JAKARTA, datariau.com - Setiap orang hidup tentu memiliki masalah masing-masing. Kadar masalah yang harus dihadapi pun beraneka ragam. Tawakal, menjadi salah satu cara menjalani hidup. Berserah diri kepada Sang Pencipta, menjadi pilihan terbaik setelah berusaha.
Tawakal itu pula yang menjadi pilihan penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Tawakal membuat Novel tidak memiliki sedikitpun rasa takut, selama yang dilakukan adalah hal benar.
Kini, saat penyiraman air keras yang mengakibatkan kedua matanya rusak menjadi salah satu cobaan besar dalam hidup, Novel tetap tawakal. Meski matanya nyaris buta karena disiram air keras, Novel tetap menerima dengan tegar.
“Apa yang perlu ditakutkan?” kata Novel saat berbincang dengan wartawan kumparan (kumparan.com), M Rizki dan Ikhwanul Khabibi di Singapura, Ahad (30/7/2017).
Mata yang rusak parah tidak membuat Novel absen pergi ke masjid. Meski penglihatannya sangat terbatas, langkah kaki Novel selalu begitu lincah saat membawa tubuhnya menuju masjid untuk salat berjemaah. Seperti hari itu, saat kami sengaja datang untuk bertemu Novel.
Masjid menjadi tempat pertemuan kami. Novel memang kini tinggal di sebuah tempat yang dirahasiakan di pusat kota Singapura. Meskipun tempat tinggalnya dirahasiakan, Novel tetap dengan tenang berjalan kaki ke masjid 5 kali sehari. Penyidik senior KPK itu tidak pernah absen shalat berjemaah. Ketawakalannya telah mengalahkan keterbatasan kemampuannya untuk melihat.
“Saya masih bisa melihat walau sangat terbatas dan seperti berkabut. Kalau ke masjid ya saya masih tahu jalannya. Kalau Subuh atau Isya saya masih bisa melihat cahaya lampu menuju masjid,” kata Novel dengan penuh ketenangan.
Kami menyaksikan sendiri bagaimana Novel begitu khusyuk beribadah setiap harinya. Kami shalat berjemaah dengan Novel. Dan sebelum shalat wajib dilaksanakan, Novel menjalankan shalat sunah, bahkan hingga tiga kali.
Bagaimanapun juga, Novel kini adalah target bersama para koruptor yang tidak suka kepadanya. Bukan tidak mungkin aksi teror akan kembali terjadi saat Novel berjalan menuju masjid, apalagi saat suasana masih sepi. Bisa saja aksi penyerangan akan terulang. Namun lagi-lagi, Novel menunjukkan ketawakalannya. Dia sama sekali tidak khawatir akan adanya kemungkinan serangan susulan yang diarahkan kepadanya.
“Kenapa harus takut? Saya kemarin pas jalan mau shalat Subuh melihat ada pertikaian di depan situ. Tapi tetap saja tidak ada yang perlu ditakutkan bukan?” kata dia, tegas.
Ketawakalan ini pula yang membuat Novel ingin cepat sembuh dan kembali ke KPK. Novel ingin segera kembali mengabdi untuk memberantas korupsi. Namun, hal itu nampaknya masih membutuhkan waktu lama. Kondisi mata Novel yang nyaris buta menjadi alasan utama.
Meski sudah berakali-kali mendapat teror, Novel tidak takut. Dia tetap ingin segera kembali ke KPK untuk ikut berperan memberantas korupsi. Perkara hidup dan mati, biar Allah Subahanahu wa Ta'ala yang mengurus.