PEKANBARU, datariau.com - Ustadz Abuz Zubair Hawaary menjelaskan keutamaan kuda dan berkuda sesuai apa yang tertulis di dalam Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Shallahu 'alaihi wa sallam.
Pemaparan ini disampaikan beliau hafidzahullah dalam dauroh ilmiah Islam bertema "Kuda dan Berkuda dalam Al Qur'an dan Sunnah" yang digelar di Masjid Imam Ibnu Katsir Riau, komplek Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir yang beralamat di Jalan Belidang, Muara Fajar Rumbai Pekanbaru, Ahad (16/10/2016).
Kepada ratusan jamaah yang hadir dalam dauroh yang dimulai pukul 10.00 hingga pukul 12.00 WIB ini, ustadz menyampaikan bahwa agama Islam menyukai umatya yang sehat dan kuat. Mukmim yang kuat lebih dicintai oleh Allah Subahanahu wa ta'ala dari pada mukmin yang lemah, namun keduanya ada kebaikan.
Agar seorang mukmin itu kuat, adalah dengan cara berolahraga. Dan olahraga yang sangat dianjurkan oleh agama yakni berkuda. Mengapa demikian? Berikut ringkasan materi yang disampaikan Ustadz Abuz Zubair.
Keutamaan kuda berada pada memeliharanya, beternak, dan mengendarai/menunggang kuda dan tertulis di dalam Al Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam.
Ayat Al Qur'an yang menceritakan keutamaan kuda di antaranya disebutkan Allah dalam beberapa ayat;
1. Ali Imron ayat 14:
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."
Kuda disebutkan khusus dan tidak dicampurkan dengan kata-kata hewan ternak. Ini menandakan kuda memiliki keutamaan. Demikian pula kuta tidak boleh menjadi hewan qurban namun dagingnya boleh dimakan.
2. Al Qur'an Surat Al 'Adiyat:
(1) Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah,
(2) dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya),
(3) dan kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi,
(4) sehingga menebangkan debu,
(5) lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
(6) sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya.
(7) dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya,
(8) dan sesungguhnya kecintaannya kepada harta benar-benar berlebihan,
(9) Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan,
(10) dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan,
(11) Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka.
Dalam surat ini, Allah bersumpah atas nama kuda. Dalam Al Quran, Allah tidak akan bersumpah dengan hewan jika tidak ada kemuliaan terhadap makhluk kewan tersebut.
Diceritakan dalam ayat tersebut bagaimana kuda berlari kencang, kuda Arab yang paling kencang mencapai 80 kilometer per jam. Dan di sejarah perjuangan para pejuang Islam, di punggung-punggung kuda mereka berjuang, menyebarkan Islam.
Kuda yang memancarkan api, itu dihasilkan dari sepatu apabila kuda dipacu dengan kecepatan. Di surat ini pula Allah menceritakan kuda-kuda di medan perang.
Banyak lagi ayat al-Qur'an yang menceritakan tentang keutamaan kuda seperti surat Al Anfal, Az-Zumar, Sulaiman, dan lainnya.
Keutamaan kuda juga dijelaskan dalam hadits-hadits shahih, kebanyakan disampaikan ustadz dalam materinya yakni hadits Imam Bukhari.
Seperti yang diceritakan, sahabat Nabi suatu malam membaca surat Al-Kahfi di sampingnya ada kudanya. Kemudian ada awan semakin mendekat, kudanya ribut dan gelisah. Keesokan harinya dia datangi Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam. Kata Nabi, itu adalah malaikat yang mendengar bacaan al-Quran.
Riwayat ini menjelaskan bahwa kuda bisa melihat malaikat dan makhluk ghaib. Bahkan diceritakan pula bahwa zaman dahulu ketika ada kuda yang sakit perut, dimana sakit kuda yang paling berbahaya dan bisa mematikan adalah sakit perut atau kembung, maka pemiliknya membawa kuda yang kembung itu ke kuburan para kafir, sehingga kuda-kuda itu berlarian dan keluar kotoran serta terkentut akhirnya kembungnya hilang. Kuda ketakutan mendengar kafir diazab di dalam kuburnya.
Dalam hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, barang siapa yang memelihara kuda diniatkan untuk jalan Allah dan mengimani perintah tersebut, sesungguhnya setiap memberi makan dan minum, kotoran kuda itu menjadi timbangan kebaikan baginya di hari kiamat.
Rasulullah juga menjelaskan bahwa ada tiga golongan kuda; 1. Kuda jadi dosa, 2. Kuda jadi penopang, 3. Kuda jadi pahala.
Dijabarkan ustadz;
1. Kuda jadi dosa yaitu kuda yang dipeliharanya karena riya, berharap dipuji manusia atau untuk memusuhi islam. Maka itu menjadi dosa.
Kuda 30 tahun usianya masih bisa dipakai asal dirawat dan dijaga. Maka ketika kita memiliki kuda dan menaikinya akan gagah dan sangat rawan sombong.
2. Kuda penopang yakni orang yang memelihara kuda dan diniatkan untuk di jalan Allah. Hak Allah pada kuda tersebut tidak dilupakan.
Ulama menjelaskan apa hak-haknya kuda yaitu memeliharanya, memberi makan, dan kuda tidak ada zakatnya.
3. Pahala. Sesorang memelihara kuda untuk islam maka berapa rumput dimakan kuda sebanyak itu pula pahala. Pahala sebanyak kotoran dan kencing kuda dan setiap kuda melangkah/berlari akan dicatat sebagai kebaikan. Pahala juga sebanyak air diminum kuda.
Selanjutnya dalam beberapa hadits juga disampaikan bahwa kuda akan ada sampai hari kiamat, bahkan di hari akhir zaman manusia akan kembali memanfaatkan kuda. Bahkan perperangan di akhir zaman nanti akan menggunakan kuda.
Kuda juga diberikan kesempatan oleh Allah berdo'a di sepertiga malam, doanya yaitu; "Ya Allah, Engkau serahkan aku kepada salah seorang bani Adam dan Engkau jadikan aku untuknya (dan jadikan rizkiku melalui anak Adam itu) ya Allah jadikanlah aku bagian dari harta dan keluarga yang dicintainya."
"Alhamdulillah sejak saya memelihara kuda, sehari tidak melihatnya tidak enak. Maka saya letakkan 1 kuda di belakang rumah saya, ini mungkin dikarenakan doa kuda tersebut," sebut Ustad Abuz Zubair.
Kalau kita baca sejarah, Rasulullah sering berpuasa karena tidak ada yang bisa dimakan, namun Rasulullah ternyata memiliki 6 ekor kuda. Beliau hidup sederhana tapi memiliki 6 kuda. Hanya 1 yang dibeli seharga 10 dinar dari seorang Arab Badui dan selebihnya dihadiahkan orang lain kepadanya. Seluruh kuda Nabi memiliki nama.
Rasulullah juga menyebutkan tanda-tanda kuda yang baik, belilah kuda berwarna hitam mengkilat, kemudian ada bercak putih di wajahnya, kaki dan tangannya berwarna putih. Tangan kanannya tetap hitam. "Kalau kamu beli itu berperang kamu menang."
Kalau tidak bisa maka cari yang warna cokelat kemerah-merahan yang juga memiliki warna putih di wajahnya dan kaki tangannya, namun tangan kanannya tetap kemerahan.
Ada pula jenis kuda yang tidak disukai Rasulullah, yakni Rasulullah tidak suka kuda yang memiliki warna kaki kanannya ada putih, tangan kiri putih, bersilang.
Apa sebabnya, barang kali dari hasil pengalaman tidak baik sifat dan karakternya.
Selain tanda yang disebutkan Rasulullah melalui hadits shahih tadi, maka kuda lainnya dengan tanda selain yang disebutkan Rasul adalah baik.
Dengan banyaknya keutamaan kuda dan berkuda, maka sebagai umat Islam hendaknya menyadari hal itu, dan menjaga sunnah berkuda, selain olahraga yang bermanfaat juga menegakkan sunnah dan berpahala.
Berkuda bisa melatih kepemimpinan, psikologi dan menjaga kesehatan. Bahkan sejak orang non-Islam mengetahui manfaat dan keutamaan kuda, mereka kini telah menggalakkan olahraga kuda dan membanggakan diri dengan kuda.
Memelihara kuda, kata ustadz juga tidak memerlukan biaya mahal. Demikian pula, olahraga berkuda juga bukan olahraga mahal.
Di Pesantren Imam Ibnu Katsir Riau ini pun disediakan beberapa ekor kuda. Masyarkat kota Pekanbaru dan Riau yang ingin berlatih berkuda maupun membeli kuda, bisa berkunjung ke pondok pesantren Imam Ibnu Katsir.