DATARIAU.COM - Tagar #KaburAjaDulu belakangan menjadi perbincangan hangat di berbagai lini media sosial. Tagar ini bukan sekadar ekspresi iseng atau tren musiman, tetapi mencerminkan kekecewaan mendalam generasi muda terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang dinilai kian jauh dari nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan.
Fenomena ini diteliti secara mendalam oleh empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau, Febrioni, Frima Jeni, Nanda Mahmuda, dan Thoibatul Syamsinar. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, mereka mengkaji tagar ini sebagai bentuk respon sosial kolektif yang sarat makna, bukan sekadar pelarian atau bentuk apatisme generasi muda.
Tagar Viral yang Sarat Makna
Penelitian menunjukkan bahwa kemunculan tagar #KaburAjaDulu merupakan reaksi terhadap berbagai kondisi yang menimbulkan frustrasi, seperti:
- Ketimpangan ekonomi yang semakin melebar
- Arah kebijakan negara yang tidak responsif terhadap kebutuhan generasi muda
- Minimnya ruang aspirasi dan partisipasi politik
- Lemahnya penegakan hukum dan dominasi elite politik dalam pengambilan kebijakan
Menurut Febrioni dan tim, tagar ini mencerminkan semacam “alarm sosial” atas krisis kepercayaan yang kian dalam terhadap negara dan para pemimpinnya. “Ini bukan tanda apatisme,” ujar Frima Jeni. “Ini adalah jeritan dari anak muda yang mulai kehilangan harapan akan masa depan di negeri sendiri.”
Ketimpangan Ekonomi Jadi Pemicu Utama
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa Rasio Gini Indonesia pada Maret 2023 berada di angka 0,388, meningkat dari tahun sebelumnya. Bahkan di wilayah perkotaan, angka ketimpangan ini menyentuh 0,409. Kondisi ini semakin diperparah dengan dominasi 1% orang terkaya yang menguasai hampir 50% kekayaan nasional.
Menurut teori Karl Marx dan Max Weber yang digunakan dalam analisis, ketimpangan ini bukan hanya tentang uang, tetapi juga kekuasaan, status sosial, dan akses terhadap kesempatan hidup layak. Generasi muda dari latar belakang ekonomi lemah menghadapi tantangan besar dalam memperoleh pendidikan berkualitas, pekerjaan, dan rumah tinggal yang layak.
“Tagar #KaburAjaDulu lahir dari ketidakberdayaan menghadapi kenyataan yang tidak berpihak pada mereka,” ujar Nanda Mahmuda.
Kebijakan Tak Menyentuh Akar Masalah
Penelitian ini juga menyoroti disorientasi kebijakan publik yang hanya fokus pada program jangka pendek tanpa memperhatikan keberlanjutan. Salah satunya, kebijakan distribusi makanan bergizi yang dinilai simbolik, serta keterlambatan dalam pengangkatan ASN yang membuat peluang kerja kian sempit.
Di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan, lulusan muda terutama dari SMK mendominasi angka pengangguran. Kurikulum yang tidak responsif terhadap kebutuhan industri, serta kurangnya pelatihan vokasi, memperparah kondisi ini. Sementara itu, kenaikan biaya hidup dan harga properti membuat impian anak muda untuk memiliki rumah kian jauh dari kenyataan.
Media Sosial: Cermin Frustrasi, Ruang Perlawanan Diam
Platform seperti TikTok dan X (Twitter) menjadi ruang pelampiasan emosional dan kritik konstruktif. Unggahan dengan tagar #KaburAjaDulu menggambarkan berbagai bentuk ekspresi, mulai dari keluh kesah, humor, kritik tajam, hingga motivasi untuk bekerja dan belajar di luar negeri.
Penelitian menyebutkan bahwa tren ini memiliki kemiripan dengan gejala brain drain, yaitu migrasi tenaga terampil ke luar negeri. Bukan karena benci Indonesia, tapi karena merasa bahwa potensi mereka tidak bisa berkembang di sistem yang ada. “Generasi muda tidak kehilangan cinta tanah air, mereka hanya kehilangan keyakinan bahwa negara ini bisa berubah,” tegas Thoibatul Syamsinar.
Krisis Nasionalisme atau Harapan Baru?
Meski ada kekhawatiran bahwa tren ini bisa melemahkan semangat nasionalisme, penelitian justru melihat sisi sebaliknya. Dalam teori nasionalisme Hobsbawm, cinta tanah air tidak hanya diwujudkan dalam bentuk fisik atau simbolik, tetapi juga melalui kontribusi nyata, termasuk kritik dan desakan perubahan. Dalam konteks ini, tagar #KaburAjaDulu dapat dilihat sebagai ajakan untuk refleksi kolektif.
“Generasi muda sedang menuntut ruang. Mereka ingin terlibat, ingin didengar, dan ingin membangun bangsa dengan cara yang mereka pahami,” tulis para peneliti.
Rekomendasi: Waktunya Berubah, Bukan Menyalahkan
Penelitian ini menutup dengan tujuh rekomendasi strategis sebagai solusi jangka panjang atas fenomena #KaburAjaDulu:
1. Reformasi sistemik berbasis keadilan sosial, bukan hanya tambal sulam teknokratis.
2. Pengelolaan sumber daya untuk rakyat, bukan untuk elite dan investor asing.
3. Partisipasi aktif dan transparansi dalam tata kelola pemerintahan.
4. Peningkatan literasi digital, agar generasi muda tidak hanya mengeluh, tapi kritis dan solutif.
5. Pengurangan ketimpangan sosial dan ekonomi, dengan prioritas pendidikan dan lapangan kerja.
6. Penyediaan ruang dialog yang setara dan inklusif antara pemerintah dan rakyat.
7. Penyisipan nilai-nilai moral dan spiritual dalam penyelenggaraan negara.
Penutup: Jangan Anggap Remeh Tagar Ini
Tagar #KaburAjaDulu bukan sekadar viral. Ia adalah cermin dari rasa kehilangan arah dan ketidakpercayaan terhadap sistem yang ada. Bila tidak segera ditanggapi secara serius, Indonesia berisiko kehilangan salah satu aset terpentingnya: generasi muda yang idealis, kritis, dan berpotensi membangun bangsa.
“Negara harus hadir, bukan sebagai fasilitator kepentingan elite, tetapi sebagai penjaga amanah rakyat,” tutup tim peneliti dari Universitas Riau.***
Daftar Referensi
Abelia, N. et al. (2025). Dampak Framing Tagar #KaburAjaDulu terhadap Opini Publik dan Kebijakan Sosial di Indonesia. Universitas Lampung.
Irhamdhika, G. et al. (2025). Krisis Kepercayaan Publik: Fenomena #KaburAjaDulu dan Peran Humas Pemerintah dalam Merespons Cancel Culture. UBSI.
Ryazinharwa, H. et al. (2025). Analisis Isi Berita #KaburAjaDulu di Media Online CNBC Indonesia. Jurnal Triwikrama.
Salsa, M. A. et al. (2025). Eksplorasi Dinamika Sosial melalui Analisis Sentimen Tagar #KaburAjaDulu di TikTok. UIN Sumut.
Silaban, P. S. M. J. et al. (2025). Menghadapi Ancaman Nasionalisme dan Disintegrasi Bangsa di Tengah Tren Kabur Aja Dulu. Universitas Negeri Medan.
Siregar, D. A. et al. (2025). Pengaruh Tren #KaburAjaDulu terhadap Sikap Nasionalisme pada Masyarakat. Universitas Negeri Medan.
Tampubolon, S. L. et al. (2025). #KaburAjaDulu sebagai Bentuk Kekecewaan Anak Muda terhadap Minimnya Peluang Kerja dan Mahalnya Pendidikan. Universitas Negeri Medan.
BPS - Rasio Gini 2023-2024
Kompas - Potret Ketimpangan Indonesia
Indonesia.go.id - Ketimpangan Sosial
Goodstats - Pengangguran RI Agustus 2024.