PEKANBARU, datariau.com - Ustadz Abuz Zubair Hawaary menjelaskan tentang haji mabrul. Persoalan ini dikupas melalui tabligh akbar dengan tema Mendulang Faedah Sepulang Haji.
Tabligh akbar yang dihadiri ratusan jamaah ini dilaksanakan di Masjid Paripurna Nurussalam Jalan Taman Sari Tangkerang Selatan Kota Pekanbaru, Ahad (2/10/2016).
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda bahwa tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga. Dimana, seorang yang berhaji, kemudian melakukan ketaatan, tidak berbuat maksiat setelah berhaji, maka dia pulang seperti baru dilahirkan oleh ibunya.
Maka seorang yang haji mabrur tidak berharap mendapat gelar H di awal namanya, tidak berharap agar dipanggil pak haji atau bu hajah, tidak ria agar kehajiannya diketahui sebanyak-banyaknya orang, namun berharap pahala serta keikhlasan hanya mendapat ridha dari Allah Subahanahu wa Ta'ala.
Seorang yang berhaji, pulang ke keluarganya di tanah air dengan pikiran yang jernih, akal yang lurus, perilaku yang baik, hatinya bersih, tidak berdusta, tidak ghiba. "Jika dia pulang seperti itu maka sepatutnya dia menyandang gelar haji mabrur," sebut Ustadz Abuz Zubair dalam materi kajiannya.
Disebutkan, bahwa tujuan puncak ibadah haji adalah taqwa. Karena berapa banyak ayat dalam Al Qur'an Allah Subahanahu wa Ta'ala menggandengkan haji dengan ketaqwaan. Kemudian puncak dari ketaqwaan yang perlu dimiliki adalah keikhlasan.
"Seorang haji mabrur hanya berharap pahala, apa peduli dengan tulisan H fulan di namamu. Yang dipedulikan engkau mendapatkan surga," sebutnya.
Hampir satu bulan lamanya seorang yang berhaji ditempa di Tanah Suci, di bawah naungan ka'bah. Terbiasa shalat berjamaah di masjid, melaksanakan ibadah lainnya, membaca Al Qur'an, rajin shalat sunnah dan tahajud, merasakan bagaimana berkumpul dengan jutaan manusia lainnya di padang arafah hanya mengenakkan dua helai kain putih tanpa berjahit, tidak ada tampak perbedaan orang kaya dan miskin di sana semua sama.
Semua orang berdoa dengan berharap ampunan kepada Allah, kondisi ini menggambarkan bagaimana saat manusia nantinya dikumpulkan di padang mahsyar. Merintih mohon ampun, karena tidak ada lagi naungan kecuali naungan Allah ta'ala. Setelah matahari tergelincir, jutaan manusia kemudian bergegas ke muzdalifah.
Maka dengan peristiwa haji di Tanah Suci, harusnya manusia tidak lagi teracuni dunia bahkan mereka akan semakin zuhud terhadap dunia. Bersyukur mereka dipulangkan lagi ke tanah air, bukan dipulangkan ke alam kubur.
Dengan berhaji, kita akan semakin mentauhidkan Allah. Jangan sampai saat pulang haji masih percaya dukun, mendatangi tempat keramat dan kuburan untuk meminta. Namun, tetap istiqamah melaksanakan ketaatan dan beribadah hanya kepada Allah semata.
Banyak amalan sunnah yang terbiasa dilaksanakan selama berhaji, hendaknya sampai di tanah air tetap diamalkan walaupun sedikit. Disamping lebih memaksimalkan amalan wajib, semakin rajin ke masjid shalat 5 waktu untuk laki-laki, sementara perempuan lebih baik shalat di rumah mereka.
Adapun keutamaan kita senantiasa menjaga amalan sunnah, meskipun sedikit diantaranya adalah:
1. Menyambung hati kita dengan Allah
2. Menjaga kita untuk terbiasa dengan kebaikan, karena jika kita kalah, maka hawa nafsu yang akan membiasakan kita kepada kelalaian
3. Dicintai Allah karena Allah sangat mencintai amalan yang berterusan dilakukan meskipun hanya sedikit
4. Mendapatkan pertolongan dari Allah saat sempit, susah, darurat. Ibnu Abbas berkata, suatu hari aku bersama Nabi berboncengan di atas kuda di belakangan Nabi, lalu beliau berkata, wahai anak muda jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Penjagaan akhirat dan dunia, penjagaan materi dan fisik kita. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, kenalilah Allah ketika engkau senang, lapang, bahagia, niscaya Allah mengenalimu ketika engkau dalam keadaan sempit.
5. Menghapuskan dosa-dosa. Karena kita sering lupa dengan dosa dan lupa minta ampun kepada Allah. Maka amal sholeh yang kita jaga akan menghapuskan dosa-dosa yang terlupa.
6. Khusnul khitimah. Orang yang menjaga kesinambungan ibadah maka dianugerahkan kepadanya khusnul khotimah. Mengucapkan Laailaha ilallah saat akan meninggalkan dunia.
Keutamaan menjaga amalan ini berlaku juga bagi kita yang tidak melaksanakan haji.
Selanjutnya kiat agar tetap bisa menjaga ibadah secara berkesinambungan;
1. Tekat, niat yang kuat untuk menaati Allah dengan ikhlas
2. Tidak berlebih-lebihan dalam beribadah, memaksakan diri dengan ibadah yang tidak sanggup. Terus meneruslah walau sedikit. Lakukan sesuai kesanggupan tetapi jangan ditinggalkan. Ambillah amalan-amalan itu yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan kepada kalian sampai kalian bosan kepada-Nya.
3. Bergaul/berkumpul dengan orang-orang yang baik dan shaleh. Karena orang baik dan shaleh suka menasehati orang yang lalai dan mengingatkan yang lupa. Dalam hal ini, Ustadz menekankan bahwa seorang yang berhaji tidak meski berkumpulnya hanya dengan haji pula, namun orang shaleh pun banyak yang belum berkesempatan naik haji. Memang, terkadang sakit diingatkan, namun ketahuilah bahwa rasa dongkol saat kita diingatkan merupakan hawa nafsu yang mengatakan bermacam-macam celaan kepada orang yang mengingatkan kita, umpamanya kita katakan terlalu mengurusi pribadi orang dan semacamnya. Maka orang yang selalu mengingatkan kita yang patut dijadikan teman. Kalau tidak pun dia nasehati kita, dengan melihat dia semangat beribadah maka kita juga akan bersemangat. Imam Ahmad mengatakan, seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Maka hendaklah seseorang itu melihat siapa yang dijadikan sahabat dan teman dekatnya.
4. Senantiasa memuhasabah, intropeksi diri, menyadari bahwa diri banyak dosa, masih sering lalai atau tidak sempurna. Muhasabah ini perlu dilakukan setiap hari, bukan hanya saat pergantian tahun saja melakukan muhasabah. Saat malam selesai aktifitas maka cobalah merenung apa kebaikan dan keburukan yang dilakukan hari ini, sudahkah membuat orang tua bahagia, berakhlak baik, menyenangkan hati orang, kalau belum niatkan/tekadkan besok dilakukan.
5. Membaca biografi ulama, mulai dari para sahabat, tabi'in, ulama setelahnya, ulama shaleh, semua membantu kita untuk bisa istiqomah dalam ketaatan.
Pelajaran yang bisa dipetik oleh orang yang pulang haji, dimana mereka yang berangkat haji ada yang meninggalkan istri, anak-anak yang disayangi, meninggalkan pekerjaan, ini menyadarkan anda cepat atau lambat anda akan berpisah dan meninggalkan mereka semua.
Mengapa kita kuat meninggalkan mereka, karena kita ingin dekat dengan Allah. Begitu pula saat kita akan meningal dunia, kita akan tinggalkan mereka dan tidak akan kembali lagi kepada mereka.
Jamaah haji di tanah suci juga diuji, mereka ada yang sakit, bertengkar suami istri, tersesat, kehilangan harta, demikian juga perjalanan kita menuju kepada Allah akan ada ujian dan cobaan. Semakin kuat ketaatan maka semakin berat ujian dan cobaan.
Setelah menyampaikan materi dengan durasi waktu lebih kurang 2 jam, ustadz membuka sesi tanya jawab hingga menjelang Zuhur. Banyak pertanyaan yang masuk seputar haji. Seperti pertanyaan mahrom dalam berhaji. Ustadz menjelaskan bahwa pentingnya mahrom karena banyak sudah kejadian yang buruk akibat seorang wanita yang berangkat haji tanpa mahrom.