Mahasiswa Kukerta UNRI Desa Kemuning Tua 2024 Memodifikasi Limbah Organik Menjadi Pupuk Ramah Lingkungan

datariau.com
420 view
Mahasiswa Kukerta UNRI Desa Kemuning Tua 2024 Memodifikasi Limbah Organik Menjadi Pupuk Ramah Lingkungan

DATARIAU.COM - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Riau yang mengabdi di Desa Kemuning Tua, Kecamatan Kemuning,Indragiri Hilir, melaksanakan kegiatan sosialisasi dan praktek pembuatan pupuk ramah lingkungan yang biasa dikenal dengan sebutan Eco-Enzyme yang berlangsung di GOR Badminton Desa Kemuning Tua, Senin (29/7/2024), diikuti masyarakat Desa Kemuning Tua.

Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu program kerja kelompok kuliah kerja nyata di Desa Kemuning Tua yang diketuai oleh Piktor Bangun Halomoan Harahap beserta 9 anggota lainnya dibawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Drs Wahyu Hamidi MSi, memiliki sasaran utama kegiatan yaitu masyarakat Desa Kemuning Tua khususnya yang bermata pencaharian sebagai petani.

Mengingat bahwa sebagian besar mata pencaharian masyarakat di Desa Kemuning Tua sebagai petani, tentunya pupuk merupakan salah satu hal yang krusial.

Merujuk pada data Kementerian Pertanian, bahwa terjadinya kenaikan harga produksi pupuk bersubsidi di tahun 2024 masih sama dengan tahun 2023 yakni Rp2.250/Kg untuk Urea, dan Rp2.300/Kg untuk NPK yang tentunya, hal ini menyebabkan petani merasa “tercekik” dalam pembelian pupuk ini.

Oleh karena itu, dalam menanggapi keresahan petani mengenai pupuk tersebut, mahasiswa kuliah kerja nyata mengajak masyarakat di Desa Kemuning Tua untuk terlibat dalam sosialisasi dan praktek pengenalan pupuk ramah lingkungan yang biasa dikenal dengan sebutan Eco-Enzyme kepada masyarakat di Desa Kemuning Tua.

Antusiasme masyarakat pun terlihat baik dengan adanya sosialisasi dan praktek pengenalan pupuk ramah lingkungan.

Rahadiva sebagai mahasiswi Ilmu Kelautan, ia menyadari betapa pentingnya meminimalkan dampak negatif limbah rumah tangga terhadap lingkungan sekitar dan laut, karena apapun yang terjadi di daratan pasti akan mengalir ke laut.

“Dampak pencemaran laut yang berasal dari limbah organik bisa sangat serius. Melalui eco-enzyme, kita dapat mengurangi limbah yang berakhir di laut sekaligus menghasilkan produk yang ramah lingkungan," katanya.

"Eco-Enzyme sendiri adalah cairan alami yang dihasilkan melalui proses fermentasi limbah organik, seperti sisa buah dan sayuran, dengan gula merah dan air dengan perbandingan 3:1:10 yang biasanya berlangsung selama tiga bulan dan menghasilkan enzim-enzim yang bermanfaat sebagai pupuk,” kata Rahadiva mahasiswi kukerta yang menjadi pemateri pengenalan pupuk ramah lingkungan.

Setelah penjelasan teoritis yang disampaikan oleh Rahadiva, Nelfi mengambil alih sesi praktek.

Sebagai mahasiswi Ilmu Pemerintahan yang memiliki ketertarikan pada kebijakan publik dan pengelolaan lingkungan yang efektif di lingkungan kampus.

Dalam sesi praktek Nelfi dengan cekatan membantu warga untuk membuat eco-enzyme. Ia menunjukan cara mencampur bahan bahan dalam proporsi yang tepat.

Nelfi juga memberikan tips agar eco-enzyme yang dihasilkan berkualitas tinggi dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga.

Nelfi menjelaskan, bahan yang diperlukan dalam pembuatan pupuk ramah lingkungan ini adalah sisa buah dan sayuran, gula merah, air dengan perbandingan 3:1:10, dan wadah penampungan berbahan plastik dan memiliki penutup.

Proses pengolahan sisa buah dan sayur menjadi pupuk adalah dengan cara melelehkan 1 bagian gula merah kemudian mencampurkan nya ke dalam 10 bagian air.

Setelah itu, tambahkan sisa buah dan sayuran yang telah dipotong menjadi bagian-bagian kecil kedalam larutan gula tersebut kemudian diaduk sampai tercampur rata. Selanjutnya, wadah ditutup rapat dan dibiarkan selama 3 bulan. Setelah 3 bulan, pupuk siap digunakan.

“Kami selaku warga, sangat antusias dengan adanya sosialisasi dan praktek pengenalan pupuk ramah lingkungan ini karena selain menambah wawasan, kami juga dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menghemat pengeluaran dalam pembelian pupuk karena harga pupuk yang melambung tinggi,” kata Pak Suardi, selaku Kepala Desa Kemuning Tua.

Mahasiswa berharap dengan adanya sosialisasi dan praktek ini, masyarakat di Desa Kemuning Tua dapat memanfaatkan sisa buah dan sayuran dan mengubahnya menjadi pupuk ramah lingkungan ini agar lingkungan tetap terjaga kebersihannya serta meminimalisir biaya dalam pembelian pupuk. ***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)