendali roda pemerintahan, berdiri tegak dengan mengenakan baju kurung melayu berwarna biru kembali menyibak setitik sejarah, awalnya berkembang yang dimulai dari pembentukan Kabupaten Kepulauan Meranti dari masa ke masa. Generasi ke generasi sebagai refleksi historis dari perjuangan panjang para tokoh dan masyarakat Tanah Jantan.

Dengan penuh haru, Irwan mengungkapkan rasa penghormatan dan penghargaannya di hadapan para tokoh pejuang dan masyarakat Meranti di tengah-tengah sejuknya hawa gedung balai sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kepulauan Meranti. Hati mereka pun tergugah mengenang masa-masa semangat memperjuangkan Tanah Jantan yang dulu masih di bawah Negeri Junjungan.

Tepukan riuh mulai terdengar dari sudut kanan mantan Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Drs Masrul Kasmy yang berkesempatan hadir untuk bersama-sama sembari mengenang bagian masa perjuangannya terdahulu. Tepukan tangan yang menaruh makna sangat dalam itu menyelimuti hingga semua sudut balai sidang, tak terlepas juga di luar halaman balai sidang.

Drs Said Hasyim, Wakil Bupati Kepulauan Meranti saat ini berdampingan duduk dengan Ketua DPRD Kepulauan Meranti, Fauzi Hasan, dan Wakil Taufikurahman, Muzamil, seluruh pihak jajaran eksekutif dan legislatif terkesima dengan perjuangan tokoh masyarakat dalam membangun Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi daerah yang baru mekar dikenal oleh masyarakat seluruh dunia.

Orang pertama yang menjadi kebanggaan karena bertanggung jawab terhadap pemekaran Kepulauan Meranti disebutkan Irwan, adalah seluruh masyarakat yang ikut berjuang dan mendukung terbentuknya Kabupaten Kepulauan Meranti. Baik mereka yang berdiam di dalam, maupun luar Kepulauan Meranti yang ikut sumbangsih tenaga, fikiran, waktu, dan materi demi terbentuknya Meranti sebagai daerah otonom baru.

Wan Abu Bakar Msi ikut hadir melengkapi deretan tokoh pejuang pada masa silam itu. Ia yang menjabat sebagai Pj Gubernur Riau, dimana beliau harus mengambil resiko atas jabatannya untuk merekomendasikan dan menyetujui pembentukan Kabupaten Kepulauan Meranti dengan mengeluarkan Keputusan Gubernur Riau Nomor 1396/IX/2008 tanggal 19 September 2008 tentang persetujuan Pemerintah Provinsi Riau terhadap pembentukan Kabupaten Kepulauan Meranti. Meskipun tekanan datang kepada beliau agar tidak menandatangani terhadap berkas terpenting, hal itu tidak menyurutkan sikap beliau mendukung terbentuknya Kabupaten Kepulauan Meranti.

Berbicara soal sebelum pemekaran, orang nomor satu di Kepulauan Meranti itu mengungkapkan, begitu banyak yang meragukan bahwa Meranti bisa eksis secara keuangan dan pembangunan. Namun dengan bermodalkan keyakinan dan memiliki dasar kajian akademis serta politis bahwa daerah ini memiliki kekuatan dan sumberdaya yang besar untuk membiayai pemerintahan dan mensejahterakan masyarakatnya.

Meranti yang identik disebut Kota Sagu memiliki letak geografis yang strategis di tepian alur pelayaran tersibuk di dunia, yakni Selat Malaka Malaysia dan Singapura. Daerah yang terdiri dari tiga pulau itu memiliki luas wilayah 3707.84 Km persegi menjadi penyangga yang mensuplai berbagai kebutuhan pokok ke kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan, dan Karimun.

Kekayaan sumber daya alam di Kepulauan Meranti juga sangat menjanjikan, karena memiliki hasil perkebunan berupa sagu dengan luas mencapai 61,114 hektar dengan produksi mencapai 205.051 ton per tahun. Selain sagu, Meranti memiliki perkebunan kelapa dengan total luas areal 31,653 hektar dengan jumlah produksi sekitar 10.099,946 ton per tahun. Kemudian kopi liberika meranti yang memiliki luas sekitar mencapai 1.246 hektar dengan produksi mencapai 1.710,422 ton per tahun, dan potensi karet dengan luas 20.636 hektar dengan kapasitas produksi mencapai 10.099,946 ton per tahun.

Dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki, Kepulauan Meranti berpeluang menjadi pemasok utama bahan pangan ke pasar dunia melalui Malaysia dan Singapura. Faktanya komoditas lokal sudah sejak lama menjadi andalan ekspor yakni arang, kopi, dan saat ini sagu.

Sedikit demi sedikit proses untuk membangun memiliki tantangan yang memang tidak ringan, apalagi dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga yang memiliki tingkat kesulitan lebih ringan dari daerah ini. Namun tantangan tersebut tidak pernah sedikit pun menyurutkan langkah untuk terus berbenah, membangun dan berhias demi menggapai cita-cita bersama.

Tantangan yang paling pokok adalah dalam menuntaskan kemiskinan di Meranti yang berada diangka 43 persen. Angka tinggi diawal pemekaran Kepulauan Meranti tersebut disebabkan oleh minimnya infrastruktur dan akses perekonomian. Namun dengan kegigihan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan, angka kemiskinan tersebut terus-menerus dapat ditekan dari tahun ke tahun, yang saat ini menjadi 28.99 persen.

Tepukan gemuruh pun terdengar kembali setelah Irwan menyatakan angka kemiskinan di Meranti dapat ditekan. Hal ini pun jadi kebanggaan para tokoh pejuang karena Meranti mulai tampak berkembang dengan baik yang berada di bawah kepemimpinan yang memang anak daerah itu sendiri.

Dilanjut dengan geliat pembangunan dapat dilihat pada sejumlah indikator makro yang sangat penting, dimulai dari pertumbuhan ekonomi yang awal pemekaran Kepulauan Meranti adalah sebesar 7,4 persen. Setelah tahun 2011 hingga tahun 2015, angka pertumbuhan ekonomi mencapai angka tertinggi yakni, 8 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi nasional yang melamban dalam tiga tahun terakhir, membuat pertumbuhan ekonomi Meranti tertekan pada kisaran 3,32 persen pada tahun 2017.

Tak lupa, pengendalian inflasi juga dilakukan upaya pengawalan, walaupun diawal pemekaran sempat melonjak. Namun dengan kebijakan mengenjot produksi terutama disektor pangan, serta memperlancar moda transportasi, pelan-pelan angka inflasi bisa dikawal agar tidak mengalami peningkatan yang drastis dengan angka sebesar 4,32 persen.

Setelah inflasi, investasi juga digeliatkan pemerintah agar menjadikan upaya yang menguntungkan untuk pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Meranti. Saat ini nilai investasi yang masuk dari Penanaman Modal Asing tercatat sebesar 11,160.00 dollar AS, sedangkan investasi dalam negeri sekitar Rp159,4 triliun.

Kerjasama antar lembaga eksekutif dan legislatif layak diapresiasi, karena dengan kekompakan yang terus dijaga bisa melaksanakan sejumlah azas fundamental dalam membangun daerah. Salah satunya dengan mempertahankan nilai Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD) Kepulauan Meranti di kisaran Rp1 triliun setiap tahunnya. Sejak pemerintahan defenitif pertama, telah mendongkrak nilai APBD dari semula Rp369 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp850 miliar pada tahun 2011. Hingga nanti di tahun 2019, berharap bisa bertahan di kisaran angka Rp1,4 triliun.

Untuk mendorong peningkatan sumber-sumber produksi dan perluasan pemasaran komoditas lokal dalam rangka meningkatkan ekonomi, sebut Irwan, butuh upaya kerja yang keras. Komoditas sagu yang selama ini dianggap salah satu sumber pangan alternatif dunia, bahkan berhasil menjadi varietas sagu Nasional. Bagaimana tidak, karena Meranti dijuluki sebagai daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia dan ketiga di dunia. Sagu yang diolah menjadi bahan tepung kering disuplai atau diekspor di dalam negeri dan mancanegara, seperti Singapura, Malaysia, dan Jepang.

Tanaman sagu baik lokal maupun tingkat nasional, banyak pihak mulai tertarik untuk mengembangkannya.  Khusus Kabupaten Kepulauan Meranti telah sejak lama memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan pangan pokok dan sumber pendapatan masyarakat. Bahkan dengan kegigihan masyarakat dalam menciptakan ratusan menu makanan berbahan dasar sagu berhasil meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).

Upaya Bupati Irwan yang berjuang mengenalkan bahan makanan sagu hingga tingkat nasional berkembang signifikan menjadi makanan yang tenar dibeberapa daerah hingga diperkenalkan sebagi produk unggulan yang berjaya mengambil tempat di sejumlah perusahaan besar di Indonesia. Selain itu dia juga mengusulkan kepada Pemerintah Pusat khususnya Kementerian Pertanian untuk memasukkan sagu ke dalam program pengembangan pangan Nasional dalam upaya ketahanan.

Menyusul untuk mengejar target dalam menjadikan sagu sebagai ketahanan pangan nasional, pemerintah Kepulauan Meranti terus mendorong produksi dan inovasi pengolahan sagu diantaranya, dengan membangun sentra industri kecil dan menengah sagu di Sungai Tohor dengan anggaran sekitar Rp40 miliar yang didanai oleh APBN.

Tidak kalah tenar dengan sagu, kopi liberika Meranti yang merupakan kopi khas Pulau Rangsang yang selama ini ditampung oleh pedagang-pedagang di Malaysia, ternyata memiliki cita rasa khas dan ditetapkan sebagai salah satu top brand kopi nasional. Dengan begitu, tahun depan pemerintah akan merevitalisasi industri kecil kopi berupa penyediaan mesin pengolahan dengan anggaran sekitar Rp2 miliar yang bersumber dari APBN. Namun sayangnya komoditas kopi dan karet sedang menghadapi tekanan berat, sehingga harga dua komoditas tersebut anjlok akibat turunnya harga pasar dunia.

Bupati Irwan menjelaskan, Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terletak pada bagian pesisir timur pulau Sumatera, dengan pesisir pantai yang berbatasan dengan sejumlah negara tetangga dan masuk dalam daerah segitiga pertumbuhan ekonomi  Indonesia, Malaysia, Singapura. Kabupaten yang identik dengan daerah kepulauan, dimana keberadaan pulau-pulau tersebut dihubungkan oleh lautan yang disebut selat. Sehingga secara otomatis, memerlukan penghubung agar dapat terangkai menjadi daerah satu kesatuan dan memudahkan dalam proses pembangunan.

Upaya pemerintah dalam menghubungkan pulau-pulau tersebut satu-persatu telah ditunaikan dengan membangun beberapa sarana seperti pelabuhan roro. Antara lain Roro Kampung Balak-Buton, Roro Pecah Buyung-Insit yang sedang dalam pembangunan, dan disusul juga dengan pembangunan Roro Lukit-Buton. Infrastruktur pelabuhan inilah merupakan hal terpenting yang harus disediakan oleh Pemerintah terutama dalam mewujudkan visi 'Bandar Niaga'.

Selain pembangunan yang saat ini tengah dalam progres, diakui Bupati Irwan, dalam kurun waktu satu dekade ini telah banyak infrastruktur pelabuhan yang telah selesai dibangun dan yang sejak dahulu dinanti-nantikan akhirnya dapat dirasakan masyarakat setempat. Seperti pelabuhan Tanjung Samak, Sungai Tohor, Kuala Asam, Repan, dan Tanjung gadai, dan sebagainya.

Satu Pelabuhan Dorak yang direncanakan dibangun dengan taraf Internasional untuk penunjang ekonomi banyak menuai kontroversi. Pelabuhan yang dibangun dengan menggunakan anggaran sharing budget dengan pemerintah pusat, dimana pembangunan jetty atau sisi laut pelabuhan telah selesai dibangun. Namun, sisi darat yang merupakan kewajibam pemerintah daerah masih terkendala dengan beberapa persoalan lahan yang belum ada pembebasan.

Sementara infrastruktur jalan yang merupakan hal yang terpenting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Meranti, pemerintah telah menyelesaikan pembangunan sepanjang 929,41 kilometer. Dari aspek pendidikan yang menentukan keberhasilan pembangunan, tiap tahun pemerintah telah melaksanakan kewajibannya untuk menganggarkan dari alokasi APBD tidak pernah kurang dari 20 persen. Saat ini, pembangunan pendidikan di Kepulauan Meranti telah mencapai 12,77 tahun untuk angka harapan lama sekolah dan 7,47 tahun untuk angka rata-rata lama sekolah.

Pembangunan kesehatan telah menunjukkan keberhasilan dengan perkembangan jumlah puskesmas yang telah tersebar di seluruh kecamatan di Kepulauan Meranti yang dianggarkan dari alokasi APBD sebesar 10 persen. Selain itu, peningkatan ekonomi rakyat, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti telah melakukan berbagai upaya, diantaranya meningkatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tahun 2018, penyaluran tercatat mencapai Rp49.350.343.000 yang disalurkan melalui lembaga perbankan dan PT Timah Tbk.

Bupati Irwan yang lebih sering berada di luar kota, ternyata selalu pulang menjemput prestasi yang ditanamkan dari upaya-upaya pembangunan Kepulauan Meranti sejak satu dekade baik di tingkat provinsi maupun nasional. Adapun prestasi yang telah diraih adalah, Kabupaten Peduli HAM, Iven Wisata Terpopuler Indonesia, Predikat Opini WTP dari BPK sejak tahun 2012 hingga 2018, Peraih Procorucement Award dari LKPP RI, Penghargaan APIP kategori level 2 dari BPKP RI.

Kemudian Penghargaan Baznas Award dari Baznas RI, Anugerah Aditya  Karya Mahatva Yodha dari Presiden RI, Pemda berkinerja terbaik pertamadalam penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik, dan sejumlah prestasi lainnya. (mad)

Penulis
: Rahmad
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)