PEKANBARU, datariau.com - Belum lagi kasus teror molotov di rumah Anggota DPRD Riau Suprihati terungkap, teror serupa sudah kembali terjadi. Adalah Nurhasim, warga Tenaya Raya yang kini jadi korban serangan orang tak dikenal.
Jumat (13/10/17) sekitar pukul 05.30 WIB, mobil Toyota Avanza BM 1035 QC yang terpakir di rumahnya, di Jalan Utama, Perumahan Kulim Indah, Kelurahan Rejosari, Tenayan Raya, Pekanbaru menjadi sasaran pelemparan bom botol berisi bensin dengan sumbu tersebut. Meledak dan langsung memicu kebakaran kendaraan pabrikan asal Jepang tersebut.
Beruntung ada dua unit mobil pemadam kebakaran yang cepat datang ke lokasi dan memadamkan kobaran api, sehingga rumah Nurhasim bisa diselamatkan dari kemungkinan lebih buruk.
Waka Polresta AKBP Edy Sumardi membenarkan adanya teror Molotov di Tenayan Raya. Ia megatakan kalau penyidik sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TPK) dan memeriksa sejumlah saksi terkait peristiwa tersebut.
"Hasil olah TKP masih ditelaah. Tadi, penyidik temukan sebuah kotak korek apil di dekat mobil korban yang terbakar," jelas Edy menjawab wartawan, seperti dikutip riauterkini.com.
Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Susanto SIK SH MH mengatakan pihaknya telah mengumpulkan sejumlah barang bukti kediaman Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kota Pekanbaru, Nurhasyim.
Teror yang terjadi di kediaman Nurhasyim di Perumahan Kulim Indah, RT 04/RW 02, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru itu menyebabkan satu unit mobil Toyota Avanza miliknya hangus terbakar yang diduga akibat dilempar bom molotov.

(foto: cakaplah.com)
"Kita telah mengamankan sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi yang bisa mengetahui penyebab terjadinya kebakaran ini. Namun kita juga menunggu tim dari Puslabfor Cabang Medan untuk menggali penyebab mobil ini terbakar apakah dibakar dengan metode dilempar, disiram atau penyebab lainnya," kata Kombes Pol Susanto SIK SH MH saat mendatangi lokasi kejadian, Jumat (13/10/2017) pagi tadi, dikutip cakaplah.com.
Selain mengamankan barang bukti, kepolisian juga menggali keterangan dari saksi-saksi yang mengetahui peristiwa sebelum maupun sesudah kejadian terbakarnya mobil milik Nurhasyim tersebut, termasuk mendalami apakah kejadian ini terkait dengan permasalahan pribadi korban, permasalahan di internal organisasi atau permasalahan dengan lingkungan sekitar.
Kejadian seperti yang dialami Nurhasyim bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya peristiwa serupa juga dialami anggota DPRD Provinsi Riau Supriati dan hingga kini belum terungkap. Ketika ditanya wartawan apa yang menjadi penyebab maraknya teror akhir-akhir ini, Kapolresta tidak membuat kesimpulan. Namun kejadian ini tidak tertutup kemungkinan terjadi akibat menjelang pilkada atau hubungan antar anggota organisasi. "Semuanya hal akan kita dalami," ujarnya.
Terkait perkembangan kasus dugaan pelemparan molotov di kediaman anggota DPRD Riau Supriati, Kapolresta Pekanbaru mengatakan pihaknya terus melakukan pengembangan. Akan tetapi dalam kasus ini polisi belum menentukan siapa yang menjadi tersangkanya.
Usut
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Riau Dapil Kota Pekanbaru, Noviwaldy Jusman meminta kasus teror yang terjadi akhir-akhir ini bisa dituntaskan. Ia mengatakan persoalan teror tersebut merupakan tantangan besar bagi pihak kepolisian untuk mengungkapnya dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.
"Kita minta pada Polda Riau untuk mengusutnya, agar masyarakat bisa tenang dan pejabat bisa melaksanakan tugasnya dengan tenang, bagi pihak-pihak yang tidak senang dengan kebijakannya, ya silahkan tuntut di Pengadilan. Tidak perlu dengan cara-cara teror begini," kata Noviwaldy Jusman.
Untuk itu, politisi Demokrat ini meminta untuk bersama-sama menjaga Kota Pekanbaru dan mendesak pihak kepolisian untuk segera mengusut dan menuntaskan kasus-kasus teror yang meresahkan tersebut.
"Ini tantangan bagi polisi, dan kita menunggu keberadaan polisi, kepiawaian polisi untuk mengungkap ini dan memberikan rasa aman kepada masyarakat," cakapnya lagi.
Lebih lanjut, ia juga meminta agar masyarakat juga turut serta dalam hal penanganan teror dengan cara saling menjaga dan jika melihat ciri-ciri yang mencurigakan agar langsung berkoordinasi dengan pihak kepolisian.