PEKANBARU, datariau.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Provinsi Riau sejak dua bulan lalu, menghasilkan polusi asap. Langit Riau, khususnya Pekanbaru dan sekitarnya, kini sudah tak lagi menunjukkan terang. Putih bercampur ke kuning - kuningan. Perih dan bau.
Bila terus dibiarkan maka akan memperburuk kesehatan masyarakat. Terutama anak - anak dan mereka yang punya riwayat penyakit pernapasan.
Ternyata kepungan asap ini sudah "menjatuhkan" korban.
Seorang warga Kota Pekanbaru bernama Helmy Oemar ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di daerah Rimbo Panjang. Diduga kondisi kesehatannya makin memburuk akibat polusi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau.
Menurut Shadiq Helmy, anak kandung Helmy Oemar, ayahnya memang punya riwayat penyakit vertigo. Tapi sejak ada asap, kondisi kesehatannya menurun.
"Disekitar Rimbo Panjang memang ada kebakaran (lahan). Asap banyak. Almarhum ayah mungkin tidak kuat menghirup udara yang tak sehat, dan mengakibatkan vertigonya kambuh. Mungkin karena kondisi asap bisa jadi pemicu (meninggal)," kata Shadiq Helmy seperti dilansir Antara, Ahad (25/8/2019).
Dijelaskan Shadiq, Helmy Oemar, 59 tahun, sempat satu hari hilang dan tidak ada kabar sebelum ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di daerah Rimbo Panjang, pada Ahad pagi sekitar pukul 09.00 WIB.
Shadik menjelaskan, almarhum pada hari Sabtu (24/8/2019) pergi sendirian melihat kondisi kebunnya di Rimbo Panjang. Hingga Sabtu sore tidak ada kabar dari ayahnya, sehingga warga dan pihak keluarga melakukan pencarian sampai jam dua dini hari. Telepon seluler almarhum bisa dihubungi, tapi tidak juga diangkatnya.
Shadik saat kejadian berada di Jakarta dan langsung mengambil penerbangan pesawat ke Pekanbaru. Ia pada Ahad pagi ikut melakukan pencarian dan menemukan ayahnya di tengah hutan di Rimbo Panjang dengan kondisi tidak bernyawa.
Ia mengatakan selama ini kondisi ayahnya tidak ada riwayat jantung. Cuma Vertigo. Kondisi udara pada saat kejadian memang berselimut asap atau jerebu karena di Rimbo Panjang sedang terjadi kebakaran lahan gambut.
"Saat ditemukan kondisi almarhum sedang bersender di batang pohon seperti beristirahat, sedang meringkuk," katanya.
Ia mengatakan pihak kepolisian dan rumah sakit menyarankan jenazah ayahnya untuk divisum, namun pihak keluarga memutuskan untuk langsung menguburkannya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kertama, Kota Pekanbaru, pada Ahad sore.
Seperti diketahu, Rimbo Panjang adalah daerah perbatasan Kabupaten Kampar dengan Kota Pekanbaru, yang selalu jadi langganan kebakaran lahan gambut yang menimbulkan asap pekat.
Berdasarkan data Satgas Karhutla Riau, proses pemadaman kebakaran lahan kini sudah memasuki hari ke - 15 di daerah itu, tepatnya di Jalan Harapan Raya Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.
Udara Tidak Sehat
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan Kota Pekanbaru pada hari Ahad diselimuti asap atau jerebu karhutla pekat. Akibatnya jarak pandang turun tinggal berkisar 3 - 5 kilometer, dan kualitas udara tidak sehat.
"Pantauan terakhir (Ahad sore - red) jam 16.00 WIB (status) masih tidak sehat," kata Staf Analisis BMKG Stasiun Pekanbaru, Nia Fadhila kepada Antara.
Ia mengatakan satelit pada Ahad sore mendeteksi ada 17 titik panas (hostpot) di Riau yang jadi indikasi awal Karhutla. Jumlah itu turun dibandingkan sehari sebelumnya yang terdeteksi 272 titik panas. Meski begitu, asap masih pekat walau titik panas menurun.
"Partikel asap di udara tidak sepenuhnya hilang, asap sisa (kebakaran) kemarin karena partikel akan hilang terbawa angin atau adanya hujan. Sedangkan hujan belum merata di Riau," katanya.
Dari 17 titik panas yang terdeteksi di Riau, paling banyak di Kabupaten Pelalawan ada 9 titik. Kemudian di Indragiri Hilir ada 7 titik, dan Indragiri Hulu satu titik panas. Dari jumlah tersebut ada 10 yang dipastikan titik api, dan berada di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir masing - masing ada 5 titik.*