DATARIAU.COM - Tidak banyak yang tahu bahwa pohon kelapa sawit tidak hanya menghasilkan buah yang kemudian di olah menjadi minyak goreng saja. Namun ternyata pohon kelapa sawit yang sudah tidak produktif lagi juga bisa diolah menjadi gula merah yang rasanya sama seperti gula aren pada umumnya.
Usaha ini sangat menjanjikan untuk meningkatan perekonomian masyarakat, seperti halnya yang dilakukan oleh salah satu masyarakat Desa Bagan Sapta Permai, Bagan Batu, Bagan Sinembah. Harga jual dari rumah produksi gula merah ini Rp15.000/kg.
kelapa sawit yang sudah cukup usianya dan tidak produktif lagi maka harus perlu ditumbang, melihat potensi sawit yang sudah ditumbang ini bisa dimanfaatkan untuk pendapatan atau penambahan penghasilan bagi masyarakat. Sekarang ini dilihat bahwa prospek gula merah ini sangat menjanjikan karena rata-rata pendapatan dan penjualan sangat banyak diminati oleh konsumen baik di Desa Bagan Sapta Permai ataupun di sekitarnya.
Di Desa Sapta Permai sendiri hampir seluruhnya dikelilingi perkebunan kelapa sawit, melihat potensi ini seorang warga di Desa Sapta Permai yaitu Haris memulai inovasinya untuk memanfaatkan pohon kelapa sawit yang sudah tidak produktif lagi dengan cara membuat gula merah menggunakan nira sawit tersebut. Pembuatan gula merah dari nira kelapa sawit tak jauh beda dari pembuatan gula merah pada umumnya.
Nira sawit diperoleh dari pucuk pohon kelapa sawit yang telah di tumbang (tidak produktif lagi) dan kemudiaan pucuknya tersebut dikuliti hingga tampak berwarna putih. Setelah dikuliti pucuk kelapa sawit tadi di tunggu selama 3 hari untuk mendapatkan kualitas nira yang bagus. Setelah 3 hari, pucuk kelapa sawit di sadap lagi sampai mengeluarkan tetesan air nira dan tak lupa juga di beri obat pada ember penampung yang bertujuan agar air sadapan kelapa sawit tidak mudah basi. Obat tersebut terdiri dari rebusan batang pohon nangka dan juga kapur sirih. kemudian nira sawit yang terkumpul tadi akan dimasak, proses pemasakan menggunakan api yang cukup besar untuk menghilangkan kadar air pada nira tersebut yang membutuhkan waktu hampir 5 jam.
Setelah kadar air hilang, kemudian di tambahkan gula putih sebagai pengeras pada didihan nira tersebut dan aduk perlahan hingga masak dan mengental. Kemudian di dinginkan beberapa menit, lalu cetak menggunakan cetakan yang terbuat dari pohon bambu dengan ukuran yang diinginkan. Setelah di cetak diamkan selama 5-10 menit hingga gula mengeras dan setelah mengeras bisa langsung di lepas dari cetakan dan gula siap untuk dipasarkan.
Tingkat kegagalan pada produksi sangatlah kecil atau bahkan tidak ada karena jika gagal produksi bisa diolah kembali menjadi gula yang lebih bagus. Usaha ini bahkan mendapatkan apresiasi dari Penghulu Desa Sapta Permai H Sutejo SPd.
"Usaha ini merupakan sebuah inovasi yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat desa khususnya kepada keluarga-keluarga yang menengah kebawah, dan saya harap usaha ini dapat lebih maju lagi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di desa ini," katanya. (rls)