Susun Rencana Induk dalam RPMJD

Gubri Bersama LAM Riau Perkuat Kebudayaan Melayu

Abdul Kadir
838 view
Gubri Bersama LAM Riau Perkuat Kebudayaan Melayu
(Foto: Pebriyan Koto)
Gubernur Riau Drs. H. Syamsuar, M.Si Membuka Seminar Rencana Induk Pemajuan Kemajuan Melayu Riau.
Pekanbaru, datariau.com - Pemerintah Provinsi Riau bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau mengetengahkan Seminar Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan Melayu Riau menjadi bagian dari draf penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPMJD) Provinsi Riau terkait kebudayaan Melayu.



Demikian disampaikan Gubernur Riau Drs. H. Syamsuar, M.Si saat membuka Pekan Adat dan Budaya Melayu Sempena Milad ke-49 Tahun Lembaga Adat Melayu Riau di Balai Pauh Janggi Gedung Daerah Provinsi Riau Jalan Diponegoro Pekanbaru.


Menurut Gubri, budaya Melayu merupakan ciri khas Provinsi Riau yang harus diketengahkan serta dituangkan dalam PERDA agar Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu dapat dimaksimalkan.


"Menyongsong Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu Riau berbudaya, dimulai dari corak Budaya Melayu serta visi yang dituangkan dalam RPMJD Provinsi Riau," papar Gubernur dihadapan para peserta seminar, Rabu (3/7/2019).



Terwujudnya Riau Unggul sebut Syamsuar, sejalan dengan visi misinya bersama Wakil Gubernur Edi Natar Nasution dalam upaya pemajuan kebudayaan memperteguh budaya Melayu.


"Penjabaran misi Gubernur Riau dalam memajukan kebudayaan melayu yang kami sebut Riau bersatu merupakan upaya pengembangan dan peningkatan pembinaan budaya Melayu," jelasnya.


Syam sapaan akrab mantan Bupati Siak dua periode itu memaparkan, pelestarian kebudayaan Melayu harus memaksimalkan potensi yang dimiliki serta diharapkan dukungan semua pihak terutama Lembaga Adat Melayu.


"Nantinya akan terbentuk salah satunya peningkatan sumber daya manusia seperti adanya saat ini muatan lokal. Optimalisasi budaya Melayu karena sangat banyak cagar budaya yang harus dilestarikan," papar Gubri.



Untuk mewujudkan Provinsi Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu sebut Syamsuar, saat ini Pemerintah Provinsi Riau bersama Lembaga Adat Melayu Riau serta seluruh pegiat budaya tengah berusaha memperkuat pondasi kebudayaan. 


"Melalui seminar ini akan memperkuat draf yang telah disusun LAM Riau untuk diajukan ke DPRD Riau. Sehingga kedepan memiliki acuan dan standar sekaligus dalam memajukan budaya Melayu," sebutnya.


Syamsuar mengungkapkan, kedepan Riau akan diundang negara Thailand karena didalamnya memiliki kebudayaan Melayu khususnya di Thailand Selatan.


Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau Datuk Al Azhar menyebutkan, kebudayaan itu subtansi sebagai aturan bukan hanya ditafsirkan kebiasaan adat.



"Pada tahun 1970 berkumpul para tokoh untuk membentuk lembaga adat Melayu. Tujuannya menjaga dan menjamin adat itu dilaksanakan oleh orang-orang yang mengaku masyarakat Melayu," terangnya.


Al Azhar menuturkan, untuk membangkit batang terendam, budaya Melayu pada tahun 1970  sejak saat itu sudah memikirkan dan mengamati. Saat itu Gubernur Arifin Ahmad melalui Badan Pembina Kesenian saat itu mulai melakukan upaya penguatan budaya Melayu. Budaya Melayu harus diselamatkan melalui Peraturan Daerah dan tidak hanya sebatas seni sebagai ekspresi. 


"Persoalannya kemudian, sejak LAM didirikan dan baru saat ini mengambil kuda-kuda untuk menyusun rencana induk kebudayaan Melayu. Padahal saat ini kita tengah berada di posisi kehancuran nilai-nilai kebudayaan. Jadi tidak mengherankan selama sekian tahun yang kita lihat hanya menepuk tepuk tepung tawar," terang Datuk Al Azhar.



Nah itu, sebut Al Azhar harus ada upaya membangkit batang terendam melalui kerjasama semua pihak terutama pemangku kekuasaan.


"Maka LAM harus mampu menjawab tantangan terutama zaman sekarang ini," sebutnya.


Memaksimalkan Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan Melayu Pemprov Riau dan LAMR menghadirkan Prof. Wiendu Nuryanti, Ph.D Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.



Prof Nuryanti dalam paparannya bertajuk Kontribusi Budaya Melayu dalam Kancah Peradaban Regional mengatakan, berbagai persoalan dihadapi saat ini terutama keberadaan budaya Melayu. 

"Memiliki permasalahan penguatan hak kerkebudayaan masih kurangnya kesadaran berdemokrasi dan lemahnya sportivitas," paparnya. (Abd)


Penulis
: Abdul Kadir
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com