Atas pertanyaan tersebut, wali kota menjawab setiap ada permohonan izin konser musik di Banda Aceh, pihaknya senantiasa meminta rekomendasi dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan pihak keamanan. “Jika sudah ada rekom dari keduanya tidak masalah, terutama rekomendasi dari ulama yang menjadi pertimbangan kami.”
Ia menambahkan, beberapa waktu yang lalu pihaknya juga telah membahas hal tersebut dengan para ulama dan pihak terkait lainnya. “Kesimpulannya kami sepakat untuk melakukan studi banding bersama ulama kita ke Arab Saudi atau negara islam lainnya untuk mempelajari bagaimana pengaturan soal konser musik dan bioskop di sana.”
“Sebagai perbandingan, baru-baru ini saya membaca berita di Arab Saudi baru digelar festival jazz. Nah, dari hasil studi banding nanti baru kita putuskan bersama ulama, dan kita akan sesuiakan dengan penerapan Syariat Islam dan adat istiadat serta budaya kita di sini.”
Pada kesempatan itu Aminullah juga menyatakan komitmennya untuk menjadikan Banda Aceh sebagai barometer pembangunan di Aceh dalam segala bidang termasuk agama. “Agama merupakan satu dari tiga pilar pembangunan Banda Aceh saat ini di samping ekonomi dan pendidikan.”
“Untuk itu, peran ulama sangat kita butuhkan dalam penegakan Syariat Islam hingga pada saatnya nanti dapat kita wujudkannya secara kaffah. Saya dan Pak Zainal berkomitmen, ulama harus berada di garda depan dalam pembangunan kota di bidang agama.”
“Dan salah satu misi konkrit dan sudah mulai berjalan adalah mewujudkan Banda Aceh sebagai kota zikir. Upaya ke arah tersebut sudah kita mulai dari tempat ini dengan membentuk Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang. Lokasi zikir yang representatif dan bertaraf internasional juga tengah kita perjuangkan di Banda Aceh,” ungkap wali kota.
“Dalam bidang-bidang lainnya kami juga membutuhkan bimbingan dan arahan dari para ulama, contonya pada sektor pariwisata bagaimana kita mengembangkan wisata islami dan wisata halal. Dan pastinya juga dengan dukungan penuh dari masyarakat, visi Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariah akan dapat kita wujudkan bersama.”
Wakil Wali Kota Zainal Arifin turut menambahkan, Pemko Banda Aceh sangat komit dalam penegakan Syariat Islam. “Tidak ada tawar-menawar soal Syariat Islam. Penegakannya tidak akan kita kendurkan sedikitpun. Kami juga selalu menggandeng para ulama dalam membangun kota ini.”
“Soal bioskop, konser musik, dan hal-hal lainnya kami akan selalu bersandar pada keputusan ulama. Termasuk soal rencana pendirian Rumah Sakit Siloam. Insyaallah Pemko Banda Aceh tidak akan memberi izin jika tidak mudaratnya lebih besar dari pada manfaatnya bagi masyarakat,” tegasnya.
“Jika ada masukan, saran dan kritik, warga juga dapat langsung menyampaikannya kepada ulama, karena tidak ada hijab antara kami dengan ulama,” ungkap pria yang akrab disapa Cek Zainal ini.
Sementara itu, Tgk Syukri Daod Pango menyebutkan sejatinya umara atau pemerintah memang harus dekat dengan ulama agar dapat mencapai kegemilangan. Sejarah telah mencatat kejayaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dapst digapai karena sang sultan dekat dengan para ulama.
“Tugas awal ulama membimbing masyarakat menuju keimanan yang kamil dan ketakwaan kepada Allah SWT sehingga terbentuk masyarakat yang berkarakter islami. Untuk mencapai kegemilangan tidak ada jalan lain selain iman dan takwa. Iman yang dimaksud adalah iman yang kamil, bukan iman yang cuma sekedar percaya.”
Salah satu cara untuk meningkatkan keimanan, sambungnya, adalah dengan memperbanyak zikir. “Menuju tingkatan imam hakikat dari imam awam sama seperti perjalanan jauh yang membutuhkan kendaraan dan pilot yang tepat. Untuk itu kami sangat mengapresiasi dan mendukung langkah-langkah Pak Wali dalam mewujudkan Banda Aceh sebagai kota zikir.”
“Dan hal itu sudah dimulai dari pendopo wali kota ini dengan menggelar zikir rutin setiap minggunya. Ulama dan umara bersatu, Insyaallah Banda Aceh akan terwujud menjadi kota yang gemilang dalam bingkai syariah,” pungkasnya.
-
Aceh
-
Berita
-
Aceh
-
Aceh
-
Aceh
-
Aceh