DATARIAU.COM - Black box atau kotak hitam kerap kali menjadi barang penting yang dicari setelah kecelakaan pesawat, tak terkecuali kecelakaan pesawat Lion Air JT610 yang jatuh di Tanjung Karawang pada 29 Oktober 2018.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono mengatakan alasan di balik jatuhnya pesawat baru diketahui setelah black box pesawat tersebut ditemukan.
Beberapa fakta yang perlu Anda ketahui tentang benda tersebut, seperti dilansir dari berbagai sumber, Selasa (30/10/2018).
1. Nama Aslinya Bukan Black Box
Nama asli dari Black Box adalah Flight Data Recorder (FDR), di mana benda tersebut menyimpan catatan penerbangan. Catatan tersebut termasuk mesin knalpot, suhu, aliran bahan bakar, kecepatan pesawat, ketinggian dan laju penurunan secara elektronik.
Beberapa data tersebut sangat penting untuk memfasilitasi penyelidikan setelah kecelakaan Lebih lanjut, kini bentuknya pun sudah tidak kotak melainkan silinder.
Black box biasanya ada dua, disamping FDR ada juga Cockpit Voice Recorder (CVR). CVR adalah perekam penerbangan yang digunakan untuk merekam lingkungan audio di kokpit.
Dengan cara ini, misalnya komunikasi dengan kontrol lalu lintas udara tersedia untuk penyelidikan setelah kecelakaan. Kadang-kadang, dua silinder (FDR dan CVR) digabungkan, menjadikannya satu kotak setelah semua.
2. Warnanya Tidak Hitam
Warna asli Black Box bukan hitam melainkan oranye terang yang dibuat dari bahan tahan api. Hingga saat ini, belum diketahui apa yang menyebabkan alat perekam tersebut disebut black box.
Menurut beberapa teori, ada kemungkinan kotak sering hangus setelah kecelakaan, atau karena nama umum dalam sains untuk perangkat dengan data masuk dan keluar dengan kompleks kerja internal.
3. Berada di Ekor Pesawat
Data dan suara-suara dicatat dari kokpit, perekam tidak ditempatkan di dalam kokpit. Biasanya mereka ditempatkan di ujung ekor pesawat, di mana struktur pesawat melindungi black box dengan baik jika terjadi kecelakaan.
4. Sulit ditemukan setelah kecelakaan
Kotak hitam memiliki suar pencari yang diaktifkan dalam kontak dengan air. Ini akan mulai mengirimkan pulsa selama tiga puluh hari. Di darat, pihak pencari hanya memiliki warna oranye sebagai suar visual, yang sering membuat pendeteksian jauh lebih sulit. Beberapa kotak hitam tidak pernah ditemukan.
5. Hanya 2 jam percakapan kokpit disimpan
Black box mampu menyimpan data penerbangan hingga 25 jam, namun hanya 2 jam rekaman suara kokpit. CVR melacak interaksi kru dengan satu sama lain dan kontrol lalu lintas udara, tetapi juga kebisingan latar belakang yang dapat memberikan petunjuk penting bagi penyelidik.
Versi rekaman magnetik sebelumnya hanya bisa merekam 30 menit percakapan kokpit dan kebisingan, yang juga direkam dalam satu lingkaran.
6. Sulit Dihancurkan
FDR biasanya dibungkus ganda dalam titanium atau baja tahan karat, dan mampu bertahan di kondisi ekstrem. Peneliti bahkan pernah mencoba menghancurkannya dalam api 1.100 derajat Celcius, menenggelamkannya ke dalam tangki air garam bertekanan, dan mencelupkannya ke dalam bahan bakar jet.
7. Tidak Secanggih Smartphone
Setelah kejadian MH370, para ahli mengungkapkan jika sudah waktunya untuk memperbarui metode pengumpulan data penerbangan. Hal ini lantaran black box tidak mampu berkomunikasi secara real time layaknya smartphone yang memiliki internet dan GPS.
Kekurangan tersebut, karena bandwidth yang diperlukan untuk mengalirkan data dalam jumlah besar dari pesawat besar saat ini tidak dapat dilakukan.