DATARIAU.COM - Dr Hj Mutia Eliza MM, wanita inspiratif yang menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru ini lahir di Pekanbaru, 29 Juli 1967. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK), Mutia memiliki bakat menari tradisional seperti tarian rentak bulian dan makan sirih. Ia pun selalu meraih juara 1 di berbagai perlombaan menari tingkat kota dan provinsi. Tak hanya menari, Mutia juga senang membaca.
"Kita harus terus membaca karena ilmu itu banyak di buku" ujar Mutia saat berkesempatan berbincang dengan datariau.com, Rabu (18/12/2019).
Anak ketiga dari pasangan (almarhum) Drs H Maridin Arbis dan (almarhumah) Dr Hj Maimanah Umar MA ini meraih gelar doctor setelah menamatkan pendidikannya di Universitas Brawijaya pada 2010 lalu. Ia ingat bahwa kedua orangtuanya selalu mendukung jika anak-anak ingin menuntut ilmu. Kedua orangtuanya juga mengajarkan untuk terus mempelajari ilmu agama. Sejak menduduki bangku sekolah dasar, sepulang sekolah Mutia dan saudaranya belajar agama dari pukul 14.00 hingga 16.00 wib, dilanjutkan pada malam hari untuk belajar mengaji bersama pamannya.
Dalam hidupnya, Mutia sangat termotivasi dengan sosok sang Ibu. Meskipun Ibunya merupakan wanita karir, tetapi sejak kecil Mutia dan saudaranya sudah diajarkan pekerjaan rumah tangga. "Saya diajar masak sejak SMP, kadang saya masak pagi-pagi karena masuk (sekolah) siang walapun saya masaknya goreng-goreng sama sayur," ungkap Mutia.
Kedua orangtuanya mengajarkan untuk terus bekerja keras, ikhlas, disiplin, dan berjiwa sosial. Prinsip tersebut Mutia terapkan dalam hidupnya, terbukti bahwa Mutia yang mengawali perjalanan karirnya sebagai pegawai di Dinas Perikanan Rengat, saat ini ia telah mencapai posisi sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru.
Pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah, ada pendidikan struktural yang harus ia ikuti. Pada tahun 2002, ia mengikuti pendidikan dan pelatihan staf dan pimpinan administrasi tingkat pertama di Kota Bukittinggi Sumatera Barat. Ketika itu ia membawa anaknya yang masih belia. Kendati demikian, Mutia tetap gigih hingga ia mendapat peringkat terbaik satu.
Bagi Mutia, dalam dunia kerja memang terdapat banyak tantangan. Berwawasan luas menjadi modal agar bisa menjawab berbagai tantangan tersebut. Selanjutnya, Mutia juga menerapkan 9 budaya kerja oleh Pemerintah Kota Pekanbaru untuk menjadi pegawai yang cerdas. Tak hanya itu, setiap hari Jum'at ia membudayakan bersama pegawainya membaca Al-Kahfi dan ceramah agama. Setelahnya, Mutia mengajak pegawainya untuk berdiskusi dan juga menerapkan budaya sedekah bergiliran.
Di sela-sela pekerjaannya, Mutia yang juga berprofesi sebagai dosen di Yayasan Masmur tersebut, selalu memberikan inovasi terbaiknya. Sejak ia menjabat tahun 2018 lalu, tercipta inisasi outlet Pangan Puan Berseri, Kawasan Cantik (Cadangan Pangan Terintegrasi), dan ia berharap dapat mengembangkan outlet-nya pada saat car free day agar bisa membantu petani memasarkan produk-produk hasil pertanian. (*)
Disusun oleh: Jurika Sari
Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UNRI