DATARIAU.COM - Mahasiswa Kukerta UNRI mendatangi salah satu pelaku UMKM yang berada di desa Labuhan Tangga Hilir pada 2 Agustus 2024.
Kegiatan ini dilakukan untuk melihat bagaimana proses pengolahan manisan dari kelapa tersebut.
Mahasiswa Kukerta UNRI tidak hanya melihat proses pengolahannya saja, tetapi juga ikut serta dalam beberapa tahapan seperti pengupasan kelapa, pengirisan, perebusan hingga finishing.
Manisan kelapa ini sering kali dijadikan sebagai primadona saat lebaran dan acara penting lainnya, namun juga cocok dijadikan cemilan pencuci mulut sehari-hari.
Namun tentunya mengkonsumsi manisan kelapa ini juga harus dalam batas wajar dikarenakan gula yang digunakan dalam pembuatan manisan ini terbilang cukup banyak.
Menurut ibu Narti selaku produsen, pembuatan manisan ini tidaklah resep warisan turun temurun, namun ide pembuatan manisan ini muncul tiba-tiba karena melihat ada banyak kelapa.
"Sebenarnya dari dulu ibuk memang sering buat manisan, seperti manisan asam kelubi, manisan kedondong dan manisan tomat yang memang biasa dibuat kalo ada pesanan atau mendekati hari raya, kemudian tiba-tiba terpikirkan untuk membuat manisan dari kelapa, kemudian ibuk langsung coba eksekusi bersama suami. Awalnya cuma untuk coba-coba saja dan ternyata cocok juga dilidah, akhirnya ibu coba jual dan alhamdulillah pelanggan pada suka," ujar ibu Narti.
Sebelum memproduksi manisan kelapa, kelapa yang akan digunakan juga harus dipilih agar kelapa yang akan digunakan tidak terlalu muda maupun tua.
Selain kelapa, manisan ini juga diolah dengan beberapa bahan tambahan lainnya seperti air, gula dan sirup.
Pemberian sirup berguna untuk memberikan varian rasa yang beragam. Disini ibu Narti biasanya membuat manisan kelapa dengan varian rasa stroberi, anggur, leci, melon, rose, dan original.
Dengan begitu varian rasa yang dapat dipilih oleh pelanggan bisa bervariasi.
Waktu pengolahan manisan kelapa ini juga tidak terlalu lama, hanya memakan waktu 2-3 jam.
Biasanya ibu Narti mematok harga jual manisan kelapa ini berkisar Rp 90.000,00 - Rp 95.000,00/kg.
Namun produk manisan kelapa ini hanya dapat bertahan sekitar 10 hari setelah produksi karena jika dikonsumsi lebih dari 10 hari, maka akan memunculkan bau langu atau bauk tak sedap dari manisan tersebut.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Kukerta UNRI berharap dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan potensi UMKM manisan kelapa di Desa Labuhan Tangga Hilir, baik dari segi peningkatan kualitas produk maupun perluasan pemasaran.
Karena manisan kelapa yang dibuat oleh Ibu Narti ini tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi sebagai bagian dari pewarisan potensi SDA masyarakat Desa Labuhan Tangga Hilir.***