Atas Perintah Bupati, Balita yang Mengalami Perut Membesar Akhirnya Dirawat di RSUD Indrasari Inhu

datariau.com
3.503 view
Atas Perintah Bupati, Balita yang Mengalami Perut Membesar Akhirnya Dirawat di RSUD Indrasari Inhu
Heri
Kondisi bayi yang menderita penyakit pembesaran pada perut.

RENGAT, datariau.com - Bupati Inhu H Yopi Arianto SE kembali bergerak cepat untuk menolong warga yang sakit. Tidak butuh waktu lama, begitu mendapat kabar, Bupati Inhu langsung merespon dan intruksikan kepada keluarga untuk membawa si sakit ke RSUD Indrasari. Dalam pekan ini sudah dua kali bupati Inhu membantu warganya yang sakit.

 

"Sampaikan kepada pihak keluarga Najuah Fitri, malam ini atau besok pagi untuk dirawat di RSUD Indrasari Pematang Reba, dan setalah itu jumpai Dirut RSUD dan Kepala Dinas Kesehatan Inhu," sebut Bupati Inhu H Yopi Arianto kepada datariau.com, Rabu (22/3/2017) sekitar pukul 18.39 Wib melalui selulernya.

 

"Bilang kepada mereka ini perintah saya, dan bila ada kendala cepat kasih tahu saya, secepatnya," tegas Bupati.

 

Saat disinggung mengenai biaya untuk menunggu untuk operasi di Jakarta, Bupati mengaku akan memikirkannya nanti, karena yang terpenting saat ini si sakit bisa segera mendapatkan perawatan dengan baik dan layak dari tenaga medis.

 

"Nanti kita pikirkan dan kita cari solusinya bersama, yang penting si sakit segera ditangani dulu dengan medis," pungkasnya.

 

Sebelumnya diberitakan, Najuah Fitri berusia 7 bulan warga RT 05, RW 03 Desa Candi Rejo Kecamatan Pasir Penyu Kabupaten Inhu, Riau, sejak dua bulan terakhir ini hanya bisa berbaring dengan posisi telentang. Hal ini disebabkan oleh kondisi perutnya yang terus membesar. 

 

Sesuai diagnosa dokter di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, anak pasangan Sugeng Fitriadi (45) dan Ngatemi Rastini (39) ini mengidap penyakit gagal hati dan harus dioperasi di Rumah Sakit spesialis di Jakarta.

 

Ketika ditemui di kediamannya, ibu Ngatemi menceritakan sakit yang diderita anak ketiganya tersebut, dimana diketahui ada kelainan sejak 1 bulan setelah dilahirkan. Khawatir dengan kondisi anaknya saat itu, sempat dilarikan ke RSUD Indrasari Rengat. Bahkan sekitar 10 hari dirawat, kondisi tubuhnya yang menguning mulai membaik.

 

Hanya saja berselang beberapa bulan kemudian, kondisi anaknya semakin memburuk. Setelah dilakukan konsultasi dengan dokter anak, diduga mengidap penyakit penyumbatan empedu.

 

"Sekitar awal bulan Oktober lalu dirawat selama 5 hari di RSUD Indrasari Rengat dan dirujuk ke RSUD Arifin Ahmad," ujar Ngatemi kepada datariau.com, Rabu (22/3/2017).

 

Ketika berada di RSUD Arifin Ahmad dari hasil diagonosa dokter juga menyebutkan bahwa anaknya mengindam penyakit dan dilakukan operasi oleh tim dokter RSUD Arifin Ahmad.

 

"Oprasi itu hanya untuk mengetahui penyakit yang diderita anak saya, ternyata tidak menderita penyumbatan empedu, tetapi gagal hati," ungkapnya lagi.

 

Melalui saran dokter di RSUD Arifin Ahmad, anak ini harus dioperasi di RS Jakarta. Karena sejauh ini pelayanan operasi cangkok hati atas penyakit gagal hati yang dialami anak ini belum bisa dilakukan di RSUD Arifin Ahmad.

 

"Kata dokter RSUD Arifin Ahmad, operasi untuk cangkok hati itu baru bisa dilakukan ketika umur 9 bulan, sementara itu perut anak saya dalam dua bulan ini semakin membesar, dan untuk biaya saya sudah tidak mampu lagi," paparnya.

 

"Untuk biaya berobat bisa ditanggulangi oleh BPJS, sedangkan biaya hidup selama 2 bulan saat operasi di Pekanbaru saja saya sudah kocar-kacir," keluhnya dengan penuh rasa sedih.

 

"Dari beberapa keterangan yang saya peroleh, biaya yang bisa ditanggung BPJS untuk perobatan hanya maksimal Rp250 juta, sedangkan dari hasil informasi untuk operasi cangkok hati itu mencapai Rp900 juta, itu saya baca di google belum lama ini, dan rasanya mustahil saya berangkat ke Jakarta dengan kondisi ekonomi yang tidak memadai seperti ini," keluhnya lagi.

Penulis
: Heri
Editor
: Adi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)