DATARIAU.COM - Semua orang pasti tahu senja. Waktunya dimana matahari yang bekerja akan istirahat untuk sementara. Istirahat di dekatmu, namun tidak di tempat yang lainnya. Semua orang tahu tentangnya tapi tidak semua orang suka akannya.
Aku Niza salah seorang bergolongan positif akan senja, dengan kata lain penyuka senja. Senja bagiku adalah dimana panas matahari akan tiada, terang bumi akan meredup dan bulan akan muncul ke permukaan langit.
Malam, dimana aktifitas tanpa panas dan cuaca yang terik. Namun aku akan mulai bercerita tentang perjalanan ku menuju suatu tempat yang dimana senja akan lebih indah dinikmati dari sana.
Dimulai dari suatu masalah yang terjadi mengharuskan aku dan keluarga harus pergi ke salah satu daerah baratnya pulau Sumatera yaitu Pariaman. Pariaman merupakan kota dimana kau masih akan menemukan budaya dan tradisi yang menarik. Yang mungkin tak'kan kutemui di kota tempat ku tinggal sekarang.
Masyarakat di sana masih sangat kental akan budaya, tradisi, adat istiadat yang mereka sendiri masih sangat menghargai dan melestarikan semua hal yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka terdahulu.
Orangtuaku yang memang berasal dari Periaman juga masih sangat memegang erat tradisi dan budaya mereka tersebut. Sampai-sampai mereka masih menerapkannya di kehidupan rantau mereka.
Jarak Pekanbaru-Pariaman kira-kira 282 km. Jika dengan lalu lintas yang lancar tanpa hambatan dan tanpa berhenti mungkin diperkirakan 6-7 jam waktu perjalanannya. Namun yang namanya liburan keluarga ya mana mungkin nggak ada berhentinya, apalagi berhenti untuk urusan perut. Belum lagi kalau nampak tempat bagus buat spot photo. Pasti bakalan berhenti.
Namun perjalan kemaren ada suatu tragedi gitu, dimana tangki penyimpanan minyak mobil yang kami bawa mengalami kebocoran. Hal itu baru kami tahu pada saat ayah mengisi minyak. Jadi karena ini baru kali pertama terjadi sehingga membuat kami semua panik. Takutnya minyak yang keluar terus menerus dari tengki yang bocor bisa mengakibatkan kebakaran. Padahal kami masih jauh dari Pariaman. Tepatnya di daerah Rimbo Data. Tapi kami yakin buat lanjutin perjalan.
Nggak cuma sampai di situ tragedi yang terjadi. Nggak jauh dari sana tepatnya di daerah Pangkalan terjadi kemacetan panjang yang mengakibatkan kami harus terjebak lama di dalam kemacetan tersebut. Ternyata akibat dari kemacetan itu ialah banyaknya masyarakat dan pengendara yang berhenti untuk melihat penyelamatan orang hanyut yang dilakukan pihak Timsar dan Kepolosian. Dengar-dengar yang hanyut ada dua orang. Kenapa cuma dengar-dengar, karena aku kan cuma lewat, jadi kebetulan ada yang lagi nanya sama masyarakat sana apa yang terjadi, ya aku dengar sikit-sikit.
Setelah melewati tempat kejadian itu, Alhamdulillah tidak ada lagi kemacetan atau hal aneh lainnya yang terjadi. Jadi perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Akhirnya kami sampai di Pariaman pukul 23.00 WIB. Padahal kami berangkat pukul 14.00 WIB. Kira-kira 9 jam perjalan yang kami tempuh untuk bisa sampai ke kampung halaman tercinta.
Walaupun Pariaman sudah maju, tapi kampung aku masih bisa dibilang tertinggal. Karena jaringan dan akses jalannya masih terbilang sulit. Nelfon aja kadang sering kehilangan singnal, apalagi buat internetan lebih sulit lagi. Kalau mau menggunakan internet kami harus duduk di teras luar dan itupun punya tempat yang strategis tidak di semua bagian teras itu akan kita dapati singnal bila kita tempati.
Namun walaupun begitu, balek kampung halaman memberi kebahagian tersendiri buat kami dan khususnya buat aku. Karena di kampung sendiri masih jauh dari keramaian, udara yang sejuk, hutan yang masih lebat dan sungai yang mengalir di belakang rumah. Itu hal yang tidak akan pernah didapati di kota tempat keluarga aku merantau saat ini. Kalian tahu sendirilah bagaimana Pekanbaru. Jauh dari kata tenang, hijau dan sejuk.
Kalau ke kampung aku, keluarga nggak akan pernah absen untuk mengunjungi objek wisata di sana. Salah satunya yaitu pantai. Pantai di Pariaman sangat banyak, ada pantai kata, pantai cermin, pantai gondoria dan lainnya. Pantai ini memiliki tempat yang hanya berjarak kira-kira 1-2 km saja. Jadi, kalau kita sudah berkunjung ke suatu pantai maka kita bisa menelusuri semua pantai lainnya. Karena jarak yang bisa terbilang dekat.
Liburan ini banyak hal baru di setiap pantai yang ada di Pariaman. Mulai dari taman yang diperbaharui, pembuatan tugu dan termasuk ada jembatan yang hampir mirip dermaga. Hal ini dilakukan pemerintah daerah Pariaman guna menarik wisatawan untuk hadir menikmati fasilitas yang disediakan di daerah Pariaman.
Membicarakan tentang dermaga yang ada di pinggir pantai tersebut, mengingatkan aku akan hal yang indah yang sulit untuk dilupakan. Karena pada saat itu bertempatan saat senja yang mulai datang yang diantar oleh deburan ombak yang tiada henti singgah ke bibir pantai dan kembali lagi. Menikmati senja sambil melihat matahari terbenam memang merupakan keindahan yang tak bisa aku nikmati di kota tempat keluargaku merantau. Hanya di kampung halaman lah aku bisa menikmati hal yang seindah itu. Dermaga yang dibuat di bibir pantai menjadi fasilitas yang sangat membantu bagi ku untuk menikmati keindahan itu.
Sunset dan senja entah kapan aku mulai menyukainya. Namun, warnanya yang jingga, dan terkadang orange membuat ku tenang menatapnya. Senja memberiku ketenangan tersendiri saat aku memandanginya. Mungkin senja sangat cocok dengan pepatah yang mengatakan bahwa semua yang indah tidak harus dimiliki, cukup dirasakan dan dinikmati. Seakan senja yang akan pergi mampu membawa semua masalah dan beban dalam hati dan pikiran ku ikut bersamanya. Karena senja yang sementara akan berganti dengan malam yang panjang.
Pada saat itulah aku tersadar bahwa keindahan takan ada yang abadi. Terkadang keindahan itu hanya memberikan kita waktu untuk beristirahat sementara dari segala yang membabani dalam hidup kita. Keindahan senja telah pergi, namun aku masih duduk di dermaga yang sama. Sedangkan keluargaku yang lainnya masih duduk di tempat makan kami sebelumnya. Mereka memang tahu aku adalah pecandu senja dan hobi melihat sunset jika ke pantai. Makanya kalau diajak pagi atau siang pantai aku lebih memilih tidak ikut, tapi mereka biasanya tidak pernah jadi pergi jika ada anaknya yang tidak ikut. Hal seperti ini yang membuat ku kadang damai berada dalam keluarga ini.
Membicarakan tentang keluarga, aku merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Aku mempunyai kakak perempuan, dan dua orang adik laki-laki. Orangtua ku sangat keras mendidik kami. Mereka selalu mengajarkan kemandirian dalam hal apapun. Terutama ayah, sosok laki-laki yang mungkin dikatakan tidak terlalu baik, namun dia bisa jadi panutan yang baik buat keluarganya. Pandai menempatkan diri dimana dia berada. Mamak juga sama, namun wanita satu ini terkadang membuat aku capek akan ocehannya. Namun, semakin lama aku mengerti, hal yang diakatakan itu semuanya benar dan itu semua demi kebaikan.
Lanjut rute selanjutkan, perjalanan setelah malam itu pastinya kembali ke rumah. Desa kecil yang ada di Pariaman itu, jarak pantai dengan desa dimana aku tinggal hanyalah 15- 20 menit perjalanan. Bisa dibilang tidak terlalu jauh lah. Memasuki desa kecil yang hanya ada sawah dan banyak pohon kelapa itu akan membuat telinga jauh dari kata keributan, karena yang terdengar hanyalah suara jangkrik yang mulai paduan suara.
Desa Padang Sago namanya, berbicara tentang nama desa ini ceritanya dulu sebelum jadi desa, di sini banyak tanaman sago yang tumbuh. Maka dari itu dinamakan padang sago. Simple kan asal muasalnya. Namun pemikiran masyarakatnya tidak sesimple asal muasal nama desa ini. Karena ya itu, namanya juga orang pedalaman yang masih jauh dari kata modren jadi pemikirannya pun jugak masih sulit dibaca dan dimengerti.
Aku salah satu orang yang paling sering berkomentar akan pemikiran mereka yang sangat sulit diterima di akal sehatku. Mulai dari masalah tidak boleh kawin sesuku, tidak boleh kawin sasurau dan banyak yang lainnya. Apalagi pantangan yang sering dibawa oleh mamak ke daerah rantauan adalah tidak boleh menyapu malam hari ke arah luar rumah. Boleh nyapu tapi jangan dibuang ke luar rumah sampahnya. Yang katanya jika dilakukakn maka itu sama saja kayak buang rezeki. Jadi yang aku pikirkan apa hubungannya sampah sama rezeki kita. Cuma Mamak masih percaya sama yang kayak gitu-gitu, karena memang di kampung aku tidak ada orang yang buang sampah pada malam hari.
Liburan ini kami hanya memakan waktu 2 minggu saja. Karena kami harus kembali ke kota perantauan kembali. Meninggalkan kampung sama dengan meninggalkan hutan, sungai, sawah, pantai dan hal indah lainnya. Namun apa boleh buat, mau nggak mau harus pergi kembali ke kota perantauan. Karena sumber mata pencarian dan hal penting lainnya yang harus dilakukakan seperti biasa. Begitulah kehidupan kebanyakan orang Minang, pulang kampung hal yang diinginkan dan balek rantau hal yang memberatkan. Selamat tinggal kedamaian dan keindahan yang tak akan aku dapatkan di kota tempat ku tinggal. (niz)